
Beberapa hari setelah itu, Dimas memutuskan untuk mengenal Gea, lebih dekat lagi.
Dia pun mencabut semua berkas Gea dari tempat pengasingan, karena Dimas ingin merubah Gea dengan caranya sendiri, layaknya Leo yang berjuang menjadikan Risa lebih baik dari sebelumnya.
" Mama...dimana Gea?" Tanya Dimas. dia yang saat itu baru turun dari lantai atas, berjalan mendekati sang ibunda yang tengah bersantai di depan televisi. " Kenapa sepi sekali?"
" Gea sedang keluar sebentar, katanya ingin membeli sesuatu."
Dimas menghempaskan tubuh di dekat ibundanya, kepala bersandar pada bahu sofa, dengan sedikit mendongak melihat langit-langit rumah.
Fita melihat wajah putranya dengan berbagai pemikiran. Bagi seorang ibu bisa merasakan apa yang saat ini di alami anaknya, meski beliau tidak tau isi hati dari anaknya, tapi beliau bisa merasakannya.
" Putraku..." Tatapan Fita seolah meyakinkan sesuatu hal. " keputusan kamu sudah tepat. Jangan terlalu memikirkan hal berat lagi, karena hubungan kalian, segera berlabuh di pelaminan."
" Iya, Ma. Tapi saat ini aku masih mencari jalan..."
__ADS_1
Fita mengernyitkan dahi. " Jalan apa yang kamu maksud?"
Dimas menatap ibundanya.." Jalan dimana aku tidak akan berbelok ke lain hati, karena aku sadar, hubungan ini belum sepenuhnya di dasari atas rasa cinta." Jelasnya sembari mengulas senyum di bibirnya.
" Semua akan ada masanya. Masa dimana kamu jatuh cinta pada Gea." Fita menepuk pundak Dimas, lalu bergegas pergi. Sebenarnya dia pergi, karena tidak ingin mendengar lebih banyak keluhan dari putranya tersebut sebab, dirinya juga merasakan sakit yang amat dalam. Tatapan mata Dimas masih mencerminkan cinta luar biasa kepada seseorang, dialah Alexa. Bagi Dimas menggantikan cinta di mata dan dihatinya, tidak akan mudah sebab, semua jiwa raganya telah di kunci oleh cinta suci Alexa.
Setelah Fita meninggalkan dirinya do ruang tamu, segera dia bangkit lalu menuju teras rumah. " Sepertinya aku butuh udara segar." Sembari berjalan menuju samping Rumah. Di tempat itu, dia melihat ada dua burung merpati. " Merpati ini berasal dari mana? kenapa ada di sini? siapa pemiliknya?" Dengan terheran-heran, Dimas mencoba mendekati kedua burung tersebut.
" Sepertinya mereka jinak." Dia pun mengusap kepala salah satu merpati itu. " Kamu tersesat?"
" Lily..." Dimas terkejut, saat dia melihat sosok wanita yang sangat dia kenal. " Siapa dia?"
" Aku kira kamu lupa dengan ku. Dia adalah putra ku, Gilang." ucap Lily sembari mendekatkan putranya. " Sayang, beri salam."
Anak kecil tersebut mencium tangan Dimas...
__ADS_1
" Salam kenal paman. Aku dan Mami baru pindah, jadi bolehkan aku meminta kembali merpati ku lagi?" Wajah polosnya mengingatkan pada dirinya semasa kecil.
" Oh, tentu saja boleh." Di berikan lah dua merpati itu.
" Mami, Gilang pulang dulu, mau kasih makan mereka."
" Iya, sayang."
Setelah anak kecil itu pergi dari sana, Lily duduk di samping Dimas. " Apa kabar kamu sekarang?"
Dimas menatap wajah Lily, yang dulunya juga pernah menjadi kekasihnya. Namun hubungan mereka tidak berlangsung lama, ketika Lily menyadari bahwa, dirinya hanya di jadikan pelarian dari kegelisahan Dimas kala itu.
" Aku baik. Bagaimana dengan kamu?"
Lily mengembangkan senyum, sembari berpaling pandang. " Seperti yang kamu lihat saat ini, aku masih baik-baik saja, tanpa kamu."
__ADS_1
Dimas merasa ada satu kata tersemat di dalam kalimat tersebut, akan tetapi dia tidak ingin membahas lebih jauh lagi.