
" Mami...." Teriak seorang anak yang tengah di gendong Ayah kandungnya.
Melihat itu, Lily merasa nyaman dan bagaikan keluarga bahagia.
" Sayangnya, mami. Lain kali tidak boleh bicara kasar sama mama baru kamu itu, ya."
" Gilang kasar sama mama?" Tanta Dimas.
Gilang mengangguk dan menundukkan kepala, takut ayahnya marah.
" Iya. Soalnya dia itu orang jahat." Ucapnya dengan memberanikan diri menatap mata ayahnya.
" Tidak ada orang jahat jika kamu tidak melihatnya seperti itu. Coba kenali Mama dengan hati dan perasaan, pasti kamu akan tau bahwa mama adalah orang baik." Ucap Dimas.
Lily merasa kesal saat putranya hampir di hasut oleh ayahnya sendiri. Bagi Lily, Gea adalah benar seorang jahat yang mengambil alih hati Dimas darinya dan putra mereka. Pemikiran Lily sampai sedangkal itu karena rasa cinta terhadap Dimas di abaikan begitu saja. Bahkan sejak pertama kali mereka mengenal, Dimas hanya menjadikannya pelampiasan Hasrat diri tanpa melihat hal lain darinya. Saat ini Lily sangat terpukul melihat semua kenyataan yang sangat menyakitkan itu.
" Kenapa kamu mempengaruhi anak kamu sendiri demi membela dia? bukankah Gea memang wanita tidak baik, bukankah dulu dia seorang narapidana? lalu butuh bukti apa lagi." Ketus Lily yang mana pada saat itu tidak mampu membendung perasaannya.
Dimas meminta Gilang pergi dari sana...
__ADS_1
" Bicara apa kamu?" Dimas mendekati Lily dengan mencengkeram dagunya sampai wajah Lily sedikit mendongak ke atas.
" Wanita yang kamu sebut narapidana adalah istriku. Tapi, dia jauh lebih baik dari pada kamu. Orang baik tidak akan menjelekkan yang lainnya hanya demi mendapat simpati. Seperti apa pun masa lalu Gea, tidak akan membuatku berpaling darinya karena setiap orang punya masa lalu." Jelas Dimas dengan semakin mencengkeram dagu Lily.
" Lepaskan dia...." Tiba tiba saja Raka datang dan melepas tangan Dimas dari istrinya.
" Kenapa kamu kasar terhadap istriku? dia adalah ibu dari putramu dan kakak Iparmu. Hormati dia layaknya seorang lelaki dewasa." Ketus Raka seraya melindungi diri Lily dengan memeluknya erat.
" Kenapa sih, mas? ada apa dengan kalian?" Tanya Gea yang saat itu juga menyaksikan perdebatan keduanya.
" Tanya saja sama kakak ipar kamu ini..." Dengan kesal Dimas membawa Gea pergi menjauh dari tempat mereka berada sebelumnya.
Dimas memilih membawa Gea pulang menuju Apartemen mereka karena jika mereka memaksakan ada di acara itu lebih lama takutnya Dinas kehilangan kendali.
Dimas masih fokus dengan stir kemudi dan sat tangan berusaha menggapai tangan istrinya..
Dengan nada berat Dimas pun menceritakan awal mula perdebatan mereka.
" Aku tidak terima kamu di rendahkan oleh siapa pun termasuk dia. Coba saja jika tadi aku menceritakan ini sama bang Raka, pasti Lily akan di hajar habis olehnya." Segera Dimas menepikan mobilnya lalu menatap wajah istri tercintanya.
__ADS_1
" Kamu adalah berharga untukku, harga diriku, dan nafas di hidupku, jadi tidak ada yang boleh menghina kamu karena itu bisa menyakiti aku." Di sentuhlah wajah Gea, saling berhadap muka dan perlahan Dimas mendekatkan wajahnya.
Cup....
Satu kecupan manis di kening Gea, membuatnya tersipu malu. Gea yang tadinya muram merasa bersemangat kembali.
" Terima kasih, mas." Merasa haru sampai Gea pun memeluk erat tubuh suaminya.
" Kita adalah satu dan selamanya akan seperti itu. Maafkan aku yang telah memberimu banyak rintangan dalam hidup. Andai waktu itu aku tidak melakukan kesalahan, pasti langkah kita tidak terhambat seperti sekarang ini" Lirih Dimas dengan mencium pundak mungil istrinya.
" Jika kamu menyesali kehidupan lalu, itu artinya kamu juga menyesali pertemuan kita ini, mas?"
Sontak Dimas melepas pelukan Gea dengan melempar pandang...
" Maksud kamu?"
" Jika kamu tidak terjebak dalam masa lalu maka kita tidak akan pernah bertemu, dan mungkin aku masih menjadi wanita yang jahat seperti dulu." Jelas Gea melebarkan senyum.
Senyum Gea membuat hatinya dingin setelah di kuasai oleh api amarah yang masih berkobar.
__ADS_1
" Gea...." Dimas menatap tajam mata Gea dengan meraih dagunya lalu perlahan mendekatkan bibir.
Dalam sekejap mereka bercumbu, beradu dalam gulatan cinta, berpusar dari satu rasa.