
Jam menunjukkan pukul 10:00 waktu setempat, Gilang sudah bersiap dengan pakaian rapi hendak menghadiri meeting di sebuah resto. Semalam suntuk dia tidak tudur, jadi dia memutuskan turun hendak minum kopi sejenak. Rapat di gelar pukul 11:30 jadi dia masih ada kesempatan sekedar minum kopi dan sarapan. Ketika melintas di depan kamar Olive, ia pun membuka pintu kamar Olive.
"Astaga, kenapa dia tidur telungkup seperti itu" Gilang menghampirinya, di lihat tubuh Olive masih di lilit selimut putih. "Maafkan aku karena telah memaksamu..." Di sentuhlah kepala Olive sambil menyibakkan rambut yang menutupi sebagian pipi "Andai kamu juga tau sakitnya saya selama ini, saya selalu merindukan kamu setiap waktu. Hidupku hancur kala kamu tidak lagi ku lihat. Maaf, Saya telah melakukan hal buruk padamu, hal yang tidak kamu kehendaki. Maafkan aku, sayang (Di ciumlah kepala Olive) saya juga tidak tau kamu berjuang sendiri demi anak kita sampai kehilangan anak sebelum dia terlahir ke dunia ini."Setelah sesaat terdiam meratapi apa yang terjadi, Gilang juga hendak membalikkan badan Olive. Namun, ketika hendak membalikkan badan, Olive terbangun "Aaaaa......Mau apa kamu? Pergi kamu" Olive ketakutan melihat Gilang berada di dekatnya. Segera ia menjauh dari Gilang.
"Percuma kamu tutupi saya sudah melihat semua bagian tersembunyi itu..."
Olive mengeratkan kedua tangannya pada sebuah bantal yang ia peluk "Kamu adalah laki laki paling egois yang pernah saya temui. Pergi kamu...." Di lemparlah batal tepat ke wajah Gilang.
__ADS_1
Gilang menerima semua yang di lakukan Olive karena dia menyadari perbuatannya sangat melukai Olive. Ketika wajahnya terkena pukulan bantal, matanya terpejam. "Lakukan sepuas yang kamu suka sampai saya bisa menebus semua kesalahan saya"
Ucapan Gilang membuat Olive menangis "Kamu harus tau, sebesar apa pun kamu menebus kesalahan itu, kamu tidak akan pernah bisa, sekali pun dengan nyawa kamu. Jika dengan kamu mati bisa mengembalikan anakku, maka aku akan menukar kamu dengan anakku. Aku mau kamu yang mati bukan dia" Isak tangis Olive terdengar nyaring di telinga.
Seharusnya Gilang marah dengan ucapan Olive namun, dia malah merasa sedih. Kakinya terasa lemas, hatinya sakit. Ia pun duduk di tepi ranjang sambil menundukkan kepala. Air matanya perlahan mengalir "Jika saya bisa menukarnya maka saya akan lakukan..."
"Lakukan saja, hidup pun kamu tidak ada gunanya. Kamu hanya membuatku semakin terluka. Ingatan itu selalu menyiksaku. Hadirmu adalah luka bagiku, dan kepergianmu adalah bahagia untuk ku" Karena emosinya terlalu tinggi Olive tidak bisa mngendalikan ucapannya. Sampai Gilang merasa sangat terluka.
__ADS_1
"Jangan bilang seperti itu...." Gilang menggapai badan Olive lalu memeluknya.
Hik hik hik...
"Lepaskan saya....(Sambil meronta dengan beberapa kali memukul dada Gilang) saya sangat benci kamu, sangat, sangat, benci" Air matanya terlalu banyak di habiskan saat ini. Gilang ikut menangis merasakan sakitnya hati Olive.
Beberapa kali Olive terus meronta dan memukuli badan Gilang, hingga akhirnya perlahan Olive tenang. Tapi, ia masih menangis di pelukan Gilang. Gilabg hanya bisa terdiam dengan jangtung berdebar kencang sebab rasa bersalahnya. Olive masih terisak. "Sudah, kamu tenang. Istirahat dulu, biar saya menghendel meeting hari ini."Gilang merebahkan tubuh Olive di ranjang. Setelah itu Gilang membuka koper mencarikan pakaian Olive lalu memberikan padanya "Pakai baju dulu terus istirahat. Nanti biar saya suruh bibi antar sarapan ke sini" Gilang pun keluar.
__ADS_1