HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Sebelum Alisya kembali ke kamar, Gilang lebih dulu kembali ke dalam kamar, ia segera berbaring di atas ranjang, berpura tertidur dengan menutup sebagian diri dengan selimut tebal. Tak berapa lama terdengar suara pintu terbuka, segera Gilang memejamkan mata. Suara langkah kaki terdengar semakin mendekatinya, sentuhan kain terasa di lengan kanannya, pasti saat ini Alisya ada di dekat Gilang.


"Pasti mas sangat lelah seharian kerja..." Lirih Alisya lembut, ia duduk di tepi ranjang menarik selimut sampai menutupi bagian dada sang suami. Rasa cinta seorang istri tidak bisa di sandingkan dengan cinta dari yang lainnya, meski kerap kali cinta itu di abaikan. Tulusnya perhatian dan kasih sayang memupuk rasa saling mengasihi, namun berbrda dengan Gilang. Mata hatinya tertutup rapat seolah buta atas apa yang di lihat.


"Tuhan telah mengirim kamu dalam kehidupanku mas, meski kamu tidak menghendakinya. Andai kita hanya berjodoh singkat maka aku bersyukur karena telah menjadi makmum dalam kehidupan mu meski hanya beberapa waktu saja. Jika memang Tuhan inginkan kita berpisah akan ku lepas dengan bismillah. Dan jika Tuhan menakdirkan kita bersama untuk selamanya sujud sukur, Alhamdulillah" Lirih Alisya sambil memandangi wajah suaminya yang ia anggap sudah tertidur pulas.


"Dalam sadar mu tidak pernah kau ijinkan tangan ini menyentuh mu, tapi ijinkan dalam lelap mu untuk ku usap wajah mu" Perlahan Alisya menyentuh wajah suaminya, tak lupa belaian lembut di bagian pelipis mata. Tangan lembutnya membuat Gilang merasa sedikit risih dan hampir membuka mata.


Drtttt...


Di lihatnya layar ponsel dengan nama Abi tengah menelepon dan juga ada beberapa pesan whatsapp dari umi dan abi. Setelah melepas cadar segera Alisya meraih ponselnya kemudian dia menuju balkon kamar.


"Kalau saja kamu datang sebelum saya mencintai dia pasti ceritanya tidak akan seperti ini" Ujar Gilang saat melihat punggung istrinya dari kejauhan.

__ADS_1


Di sisi lain Damar tengah duduk di samping Olive yang sudah tertidur. Tatapan mata tak lepas dari wajah sang istri "Kenapa harus kau sembuhkan luka di hati ini kalau hanya akan menambah perih. Sakitnya luka dalam hati ku sengaja kau siram air lemon hingga membuat sakit tiada tara"


Damat yang belum sempat berganti pakaian hanya bisa terduduk pasrah menunggu sang istri. Senelumnya Mbok Inah sudah membawakan baju ganti untuknya, tapi ia tidak mau memakainya.


"Aden...." Tiba tiba saja sebuah tangan menyentuh pundaknya, itu adalah tangan Mbok Inah.


"Aden makan dulu mbok sudah bawakan makanan, dari tadi siang Aden sibuk mengurus non Alisya sampai belum sempat makan" Mbok Inah membawa makanan kesukaan Damar.


Damar menggelengkan kepala "Saya tidak nafsu makan, Mbok" Sambil beralih pandang ke arah Olive "Semua tidak akan terjadi seperti ini kalau saya tidak meninggalkan dia"


"Lebih baik Aden makan dulu, jangan sampai Aden sakit. Kalau sampai Aden sakit siapa yang akan menjaga Non Olive dan juga banyak orang sakit di luar sana butuh peetolongan Aden. Yakinlah, tidak akan ada sebuah penyakit tanpa adanya penawar, tidak akan ada rasa sakit tanoa adanya hikmah di kemudian" Layaknya seorang ibu Mbok Inah menasehati Damar sampai ia mau makan.


"Tapi Mbok..."

__ADS_1


"Mbok mohon Aden makan dulu atau Mbok juga tidak akan makan malam" Ancam Mbok Inah.


"Jadi Mbok Inah belum makan?"


Mbok Inah mengangguk.


"Kalau begitu kita makan bersama"


"Aden makan dulu saja, Selesai Aden makan baru simbok makan" Ujarnya sembari menyiapkan makanan untuk majikan tersayang.


Melihat sosok wanita paruh baya yang selalu menemaninya dalam senang, susah, dan duka membuat Damar terharu sampai kedua matanya berkaca kaca "Terima kasih Mbok sudah menjaga ku selama ini..."


Mendengar ucapan Damar membuat hati Mbok Inah ternyuh, selama ini mbok Inah telah menganggapnya seperti anak sendiri dengan tulus dan kasih sayanh penuh. Kini bocah kecil yqng sering ia timang sudah tumbuh dewasa, hingga di tuntut menjadi sosok pribadi yang kuat.

__ADS_1


Mbok Inah menyambut pelukan Damar sambil terus mengusap kepalanya.


Tuhan, tolong berikan kebahagiaan pada den Damar seperti dahulu kala. Jangan kau pisahkan mereka.


__ADS_2