
"Dia sedang bicara dengan siapa?." Risa keluar dari kamar mandi lalu mendengar suara, ia mendekati arah suara tersebut.
"Kalau begitu aku tunggu kedatangan kamu, jangan lupa hati-hati. dah..." ucap Leo pada seseorang yang saat ini sedang dia telpon.
"Siapa ?." Keluarlah Risa dengan menampakkan raut wajah garangnya.
"Maksud kamu?." Leo kembali melemparkan pertanyaan yang seharusnya di tujukan kepada dirinya, sebenarnya Leo sudah mengetahui jika Risa mendengarkan pembicaraannya, namun dia hanya ingin menggoda sedikit wanita yang saat ini resmi menjadi kekasihnya itu.
"Dia, yang kamu telpon tadi?." Kesal Risa.
"Tentunya dia seseorang yang istimewa!." Ucap Leo sembari melangkah meninggalkan Risa.
"Dasar pincang." lirih Risa.
Tak lama ia mendekati Leo yang bersandar pada bahu ranjang.
"Leo, dia siapa?." Risa menghuyung lengan Leo.
"Aw...." Leo meringis kesakitan.
"Astaga, maafkan aku, aku tidak sengaja melakukan itu." Risa hampir menangis melihat kekasihnya tengah meringis kesakitan.
"Dasar cengeng! begitu saja kamu sudah mau menangis, apalagi nanti kalau kita jauh?." Leo mengacak Rambut Risa.
__ADS_1
"Jadi kamu mengerjai aku? awas saja kamu." Kesal Risa, wajah cantiknya berubah menjadi manyun.
"Jangan manyun seperti itu, jelek tau!." Leo menyentuh dagu Risa dengan sedikit di angkat keatas hingga kini wajah Risa tepat berada di depan matanya.
saat Leo hendak mendekatkan bibirnya, tiba-tiba dia kembali terbayang wajah Criztine beserta senyumannya.
"Maaf..." Leo sedikit mendorong tubuh Risa.
Tentunya saat ini Risa merasa sakit hati, sebuah harapan yang ingin Leo tunjukkan seketika sirna saat kembali mengingat bayangan masa lalu wanita yang sangat dia cintai.
"Kalau begitu aku keluar dulu..." Ucap Leo, dengan kaki pincang Leo keluar kamar.
"Kenapa aku kembali mengingat dia? apakah jika tidak dengan dia aku tidak bisa melakukan itu?." Leo merasa sangat bersalah, ada niat untuk melupakan Criztine, akan tetapi bayangan itu selalu menghampiri dirinya.
Tak berapa lama datanglah seorang wanita setangah baya tersebut.
"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?."
"Buatkan saya secangkir kopi." Perintah Leo.
"Baik Tuan." Bibi tersebut kembali ke dapur untuk membuatkan kopi kesukaan sang majikan.
"Silahkan Tuan..." Secangkir kopi sudah tersedia di hadapannya.
__ADS_1
"Maaf Tuan, kamar tamu sudah saya bereskan."
"Terima kasih, nanti aku akan memberitahu dia." ucap Leo.
"Kalau begitu saya permisi tuan."
Leo hanya mengangguk, ia kembali teringat atas apa yang baru saja ingin dia lakukan.
Saat ini Risa pasti kecewa terhadapku, semua ini salahku. kenapa aku tidak bisa melupakan dia.
Sudah begitu lama Leo berada di sana, semua hal berkecamuk di dalam otak....
hingga dia memutuskan untuk kembali ke kamar, Perlahan Leo membuka pintu, di lihatnya tubuh Risa yang terlelap di atas ranjang miliknya.
"Biarkan dia tidur bersamaku malam ini." Lirih Leo sembari mendekati Risa.
"Maafkan aku..." Leo mengecup kening Risa, tak lupa dia menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya.
Leo merebahkan tubuhnya di samping Risa, di lihatnya wajah manis sang kekasih.
ada perasaan yang sulit untuk di jelaskan, akan tetapi Leo memutuskan untuk membangun sebuah mahligai cinta bersama dengan Risa.
"Terima kasih, kamu sudah menjaga diriku dengan baik. aku mohon maaf jika aku belum bisa melakukan itu, karena sejujurnya bukan kamu tidak pantas untukku, melainkan aku butuh waktu untuk melupakan bayangan Dia di hidupku ini. bersabarlah sayang." Leo menyibakkan rambut Risa yang terurai indah.
__ADS_1
"Selamat malam kekasihku." Kembali Kening Risa di cium olehnya.