
Mbok Inah berusaha memahami hati Olive saat ini, sesama wanita dia tau bagaimana ketakutan itu menghantui dalam setiap detik kehidupan. Di tambah lagi belum lama ini Olive di terpa isu miring atas perselingkuhannya dengan laki laki kaya raya, lebih tepatnya di perkos*.
"Non jangan....." Tiba tiba saja Olive hendak melepas jarus infus di tangannya, hingga Mbok Inah segera menghentikannya dengan memeluk Olive.
"Jangan hentikan saya, Mbok. Saya mau mati saja dari pada hidup menderita seperti ini" Air mata tak mampu di bendung lagi.
Tanpa di sadari ada dua mata menatap ke arah mereka, tatapan kosong dari ruang hati yang kosong. Dengan perlahan langkah kakinya mendekati kedua orang saling berpelukan itu.
"Assalamualaikum...."
Seketika mereka melihat sosok gadis dengan pakaian syari dan cadar warna ungu senada dengan pakaiannya.
"Waalaikumsalam" Ucap Mbok Inah.
"Bolehkah saya bicara dengan Mbak Olivia?"
__ADS_1
Mbok Inah segera pergi setelah Olive memberi kode dengan mangangguk kepala.
"Saya ini..."
"Istri Gilang, Bukan? saya sudah mengenal kamu, apa yang ingin kamu katakan" Ucap Olive berterus terang. Kedatangan Alisya secara tiba tiba membuat Olive belum sempat menyeka aor matanya, dan kini ia hendak menyapu sisa air mata itu.
"Pakai ini...." Alisya mengeluarkan tisu dari saku gamis panjangnya.
Olive maraihnya lalu mengusap kedua pipi.
Olivia nampak memandang kedua mata Alisya, tidak ada celah sedikit pun terlihat kecuali kedua mata dan telapak tangan. Tutur lembutnya dalam bicara menambah luka dalam darinya, sebab secara tidak langsung dia juga menyakiti wanita Sholehah itu. Walau pun semua itu tidak pernah di sengaja melainkan karena paksaan Gilang semata.
"Katakan saja jangan ragu...." Ucap Olive sambari membenahi posisi duduknya.
"Apakah benar anda sedang hamil?" Awalnya Alisya baru saja keluar dari rumah sakit hendak menuju mobil, tapi dia melihat suaminya di seret seorang laki laki. Mereka berdua nampak bertengkar hebat, tidak hanya adu mulut tapi juga adu fisik. Keduanya saling menyerang sampai banyak orang menyaksikan pergulatan mereka. Ucapan tidak pantas pun mereka lontarkan sebab diri mereka telah di kuasai amarah. Yang membuat Alisya sakit adalah ketika Gilang berteriak (DIA MENGANDUNG ANAK SAYA) tentu hal itu membuat Alisya terpukul.
__ADS_1
Olive mengiyakan pertanyaan Alisya dengan wajah menunduk. Sebanarnya Olive juga memiliki rasa malu pada Alisya karen sampai sekarang Gilang terus mengejarnya sampai berbuat nekat padanya, kendati demikian Alisya masih tersenyum kuat di depan ribuah pisau siap menancap di dada.
"Saya hanya ingin tau apakah benar anda dan mas Gilang telah melakukan hal itu atau tidak?" Lirihnya penuh kesakitan.
Pertanyaan Alisya bagaikan sebuah Bom waktu yang telah meledak sebelum di nyalakan. Mulutnya serasa bungkam, dan tangan gemetar. Seberapa besar menyembunyikan kenyataan tidak akan mengubah semuanya, karena memang benar mereka telah melakukan hubungan terlarang, meski dalam unsur paksaan.
Dalam hati Alisya selalu menyebut nama Tuhannya. Jantung berdetak kencang danhawa panas mengalir dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kediaman mbak Olivia menjawab semua pertanyaan saya, kalau begitu saya permisi" Terlihat air mata menetes daei mata Alisya.
Olive tidak bisa berbuat apa apa karena dia juga binggung harus mengatakan apa sehingga memelih untuk diam. Melihat sosok Alisya menghilang dri pandangan membuatnya semakin sakit bak teriris pisau tajam.
Air mata Olive kembali pecah, isak tangis kian menggema di seluruh rungan.....
Takdir jangan permainkan kesabaran kami lagi. Sesungguhnya hati kami sangatlah rapuh, bahkan lebih rapuh dari sebatang lidi. Hati kami hanya bagaikan segumpal kapuk yang bisa melebur dan terbang di terpa angin. Takdir, kemana engkau akan membawa kehidupan ini dari jalanmu yang berliku, mau kau buat seperti apa hati kami? Sungguh, kami tidak jauh lebih kuat dari sehelai rambut. begitu banyak ujian yang telah kami arungi, meski terjajal, berduri, dan kadang membuat kami tergelincir kami tetap melewatinya. Takdir, sudahi perihmu ini bawa kami dalam kedamaian yang indah.
__ADS_1