
Gilang merasa sangat bersalah melihat kesedihan di wajah Olive. Dia tidak menyangka akhirnya akan menyakiti diri Olive, karena yang ia pikirkan hanya kebahagiaannya tanpa sadar ia malah merusak kebahagiaan wanita itu yang berarti merusak kebahagiaannya pula.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini..." Gilang pun berlari menghampiri Olive yang saat itu tergeletak di jalan. "Olive...." Dengan cepat Gilang berlari.
Gilang segera memapah tubuh Olive menuju Villa. Di baringkan tubuh Olive di atas sofa ruang tamu "Olive, bangun, jangan buat saya khawatir..." Gilang menghuyung tubuh Olive dengan sesekali menepuk kedua pipi wanita itu.
"Please, jangan bercanda kaya gini. Ayo cepat bangun" Gilang semakin ketakutan kala tidak ada respon dari Olive.
"Bibi...." Teriak Gilang.
"Iya, den" Datanglah sang pengurus Villa "Ada apa dengan Non Olive?" sang penjaga villa berlari kala melihat Olive terbaring lemas di atas sofa.
"Jangan banyak tanya, sekarang ambilkan air. Cepat" Bentak Gilang karena ia merasa gugup.
"Ini, Den..."
Tak berapa lama segelaa air pun di berikan pada Gilang.
__ADS_1
"Olive saya mohon bangun..." Di percikkan air ke wajah wanita cantik itu.
Setelah bebetapa kali memercikkan air, Olive pun tersadar "Di mana dia?" Segera Olive bangun mencari sosok Damar.
Gilang segera memeluknya "Olive, cukup. Jangan tangis dia yang sudah pergi."
"Lepaskan, jangan halangi saya" Olive terua memberontak hendak melepaskan diri. Namun, Gilang semakin mengeratkan pelukannya.
"Lepaskan saya..." Olive semakin menjadi dan hampir terlepas dari pelukam Gilang. Setelah melihat Olive semakin tidak bisa di kendalikan Gilang pun meraih kedua bahunya.
"Dengar, dengar saya. Percuma kamu mencarinya karena dia tidak akan ada di sini. Sudah cukup, jangan menangis lagi." Bentak Gilang.
Plak...
Di tamparlah pipi Olive sampai meninggalkan bekas merah "Cukup! saya bilang cukup. Tidak usah kamu tangisin dia. Sekarang mari kita hidup bersama dan lupakan mereka yang telah pergi tinggalkan kita. Di sini masih ada aku yang selalu mencintai kamu. Kita akan bahagia tanpa mereka" Dalam semua kesedihan itu Gilang masih memikirkan egonya sendiri.
"Kamu kira saya bahagia bersama kamu? tidak. Saya malah akan semakin menderita." Lantang Olive. Ucapan Olive seolah menamparnya dengan keras.
__ADS_1
"Jaga bicara kamu.." Gilang mencengkeram lengan wanita itu sambil menghuyungkan dengan keras.
"Harusnya kamu tidak datang padaku karena kamu hanya merusak kebahagiaanku saja. Pergi kamu..." Olive mendorong Gilang sedikit menjauh darinya.
Gilang geram, tangannya mengepal, emosinya meluap. "Cukup!" Teriak Gilang dengan kencang seolah seisi ruangan penuh dengan teriakan itu.
Olive terus menangis dan tidak mengindahkan ucapan Gilang sedikit pun. Ia memegang pipinya yang terasa panas lalu berlari menaiki anak tangga.
"Mau kenama kamu? Live, Olive..." Ucapnya kala melihat wanita itu melarikan diri.
"Astaga, apa yang telah saya perbuat " Gilang merasa menyesal telah menampar wanitanya dan juga berkata kasar.
Kejadian itu di lihat sang pengurus villa sampai dia geleng kepala, tidak menyangka orang sebaik Gilang mampu berbuat hal serendah itu. Seorang lelaki yang merusak hubungan seseorang dengan pasangannya.
"Sungguh tega mereka berdua berbuat seperti itu..." Sang pengurus Villa pun segera pergi.
Gilang duduk di sofa sambil merenungi kesalahannya "Apa aku salah jika mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku..." Di usaplah kepalanya sambil memijit keningnya.
__ADS_1
Di sisi lain ada Olive yang tengah merenungi nasib pernikahannnya. Penyesalan demi penyesalan membhatnya semakin terluka.
"Semua ini salah ku. Kenapa aku harus berhadapan lagi dengannya, kebahagiaanku hancur seperti saat itu"