
" Dimas...."
Mendengar suara ibundanya, segera Dimas menyembunyikan foto-foto milik Gea.
" Mama, sejak kapan mama di sana?."
Fita segera mendekati putranya.." Sudah cukup lama untuk melihat dan mendengar semuanya." Senyum manis Fita berikan untuk Dimas. " Sudah waktunya kamu bahagia nak. Segeralah melepas diri dari belenggu masa lalu mu itu..."
Dimas hanya mampu terdiam. Semua ucapan Fita adalah benar. Tapi rasa bersalah dalam dirinya masih mengikatnya dalam kesendirian.
" Jujur saja, Mama sedih melihat putra mama satu-satunya terus sendiri. Kamu butuh pendamping dan seorang keturunan. Setiap hari usia kamu semakin bertambah Tua, dan kamu akan sangat kesepian jika nanti Mama sudah kembali ke rumah Tuhan." Ucap Fita sembari melihat wajah putranya.
Mendengar kalimat tersebut, Dimas segera meraih tangan Fita. " Please, Mam. Jangan bicara seperti itu. Berjanjilah untuk hidup bersama dengan ku sampai mama punya banyak cucu dan cicit."
" Usia manusia siapa tau. Makanya sebelum mama kembali pulang, segeralah menikah dan berikan mama menantu dan banyak cucu." ucap Fita
" Aku butuh waktu ma..." Dimas berdiri sembari menata nafasnya. " Karena bagi ku dunia ini terasa biasa saja tanpa hadirnya Alexa." Segera Dimas melangkah pergi.
Melupakan seseorang tercinta bukanlah hal yang mudah. Butuh perjuangan untuk menjadikannya sebuah kenangan...
__ADS_1
Tidak mudah pula menggantikan dirinya dengan yang lain.
Ibarat kata cinta adalah nafas, dimana cinta membutuhkan ruang untuk melepas...
Sesekali nafas butuh oksigen untuk membuatnya tetap berhembus. Namun ketika oksigen mulai melemah maka akan terjadi masalah besar dalam tubuh.
Begitu pula cinta Dimas terhadap Alexa.
Semua hal itu dapat di atasi oleh diri Dimas sendiri. Jika dia ingin terus bernafas, maka dia harus mencari kebahagiaan tanpa melihat luka. Namun jika dia masih terdiam dan mengenang masa lalu, maka perlahan dia akan terbunuh oleh waktu.
" Aku butuh kalian. Temui aku di tempat biasa...." Dimas menghubungi seseorang.
Tak berapa lama, Dimas masuk ke dalam mobil lalu pergi dari rumahnya.
Saat dia tenggelam dalam lamunan, tiba-tiba saja di depan mobilnya melintas seorang wanita tua tengah menyeberang jalan.
" Aaaaa........" Jerit wanita itu.
Segera Dimas memutar kendali mobil, Namun di saat bersamaan ada sebuah mobil melaju dengan kencang dari belakangnya. Hingga tabrakan pun tidak bisa terhindarkan.
__ADS_1
" Dim, Dimas, bangun." Suara terdengar samar-samar di telinga Dimas. Namun dirinya tidak mampu membuka mata atau hanya sekedar membuka mulut.
" Kenapa kamu bisa seperti ini nak?." Fita menangis histeris melihat putranya terbaring lemas.
" Tante, tenang lah." Seseorang berusaha menenangkan Fita.
" Jim, bagaimana keadaan Dimas?." Datanglah Leo dengan nafas terengah-engah.
" Kita bicara di luar..."
Jimmy dan Leo keluar...
" Sepertinya Dimas mengalami koma."
" Koma? kenapa bisa seperti itu?." Leo sangat terkejut mendapati kenyataan bahwa sahabatnya mengalami koma.
" Gua juga nggak nyangka, Dimas bisa mengalami kecelakaan seperti itu. Bahkan saat gua sampai di sini, Dimas dalam keadaan mengerikan. Sempat beberapa menit setelah di tangani Dokter, jantungnya berhenti berdetak. Namun berkat Dia dari kita semu, maka Dinas di beri kesempatan untuk hidup. Meski pun dia dalam keadaan Koma." Jimmy menundukkan kepala.
" Astaga, Tuhan. musibah apa lagi ini?." Leo mengacak rambutnya.
__ADS_1
" Leo...." seorang berbaju putih menghampiri Mereka
" Tina? kamu disini?." Leo berdiri.." Apakah kamu yang menangani sahabat ku?."