
Selesai mengurus administrasi, Damar kembali ke ruangan Olive. Saat ini ia tidak menghiraukan keberadaan Gilang di luar ruangan karena yang ingin ia tau kondisi istrinya.
Clickkk...
Terdengar pintu ruang rawat terbuka, membuat Mbok Inah dan Olive melihat ke arah pintu.
"Mas Damar...." Tatapan Olive terlihat sendu bercanpur air mata tertahan di netra indahnya.
"Kamu kenapa sayang?" Damar menyentih lengan kiri Olive mengelusnya perlahan, sebab masih berbalut perban. Damar mengira sakitnya Olive di pengaruhi oleh luka di tangan kirinya itu, padahal lain cerira dari sebelumnya.
Antara ragu dan takut, mulutnya masih membeku.
"Dia sedang hamil"
Deg....
__ADS_1
Tiba tiba Gilang masuk, membuat ketiga orang menatap ke arahnya "Apa maksud kamu?" Sesaat Damar melihat Gilang dan sesaat memandang ke arah Olive. "Apa dia benar?"
Olive mengangguk. Wajah Damar seketika memancarka keindahan, senyumnya merekah dan langsung memeluk istrinya.
"Terima kasih sayang, ini sungguh hadiah terindah seumur hidupku. Sehat sehat sayangnya Daddy" ucap Damar sembari Mengusap perut Olive.
Gilang menyunggingkan senyum sembari berjalan mendekati mereka "Jangan senang dulu, anak yang ada dalam rahim Olive adalah anak saya"
Sontak ucapan Gilang membuat Damar terpukul, kepala kedua tangannya terlihat menggenggam erat dengan tatapan mata tajamnya.
"Saya nggak terima dia bicara sembarang seperti itu, dia harus tau kalau anak di dalam perut Olive itu milik saya" Ucap Damar dengan nada tinggi.
Gilang tersenyum "Tidak usah membohongi diri sendiri demi menutupi kekurangan kamu, bukankah kamu menikah dengannya hampir 5 tahun lamanya dan kalian belum juga di karunia anak? itu sudah jelas kalau ada masalah sama benih kamu itu"
Kata kata Gilang membuat Damar geram, dengan seketika itu juga dia melayangan tinju.
__ADS_1
"Jaga bicara kamu atau...."
"Atau apa?" belum sempat Damar berkata, Gilang lebih dulu memajukan badan seolah menantang Damar. Sebelumnya Gilang sudah tau sesuatu dari Fanya, yang mana mungkin Olive sendiri belum mengetahuinya. Beberapa hari yang lalu, Fanya mengungkapkan bahwa dulu saat Fanya dan Damar menjalin kasih, mereka sering berhubungan badan tapi Fanya tidak kunjung hamil. Fanya jadi curiga dengan benih Damar sampai ia meminta Damar periksa ke Dokter tapi Damar menolaknya. Sebelumnya Damar belum siapa siapa, dia hanya anak seorang pengusaha biasa yang bisnisnya di ambang kehancuran. Damar juga belum menjadi Dokter seperti saat ini. Kecurigaan Fanya menjadi kuat setelah tau pernikahan Damar belum juga di karunia keturunan.
"Atau kamu mau bilang kalau kamu itu laki laki mandul"
Ucapan Gioang sudah di luar batas kendali seorang manusia. Damar pun segera menarik paksa Gilang dari ruangan itu menuju keluar runah sakit. Ia sadar jika dirinya seorang Dokter di sana dan banyak di segani orang orang. Sebelumnya Damar lebih dulu melepas jas putihnya.
"Mas tunggu kamu mau kemana?" olive berusaha turun dari ranjang, namun Mbok Inah menghentikannya "Non, jangan banyak gerak dulu. Biarkan mereka selesaikan masalah di luar" Lirihnya sambari memeluk Olive
Olive menangis mengingat kejadian bersama Gilang beberapa waktu yang lalu, di tambah dia juga bingung janin siapa yang di kandungnga.
"Semua salah saya, Mbok. Kenapa saya harus kembali ke kota ini lagi, coba dulu saya menuruti kata kedua orang tua Mas Damar, pasti tidak akan terjadi seperti ini"
Menangis pun tidak akan mengembalikan waktu, diam tidak akan menyelesaikan masalah. Jika waktu hanya bisa berjalan maju kenapa seolah hidup bertenti di tengah jalan. Rasanya sakit dan hampa, itu yang Olive rasakan.
__ADS_1