HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian, pertunangan Amora di gelar mewah di kediaman Dimas Hendarman. Para tamu undangan berdatangan, tak luput Olive beserta suami juga menghadiri acara tersebut. Dengan gaun warna putih dan Damar mengenakan kemeja putih jas abu abu, memasuki ruangan. Olive menggandeng lengan suaminya mencoba bersikap biasa saja di depan keluarga besar Handarman. "Tuan Damar" Sapa Gilang penuh kehangatan. Ia menyodorkan tangan kepada Damar "Selamat datang, silahkan duduk" Tak luput Gilang juga menyalami Olive. Melihat gaun putih yang di kenakan Olive membuatnya menelan ludah. Bentuk tubuh Olive melekat indah terbungkus gaun ketat dengan panjang di bawah lutut. Rambut terurai indah, bibir merah merona menambah kecantikan wajahnya.


Dari kejauhan Dimas melihat sosok wanita yang sangat ia benci "Siapa yang mengundangnya kamari..." Ucapnya seraya meninggalkan kerumunan teman temannya.


Olive melihat sekeliling tiba tiba ia terkejut kala melihat sosok Dimas berjalan menghampirinya. Karena takut timbul kerusuhan, segera Olive menempel pada suaminya "Mas, aku haus" manjanya di depan mata Gilang.


Sontak langkah kaki Dimas terhenti "Astaga, wanita itu bersama dengan Dokter Damar, apa hubungan mereka" Ketika Dimas hendak berbalik, Damar lebih dulu melihat dirinya "Kalau begitu biar saya ambil untuk kamu, tetap di sini ya" Ucapnya dengan mengembangkan senyum.


"Ikut..."


Gilang mengeratkan rahang, melihat Olive bermanja dengan laki laki lain. "Biar saya ambilkan.." Gilang bangkit hendak mengambilkan minum. Namun, Damar menghentikannya "Biar kami ambil sendiri. Kebetulan saya ingin memperkenalkan istri saya dengan Tuan Dimas Hendarman. Kami permisi dulu" Mereka lalu memangkah menghampiri Dimas. Olive terlihat gugup "Saya minum dulu ya mas" Setelah suaminya mengambilkan segelas minuman dingin, mereka kembali ke meja Dinas beserta keluarga. Di sana baru ada Dimas, dan beberapa kerabat dekatnya.


"Tuan Dimas" Sapa Damar seraya mengulurkan tangan. Dimas pun menjabat tangan Damar dengan senyum "Tuan Damar, mari silahkan duduk." Damar beserta istri duduk. "Bagaimana kabar anda? lama kita tidak berjumpa"


"Baik. Oh iya, dia ini siapa?" Tanpa basa basi Dimas menanyakan perihal status Olive.


"Ini istri saya, perkenalkan dia Olive" Seraya merangkul bahu istrinya.


Dimas menjabat tangan Olive berpura tidak saling kenal "Salam kenal" Kala Dimas menjabat tangan Olive ia meremas dengan kuat. Tentu Olive terkejut "Aw..."


"Kenapa sayang?"


"Ah, maaf saya terlalu bersemangat berkenalan dengan istri pak Dokter, jadi maaf kalau anda kesakitan" Jelas Dimas seraya menatap wajah Olive.


"Tidak apa apa, saya hanya kaget saja" Ucap Olive.


"Bagaimana dengan kesehatan anda Tuan...?" Tanya Damar, setelah beberapa kali Dimaa mengunjungi rumah sakit di mana Damar bekerja. Kesehatan Dimaa sedikit terganggu sebab, usia yang tidak lagi muda dan tekanan darah tinggi yang kerap melanda. Kebetulan Damar juga menangani kasus Dimas, jadi mereka tidak hanya sekedar kolega kerja saja, melainkan domter dan pasien.

__ADS_1


"Berkat Dokter, saya semakin sehat. Oh iya, kapan kalian menikah? kenapa tidak mengundang keluarga kami"


Damar menatap wajah istrinya yang tengah bermain ponsel "Kami menikah di kota A, setelah mendapat perintah dari atasan untuk pindah ke sini, saya memboyong istri saya pindah ke sini. Jadi, mohon maaf jika kami tidak mengundang keluarga Tuan Dimas." Jawab Damar penuh kelembutan.


Olive hanya mendengarkan peecakapan mereka, tanpa ikut menambahi kata. Ia takut terjadi salah kata yang berujung pada keributan.


Di tingah tengah obrolan mereka datanglah Gilang dengan membawa dua gelas minuman dingin, di mann akan ia berikan kepada Damar dan Olivia. "Minuman special untuk tamu special" Gilang meletakkan gelas di depan Olive.


Dimas mengepalkan tangan, tak menyangka putranya bersikap seperti itu di hadapan banyak orang.


"Terima kasih..." Melihat kecanggungan antara keduanya, Damar meraih gelas di depan istrinya "Sayang, minum dulu, hargai Tuan Gilang" Dengan terpaksa Olive meminumnya.


Setelah itu Gilang duduk bersama mereka. Namun, Dimas tak kuasa menahan emosi kala melihat putranya terus memberi tatapan panaa pada Olive. Dimas pun pergi.


Sebelum acara di mulai, mereka berbincang bincang sedikit. Di balik tirai meja, Gilang menelusupkan tangan berpura mengambil susuatu di bawah. Tangan laki laki itu mengusap lembut pada Olive yang sedikit memperlihatkan kemulusan tubuh. Olive sadar ada tangan merayap di bahanya, ia pun segera menepisnya. Gilang tersenyum jahat, segera ia kembali pada posisi duduknya.


"Apaan sih..." Lirih Olive kepada Gilang.


Gilang hanya terdiam dengan senyum mesumnya. Sekarang gantian mata Gilang mengarah pada sebuah gundukan yang memperlihatkan kemolekannya, di bawah kepala menggantung sempurna. Gaun yang Olive kenakan kebetulan membelah sampai memperlihatkan samping kanan dan kiri gu dukan tersebut.


"Keterlaluan..." Kesal Olive seraya bangkit. Ia pergi meninggalkan Gilang, menuju di dekat kolam yang di hiasi kelopak bunga warna warni. Acara sengaja di gelar di sampung rumah mereka, memperlihatkan keindahan dekorasi. Acara sengaja di buat sedemikian rupa. Olive melihat kolam tersebut dengan bayangan jijik terhadap kelakuan Gilang.


Prok prok prok...


Suara tepuk tangan mengiringi kedatangan sang wanita bergaun merah muda, berjalan bagaikan ratu di dampingi kedua orang tua. Ketika ia melihat Olive berdiri di samping kolam, muncul sesuatu yang jahat darinya. Kebetulan Amora berjalan melewati Olive, segera ia berhenti "Pa, kita lewat sana ya.." Melalui Jalan di mana Olive berada. Di kala Amora melewati Olive, dengan sengaja Amora menghampirinya. "Halo, selamat datang..." Berpura mengukurkan tangan pada Olive. Olive sangat terkejut, tidak biasanya Amora bersikap manis padanya. Ia segera menjabat tangan Amora.


Byur....

__ADS_1


Olive terjatuh ke dalan kolam sebab dengan sengaja Amora melepas jabatan tangannnya lalu membuat Olive seorang terpeleset.


"Astaga, tolong dia, sepertinya dia tidak bisa berenang" Ucap salah seorang.


Dari kejauhan Damar melihat istrinya gelagapan, karena memang sedari dulu Olive tidak bisa berenang. Danar berlari sekuat tenaga, namun sulit baginya melewati puluhan orang.


Amora tersenyum puas, ia berhasil memberikan pelajaran untuk wanita yang telah merebut hati kakaknya "Amora, apa apaan ini" Ucap Gea kepada putrinya.


"Lho dia kan terjatuh sendiri, bukan salah aku dong, ma" Protes Amora.


"Olive..." Segera Gilang masuk ke dalam kolam menggapai tangannya "Saya akan selamatkan kamu.." Di raihnya pinggang ramping Olive lalu membawanya ke tepian.


Damar melihat istrinya tergeletak dengan mata terpejam "Olivia...." Teriak Damar dari balik kerumunan. Gilang tidak berdulikan semua mata atau pun pandang mereka. Segera Gilang memberikan nafas buatan sehingga kedua bibir mereka saling bersentuhan.


Semua orang melihatnya biasa saja karena pertelongan pertama adalah nafas, tapi di balik semua itu ada Alisya yang melihat dari atas balkon. Suaminya tengah mencium wanita lain di depan semua orang. Hatinya hancur air matanya mengucur deras.


Alisya sengaja tidak mengikuti pesta tersebut, ia memlikih duduk di kamar Amora. Pesta seperti itu membuatnya tidak nyaman sampai Alisya memilih untuk tidak bergabung dan hanya bisa mendoakan saja. Alisya tau pesta yang tersedia di kalangan anak muda seusia Amora pasti akan berbau Fulvar, dari segi pakaian atau pun minuman yabg berbau alkohol. Amora dan keluarga memaklumi Alisya yang tidak berkenan turun, karena mereka menghormati keputusan Alisya.


"Ya Allah, betapa sakitnya hati ini" Air matanya mengeluh penuh kesakitan. Kakinya terasa lemas melihat semua itu, ia pun memutuskan untuk mmtidak melihatnya lagi. Alisya kembali duduk di tepi ranjang.


"Permisi, biarkan saya lewat, dia istri saya" Ucapan Damar membuat mereka memberi jalan "Astaga, sayang" Segera Dmar berlari menghampiri Olive yabg tengah di beri nafas buatan oleh Gilang.


"Maaf, biar saya saja" Damar mengambil alih tubuh istrinya, ia pun memberi nafas buatan.


Uhuk uhuk...


Olive segera tersadar "Mas, saya takut" Olive mangis sambil memeluk tubuh suaminya.

__ADS_1


Segera Damar menggendongnya, karena baju basah Olive memperlihatkan pakaian dalam yang di kenakan, segera Gilang ambil bagian. Dia lepas jas salah satu orang di sana lalu mendekatinya "Kita bawa dia ke rumah sakit" Ucap Gilang seraya melingkarkan jas tersebut di badan Olive. "Terima kasih, biar saya urus istri saya" Segera Damar membawa Olive keluar dari rumah Hendarman.


__ADS_2