HASRAT

HASRAT
Kisah Raka


__ADS_3

" Mami, mami, buka pintu, mami kenapa?" Gilang menggedor pintu kamar dimana Maminya tinggal. Suara teriakan Lily dan suara benda benda pecah membangunkan tidurnya, sebab Letak kamar Gilang tepat di samping kamar Lily.


" Mami, mami...."


Beberapa kali Gilang memanggil nama maminya, tidak ada respon sedikitpun dari kamar itu, bahkan suara gaduh yang tadinya terdengar menjadi hening. Gilang takut terjadi sesuatu hal buruk pada maminya.


" Mami....." Teriak Gilang setalah tidak berhasil membuka pintu kamar yang tadinya hendak di dobrak. Tapi tubuhnya terlalu kecil untuk bisa mendobrak pintu kayu tebal itu.


Dengan memukul pintu untuk kesekian kali, Gilang pun bersandar pada papan pintu lalu menangis sejadinya...


" Paman, jangan sakiti mami..." Ucapnya lemah seolah harapan tuk menyelamatkan maminya sudah tidak ada lagi.


Tak berapa lama Raka keluar dengan rambut basah dan badan hanya memakai handuk di pinggang.


" Hey, Bocah. Berisik sekali kamu ini...."

__ADS_1


" Kamu jahat." Beberapa pukulan tangan Gilang mengenai perut Raka dan nampaknya Raka tidak berreaksi sama sekali.


" Lebih baik kamu masuk kamar atau mami kamu bisa menderita lebih dari ini."


Sekilas Gilang melihat maminya berbaring dengan tangan di ikat dan badan hanya di tutupi selimut tebal. Lily memberi kode kepala untuk menyuruh Gilang pergi dari sana, dia tak ingin putranya di siksa.


" Baiklah, Gilang pergi. Tapi tolong jangan sakiti mami lagi..." Ucap Gilang seraya berlutut memohon ampunan untuk maminya.


" Sekarang kamu harus tau jika hidup itu keras..." Raka meraih tangan mungil anak itu lalu menggendongnya. Meski Raka seorang kasar tapi dia juga punya sisi seorang lelaki dewasa yang tidak akan tega melihat air mata anak kecil.


" Sekarang kamu bersihkan badan dulu..." Perlahan Raka melepas ikatan tangan Lily.


Lily merasakan sakit luar biasa pada sekujur tubuh, sampai bergerak saja sulit, semua otot menegang setelah melawan badai Hasrat kejam. Melihat Lily meringis kesakitan membuat Raka memandanginya....


" Tidak bisa berdiri?" Tanya Raka seraya meraih tubuh Lily kemudian membawanya menuju kamar mandi.

__ADS_1


" Aku bisa sendiri..." Lily menolak saat Raka hendak membantunya mandi.


Sekujur tubuh di penuhi memar dan tanda bakas keganasan Raka hari ini...


Seperti itulah Raka saat harga dirinya di injak. Dia adalah lelaki angkuh yang tak berhati, kejam dan bringas. Setiap saat dalam hari Lily hanya ingin segera keluar dari jeruji kegelapan itu dan kembali pada hidupnya yang dulu. Hidup bahagia bersama sang buah hati meski cita citanya tuk memberikan keluarga utuh pada Gilang telah sirna, setidaknya dia tidak mengalami kejahatan seperti saat ini.


" Berdiri saja susah, bagaimana cara kamu mandi? dasar bodoh." Perlahan Raka membantunya mandi. Sedikit iba melihat wanita itu meringis kesakitan saat tangan Raka mengusapnya.


" Lain kali jangan berbuat seperti itu, maka kamu bisa hidup damai bersamaku. Dan satu lagi, aku mau Gilang memanggilku Papi, karena bagaimanapun aku sudah menikah dengan kamu dan menjadi ayahnya."


" Kamu tidak menikahi aku dengan tulus. Kamu hanya menjadikan aku pelampiasan atas lepasnya Gea dari tangan mu. Pernikahan ini hanya kamu jedikan sebuah tameng tuk menutupi luka di hatimu." Ucap Lily.


Plak.....


" Jangan sekali kali menyebut nama adik ku, semua tidak ada hubungannya dengan dia. Paham?!" Kembali Raka di buat kesal oleh Lily sampai dia memutuskan keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2