
Di sisi lain ada Damar tengah duduk di ruang kerja menantikan pesan singkat dari istrinya. Dengan kepela menyandar di kursi, Damar melihat foto istrinya di layar ponsel. Senyum wanita itu membuatnya kuat dan tetap semangat. Karena rasa rindu pada sang istri, ia melakukan panggilan video call. Namun, katika panggilan terhubung tiba tiba pintu di ketuk. Sebagai seorang Dokter Damar mengesampingkan urusan pribadi.
"Masuk..." Ucap Damar sambil meletakkan ponsel di saku jas putih yang di kenakan.
Tak lama datanglah seorang suster "Mohon maaf mengganggu waktu istirahat Dokter. Tapi ada pasien kecelakaan yang harus segera di tangani, Dok."
"Iya, saya akan segera ke sana." Damar bersiap lalu menuju ruangan pasien tersebut.
Setelah membuka pintu ruangan, Damar di kejutkan dengan wanita yang menangis di samping ranjang pasien. Sosok wanita itu membuat langkahnya terhenti.
"Fanya...." Lirihnya kala melihat sosok wanita itu adalah mantan tunangannya. Mereka sempat hampir menikah tapi tiba tiba Fanya memberi kabar jika dirinya telah di nikahi seorang pengusaha kaya.
"Dokter, kenapa?" Tanya suster di belakang.
Seketika Damar tersadar." I'm fine" Ketika Damar beserta tim medis lainnya mendatangi pasien, si wanita itu terbelalak melihat sosok Damar di depannya. Sontak ia berdiri. Di tataplah Danar dari unung kaki sampai ujung kepala.
"Damar?" Ucap Fanya seraya menatapnya dengan mata penuh air mata sebab menangisi seorang lelaki yang tengaj terbaring lemas di hadapannya.
Damar berusaha menata hati. Ia membalas dengan senyum. "Anda bisa keluar dulu,, karena kami akan memeriksa kondisi pasien" Tuturnya penuh kelembutan.
"Tolong selamatkan dia, saya mohon" Fanya menggenggam tangan Damar. Namun, dengan sigap Damar menepisnya "Itu sudah menjadi tugas kami. Bantu kami dengan Doa." Damar berpindah tempat karena merasa sangat tidak nyaman di samping wanita yang sangat di benci.
Fanya pun keluar. Para medis melakukan pemeriksaan ketat. Tak lama setelah itu para medis keluar dengan menyampaikan akan ada tindakan operasi. Setalah pihak keluarga setuju, pasien di bawa ke ruang operasi.
"Dokter, tolong selamatkan anak saya" Seorang wanita tua menangis di depannya. Karena takut kehilangan sang ibu pun menunduk memohon pada Damar "Saya mohon, Dok"
Damar merasa sangat iba kala seorang ibu bersimpuh di hadapannya. Segera ia membangunkan ibu tersebut "Kita para medis akan melakukan yang terbaik. Ibu bantu doa karena tidak ada kemampuan melebihi kuasa Tuhan" Damar mengusap pundak ibu itu sebelum ia pergi. Di saat hendak berbalik, matanya sekilas melihat Fanya menangis di samping ibu tersebut.
__ADS_1
Dengan langkah cepat, Damar menuju ruang Operasi. Tidak lupa pihak keluarga juga menuju ruangan tersebut.
"Bukankah dia itu Damar mantan tunangan kamu itu, nak?" Tanya ibu kandung Fanya.
Dengan berderai air mata Fanya menjawab "Iya, ma"
"Astaga, sekarang dia ganteng sekali dan sepertinya sekarang dia kaya" Ibunda Fanya berdecak kagum.
Sedari awal keluarga Fanya menentang hubungan mereka sebab kala itu Damar tengah mengalami kesulitan ekonomi. Keluarganya jatuh miskin lalu keluarga Fanya memutuskan untuk memisahkan keduanya. Fanya yang gila harta akhirnya meninggalkan Damar demi seoarang laki laki kaya yang di jodohkan ibunya.
"Tau gitu dulu kamu nikah sama dia, pasti kamu tidak akan jadi istri simpanan." Bisik ibu Fanya.
Ya. Fanya adalah istri simpanan. Dia rela manjadi istri simpanan demi uang. Fanya di nikahi secara agama. Meski begitu pihak kedua keluarga tidak ada masalah sebab saling membutuhkan. Suami Fanya menginginkan keturunan dan Fanya ingin hidup enak, serba kecukupan. Namun, setelah bertahun tahun menikah, Fanya tidak juga di karunia seorang anak sehingga orang tua Laki laki itu membencinya. Pernikahan mereka berdua terbingkar kala istri sah sang suami mendapat kabar kebenaran tentang mereka. Bahkan, kecelakaan itu terjadi sebab bertengkar hebat dengan kedua istrinya.
Fanya menyenggol lengan ibunya kala sang mertua melihat mereka berbisik bisik ria "Hustt...mama jangan keras keras."
"Kenapa harus bertemu dia di saat seperti ini" Ucapnya seraya membuka pintu raungan. Damar merasa sangat lelah. Di tambah harus bertemu dengan Fanya, semua hanya membuatnya semakin lelah.
Ting...
Ponselnya menyala. Segera Damar melihatnya "Kenapa tidak kasih kabar?" Damar tersenyum kala mendengar pesan voice suara dari istrinya.
"Maaf, sayangku. Tadi mas ada operasi dadakan. Jadi, tidak sempat kasih kabar. Maaf, ya" Balasnya dengan Voice suara.
"Iya, mas. Yang penting mas jangan lupa makan siang, ya" Damar mendengar suara Olive serak, segera ia melakukan video call.
"Iya, sayang. Kamu juga jaga kesehatan. Banyak minum air hangat soalnya di sana daerah pegunungan, pasti dingin." Tutir Damar penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Sayang kok mata kamu sembab gitu, kenapa?" Tanya Damar.
Olive tersenyum lalu mengusap mata "Jauh dari mas membuatku rindu"
Hati Damar terasa dingin kala melihat sang istri bermanja seperti sekarang ini. Damar melempar beberapa kata sampai kesuanya berbincang bincang.
Tanpa di sadari ada Fanya berdiri di depan pintu. Dia sengaja membuka pintu tanpa mengetuk, karena mendengar tawa Damar. Setelah selesai menelepon sang istri, Damar kembali duduk. Kepalanya agak pusing, di karenakan kurangnya istirahat karena banyaknya pasien. Damar bersandar pada kursi dengan melipat kedua tangan. Kepala mendongak ke atas.
Fanya mendekati Damar.
Tap tap tap...
Suara langkah kaki Fanya terdengar. Damar pun membuka mata lalu melihat sosok Fanya tengah berjalan ke arahnya "Ada yang bisa bantu" Damar bersikap rasional di depan Fanya. Dia tidak mau mencampurkan urusan pribadi dalam pekerjaannya saat ini.
"Saya ingin bicara sama kamu" Fanya duduk di atas meja kerja Damar dengan sedikit menggoda. Belahan rok mini memperkihatkan kemolekan tubuh bagian bawah. Baju yabg di gunakan Fanya juga terbilang tidak pantas karena begitu ketat sampai lekuk tubuhnya terlihat jelas.
"Maksudnya apa ini?" Damar merasa marah kala melihat kelakuan Fanya terhadapnya.
"Alah, gak usah sok suci deh. Bukankah dulu kamu paling suka melihatku seperti ini" Fanya mengedipkan satu mata padanya.
Damar semakin geleng kepala. Baru kali ini dia melihat seorang istri berani menggoda laki laki lain saat suaminya tengah berjuang di antara hidup dan mati.
"Pergi dari ruangan saya" Damar hendak mengusirnya dari ruang kerjanya, namun Fanya lagi lagi bersikap tidak baik. Ia memeluk Damar secara tiba tiba "Maaf, aku telah menyakiti kamu. Sungguh, semua itu bukan mauku. Tapi, aku terpaksa menikahi lelaki lain karena paksaan kedua orang tuaku. Sungguh aku sangat menyesal"
Dengan kasar Damar melepaskan kedua tangan Fanya yang melingkar di pinggangnya "Maaf, saya tidak ada waktu membahas masa lalu." Reflek Damar mendorongnya hingga terjatuh.
"Ah....jahat sekali kamu ini. Kan sakit" Fanya bermanja di depan Damar.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau keluar saya yang akan keluar dari sini" Kesal melihat kelakuan Fanya, Damar pun meraih jas putihnya lalu pergi begitu saja tanpa perduli dengan Fanya.