HASRAT

HASRAT
SEASON 2 Ep 164


__ADS_3

" Bukan seperti itu, hanya saja aku tidak ingin hubungan kita berakhir sama seperti hubunganku dengan Criztine saat dulu. Kamu tidak mengenal Gea, dia adalah seorang gadis jahat yang menjelma menjadi gadis cantik nan menawan. Dia meminta cinta dariku bukan karena dia mencintai aku. Tapi dia hanya Teropsesi dengan hal yang tak mampu dia kuasai." Perlahan Leo membuka masa kelamnya.


" Tapi aku tidak selemah Criztine, Aku bisa melawan saat aku merasa terancam, tapi itu juga di dasari dengan kebenaran." Risa menepis ucapan kekasihnya.


" Risa, percayalah! Gea tidak mudah di hadapi. aku hanya ingin kamu baik-baik saja." Jelas Leo sembari meraih kedua tangan Risa.


" Tapi semua ini ber-akibat buruk bagi keluarga Criztine. Coba saja kalau Mama kamu tidak menaruh obat di minuman Paman, maka beliau tidak akan meninggal dunia." Risa menangis meratapi kepergian Ayah Criztine.


Leo memeluk kekasihnya. " Maukah kamu menemani aku untuk datang ke rumah Criztine?." Usapan lembut di kepala Risa.


Risa mendongak. " Aku masih harus mendatangi makam Paman, jadi aku tidak bisa menemani kamu."


" Kalau begitu aku antarkan kamu kesana." ucap Leo.


" Tidak! aku bisa sendiri."


Tak berapa lama Leo menuju rumah Revaldi, di sepanjang jalan Ia memikirkan hal pertama apa yang harus di ucapkan nantinya.


" Leo? ada apa kamu datang kesini?." ucap Revaldi menghadang Leo untuk tidak masuk ke dalam rumah.


" Aku ingin bertemu dengan Criztine. Tolong ijinkan aku meminta maaf padanya." pinta Leo.


" Aku tidak bisa menjamin jika Criztine mau menemui kamu setelah apa yang terjadi." Jelas Revaldi.


" Aku mohon, tolong bantu aku." Leo meraih kedua tangan Revaldi, lalu memohon bagaikan seorang pengemis.

__ADS_1


" Baiklah! akan aku panggilkan dia, kamu tunggulah disini." ucap Revaldi sembari masuk ke dalam rumah.


" Aku takut jika nanti Criztine tidak bisa memaafkan aku." Lirih Leo, seolah dia tau apa terjadi selanjutnya.


" Untuk apa kamu datang kemari?." Tatapan penuh amarah menikam habis diri Leo.


Terbunuh dalam sanubari saat empat mata menjadi satu.


" Criz, dengarkan aku." perlahan Leo mendekat. " Aku minta maaf atas perbuatan Mama, kamu mau memaafkan Mamaku kan?."


" Kamu pikir dengan kamu bicara seperti itu, kamu bisa mengembalikan Ayah? kalian bisa menghidupkan Ayah? cepat katakan padaku?." Bentak Criztine.


Melihat perdebatan diantara keduanya membuat Revaldi memilih untuk meninggalkan mereka.


" Criztine." Leo mencoba menenangkan hati Criztine , ia memeluknya dengan erat.


Kesedihan mendalam meluap menjadi butiran air mata.


" Menangis lah, luapkan semuanya."


Hik hik...


" Kenapa Tante Maria bisa sejahat itu? apa salahku?."


" Semua ini salahku Criz, aku akan menebus semua ini." Bisik Leo dengan mengusap kepala Criztine.

__ADS_1


Aku sangat merindukan manjanya dirimu, tulusnya kasih sayangmu.


maafkan aku jika selama ini aku hanya menjadi sebuah petaka di hidupmu.


Bahagia lah sayang, kamu berhak bahagia.


Di dekatku kamu hanya mengalami kesedihan, maka aku benar-benar rela melepaskan cinta ini demi bahagia mu.


Tanpa di sadari Leo menangis.


Namun sebelum Criztine menyadari itu, ia lebih dulu mengusap air mata.


" Kamu mau ikut bersamaku? aku ingin menunjukkan sesuatu terhadap kamu."


" Aku tidak mau!." Criztine mendorong tubuh Leo, lalu dia tersadar bahwa saat ini dirinya telah terjatuh dalam kenyamanan yang Leo berikan.


" Criztine, aku hanya ingin kamu dan anak ini bisa mengurangi kesedihan ini, ikutlah denganku." Pinta Leo.


Keraguan dalam hati Criztine membuatnya enggan untuk mengiyakan ajakan Leo, namun saat Leo bersimpuh di hadapannya, membuat hati Criztine luluh lalu mengangguk dan meminta ijin kepada suaminya.


" Jaga istri dan anakku Le, tolong buat dia kembali tersenyum pada dunia." Revaldi menepuk pundak sahabatnya, berharap senyuman indah kembali menghiasi hari Criztine.


" Percayalah Le, aku tidak akan berbuat hal buruk terhadap mereka. Terima kasih sudah memberiku ijin?."


Revaldi mengangguk mengiyakan permintaan sahabatnya tersebut.

__ADS_1


" Sayang hati-hati di jalan." lambaian tangan mengiringi kepergian mereka berdua.


__ADS_2