
"Ahhhhhhh......."April berteriak saat melihat sang ayah yang tergeletak di lantai.
Semua orang panik dengan jeritan yang berasal dari dekat pintu.
"April ada apa? " ucap Tasya dengan berlari, dan betapa terkejutnya dia saat melihat sang suami yang sudah tidak sadarkan diri.
"Mas, bangun mas, kamu kenapa? bangun mas, bangun...." Tasya mencoba menghuyung tubuh sang suami, air mata pun mengalir deras.
Riko dan Revaldi membawa tubuh Rikardo ke dalam mobil untuk membawanya ke rumah sakit terdekat...
"Ayah bangun...." April menangis histeris.
"Sayang kamu jangan menangis, mami yakin ayah akan baik-baik saja...." jelas Tasya berusaha menguatkan April.
"Re, kenapa kamu diam? sebenarnya ada apa ini?" ucap Riko dengan menatap Revaldi yang tengah fokus menyetir.
"Ayah tadi sudah mengeluh sesak dan juga sakit pada dadanua. aku ingin memberi tau kalian tapi ayah lebih dulu meminta ku untuk tenang dan ayah menceritakan tentang penyakit ayah yang di derita selama ini....." ucap revaldi dengan meneteskan air mata.
"Apa kamu bilang? jadi selama ini ayah mu menyembunyikan sesuatu dari mami? jelaskan pada mami sebenarnya ayah kenapa......." bentak Tasya kepada Revaldi dikarenakan syok dengan kondisi Rikardo saat ini.
Revaldi hanya diam dengan semua pertanyaan yang di lontarkan oleh mami dan papa nya, dia tak ingin kenyataan yang baru saja dia dapat akan menjadi kesedihan yang mendalam di hati ibu dan juga adiknya.
Tak berapa lama mereka pun sampai di rumah sakit. Rikardo telah mendapat penanganan medis dengan cepat, di karenakan kondisi Rikardo yang kritis...
__ADS_1
Tasya menangis dengan memeluk April, dia sangat ketakutan. Riko pun berusaha menenangkan mereka berdua....
tak lama keluarlah seorang dokter.
"Bagaimana kondisi suami saya dok? dia baik-baik saja kan? dokter ayo jelaskan jangan hanya diam seperti ini...." Tasya menangis histeris.
"Mi dengar dulu penjelasan dokter, mami tenang dulu..." Revaldi memeluk sang ibunda dengan sangat erat.
"Re, kamu bawa mami ke luar dulu biar papa yang tangani semua ini..." ucap Riko.
Revaldi pun membawa ibunya pergi, meski Tasya berusaha menolak, namun Revaldi berhasil meyakinkan sang ibu untuk ikut serta dirinya....
Riko bercakap-cakap dengan sang Dokter, dan betapa terkejutnya dia saat dokter mengatakan bahwa hidup Rikardo bergantung dengan keinginan dia untuk hidup.
Riko terduduk dengan sesekali memejamkan mata, dia tak tau harus berkata apa nanti pada Tasya...
tak berapa lama Revaldi dan juga Tasya datang...
"Mas bagaimana kondisi suami ku? dia sudah sadar kan? aku yakin dia akan baik-baik saja..." Ucap Tasya dengan bercucuran air mata.
"Emmm, iya Rikardo baik-baik saja..." lirih Riko dengan berusaha menyembunyikan kenyataan yang ada.
"Nak ayo antar ibu menemui ayah mu..." ucap Tasya dengan menggandeng lengan Revaldi.
__ADS_1
"Maafkan atas kebohongan yang baru saja aku ucapkan pada mu Sya. aku tak ingin membuat kamu sedih..." gumam Riko dengan berjalan di belakang mereka.
Saat memasuki ruangan Tasya berlari dan memeluk tubuh sang suami yang belum sadarkan diri, dia menangis dan memanggil nama Rikardo dengan harapan sang suami dapat membuka mata dan tersenyum padanya...
"Tasya...."
Suara itu terdengar samar-samar.
"Iya mas aku disini, buka mata mu mas, aku ingin kamu bilang padaku jika kamu baik-baik saja. ayo mas buka...." Tasya menghuyung tubuh Rikardo.
"Mami jangan seperti itu. itu akan menyakiti ayah...." Ucap Revaldi.
"Tasya...Aku bahagia bisa menjadi suami kamu, aku, aku...." Rikardo berhenti berkata saat dia merasa semakin sesak dan panas pada bagian dada.
Uhuk uhuk...
Rikardo ter batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
seketika semua orang panik dan Revaldi berlari untuk mencari dokter.
"Semua di harap keluar, biar saya tangani pasien..." ucap sang Dokter dengan tegas.
namun Tasya bersikeras untuk berada di sisi suaminya.
__ADS_1
dengan sangat terpaksa Revaldi menyeret sang ibunda keluar dengan paksa.