
Rasa bersalah menyelimuti hati Dimas. Rahasia kelam yang sengaja di tutupi, terungkap sudah. Saat ini tidak ada kata pembelaan untuk melindungi dirinya, Karena dia tidak menyangkal atas tindakan buruknya di masa lalu.
Sebelum Dimas tersadar, dulunya dia adalah penikmat cinta. Dimana di setiap tempat, dia melabuhkan hati pada setiap wanita.
Cinta baginya hanya mainan, yang bisa dengan mudah di beli lalu di buang begitu bosan.
Namun di saat dia mengenal Alexa, baru dia sadar, bahwa cinta adalah sebuah permata.
Cinta harus di jaga, di rawat setiap detiknya, dan di simpan dengan aman di dalam sanubari.
Permata saja butuh perawatan lebih untuk menjaga kemurniannya , apalagi hati manusia, yang rawan hancur.
Seseorang tidak akan menjadi baik, sebelum mengunyah sebuah Dosa.
Setetes air tidak akan menenggelamkan lautan.( Kesalahan seseorang tidak akan menjadikan dia selalu buruk. Karena baik, buruknya seseorang tergantung bagaimana cara mereka memandang dan menilainya)
Di sepanjang jalan, tidak ada satu detik pun untuk tidak merasa bersalah. Kesalahannya di masa lalu, merusak masa depannya.
Komitmen yang baru terjalin antara dirinya dan Gea, kini di ambang kehancuran.
" Kenapa semua jadi seperti ini..." Dengan kesal, Dimas mengemudikan mobilnya. Sorot mata seolah bercerita tentang bagaimana gundah-gulana hatinya saat ini. Meski saat ini Dimas belum mengetahui hasil Tesnya, tapi dia sudah yakin, bahwa kemiripan antara keduanya adalah pasti.
" Aku butuh ketenangan. Ya, tempat itu." Dimas menuju tempat yang sudah lama di tinggalkan. Tempat dimana dulunya dia dan ke tiga sahabatnya berkumpul.
" Temui gua di tempat biasa." Ucap Dimas pada seorang yang dia telepon.
Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Semua kebimbangan menggumpal menjadi satu dalam otaknya.
Setelah beberapa saat kemudian, sampailah di tempat tujuan.
Seorang lelaki, berkulit putih, berpakaian rapi menyambut kedatangan Dimas.
" Halo Sob, lama tidak kesini. Bagaimana kabarnya?"
Dimas menepuk pundak lelaki yang tidak lain adalah pemilik Club malam tersebut...
" Baik. Ruang khusus buat gua ya, seperti biasa." Ucapnya dengan melihat sekeliling mencari ke dua sahabatnya. " Mereka belum datang?"
" Sepertinya belum. Kalau begitu, gua atur tempat dulu." Pemilik Club itu segera pergi.
Ruangan khusus untuk Dimas dan para sahabatnya, di bersihkan sesuai keinginan mereka. Satu ruangan VIP, tanpa adanya wanita penghibur. Seperti biasa, Mereka selalu memesan ruangan tanpa ada sentuhan dari para wanita malam. Yang mereka butuhkan adalah menepi dari keramaian, demi mencapai kesepakatan bersama. Mereka pergi ke Club, bukan karena ingin bermain dengan para wanita, melainkan ingin melepas rasa dalam diri mereka.
Tenang, dan hanya banyolan dari mereka lah yang mewarnai ruangan VIP tersebut.
Sambil menunggu sahabatnya, Dimas mengeluarkan sebatang rokok. Saat Dia duduk dan menikmati alunan musik, tiba-tiba ada satu wanita cantik mendekapnya lalu menutup mata Dimas menggunakan kedua tangan mungilnya.
" Tebak aku siapa?" Bisik wanita itu.
" Siapa?"
__ADS_1
Wanita itu membuka mata Dimas, lalu memperlihatkan wajahnya." Kejutan..."
Ya, dia adalah wanita yang pernah menjadi salah satu penghibur Dimas di Club itu. Namun sudah lama wanita itu pergi, dan Dimas tidak perduli tentangnya sama sekali.
" Kamu tidak mencari ku?" Dia bermanja di pangkuan Dimas. Tapi Lagi-lagi Dimas tidak merespon.
" Aku merindukan kamu, sayang." Tangan lincah, lembut, gemulai menyentuh dada Dimas.
" Singkirkan tangan kamu." Satu peringatan Dimas lontarkan padanya, namun wanita itu semakin menjadi. Dia semakin berani, dan mencium pipi Dimas....
" Pergi." Dengan kesal, Dimas mendorong wanita itu supaya lepas dari pangkuannya.
" Bukan aku mempermalukan kamu, tapi semua karena ulah kamu sendiri." Cetus Dimas. Dia segera pergi dari sana, lalu menghampiri sang pemilik Club, untuk menanyakan kesiapan Ruangan yang telah di pesan.
" Sial! kenapa dia kasar sekali." Celoteh wanita itu. Di depan semua orang, dia meras malu. Karena baru saja dia mendapat perlakuan kurang baik. Tentunya dia menjadi bahan tertawaan disana, sebab wanita malam setingkat dirinya, di lempar oleh seorang lelaki.
Saat Dia hendak berdiri, ada satu tangan menjulur di depan matanya...
" Biar saya bantu." Seorang tampan memakai jas hitam dengan dasi berwarna merah berdiri tepat di depannya. Dialah Jimmy, sahabat Dimas. " Sepertinya mulai sekarang, kamu harus mencarin Tuan baru, Nona." Ucap Jimmy dengan mengulas senyum.
" Woy...buruan." Teriak Leo.
" Maaf, saya harus segera pergi." Dengan merapihkan dasi, Jimmy melangkah meninggalkan wanita tersebut.
Mereka berdua masuk menuju ruangan yang telah di pesan Dimas sebelumnya.
" Sorry, kita agak terlambat." Leo menepuk pundak Dimas lalu duduk di sampingnya.
" Tumben Lo ajak kita kemari. Memangnya ada masalah apa?" Sambung Jimmy.
Dimas masih duduk melingkarkan tangan di atas perut. Dengan bersandar di bahu sofa, melihat langit-langit ruangan.
" Lily punya anak dari Gua."
Uhuk uhuk...
Leo tersedak ketika air yang dia minum berhenti di tenggorokan.
" Anak?" ucap mereka serempak.
" Bercanda Lo, Dim?" Leo meletakkan satu botol Wine di tangannya ke atas meja, lalu meraih lengan Dimas.
" Gila Lo,Dim. Lalu bagaimana dengan hubungan Lo sama Gea?"
" Sepertinya sulit bagiku menjelaskan semua ini. Semua ini karena kesalahan Gua sendiri. Coba aja dulu, gua tidak memainkan wanita, pasti masa depan gua tidak akan seperti sekarang ini." Dengan mengacak rambut ikalnya. " Di saat Gua mengambil keputusan untuk menjadikan Gea satu di dalam hidup Gua, disaat itu pula, datanglah berbagai macam masalah."
Kali ini Dimas merasa frustasi.
" Sabar, Sob. Semua pasti ada jalan keluarnya." Leo menepuk pundak Dimas, berusaha menguatkan hati Dimas.
__ADS_1
" Lagian, kenapa Lily bisa sampai Hamil? Dasar bodoh." Ucap Jimmy.
" Entahlah! Gua pusing Sob." Dimas kembali bersandar pada bahu sofa dan sedikit memejamkan mata. Kepalanya seakan berat, semua tergambar dengan jelas di otaknya.
Leo memberi sebuah kode pada Jimmy, supaya tidak melanjutkan pertanyaan lebih dalam lagi. Sebab saat ini, Dimas benar-benar kacau.
" Memang Dia sudah melakukan tes?" Bisik Jimmy pada Leo.
" Di lihat dari raut wajahnya, pasti dia sudah melakukan Tes."
Mereka berdua tidak berani berkata lebih, dan memilih menikmati malam ini dengan beberapa botol Wine di hadapan mereka.
Malam semakin larut, Mereka pun memutuskan untuk pulang.
Sesampainya di rumah, Dimas menuju kamarnya, lalu berbaring menelungkup di atas kasur. " Argghhhh...."
Penyesalan tidak lah guna, di saat Dosa mulai meminta pertanggung jawaban. Sebelum hari mu hancur, mulailah dari sekarang. Jaga apa yang layak kalian jaga, lindungi apa yang kalian anggap berharga. Jangan tunggu karma menjemputmu.
Tok tok...
" Dimas, bangun. Kamu harus ke kantor, Kan?"
Berkali-kali Fita mencoba membuka pintu, akan tetapi Pintunya terkunci. " Kenapa dengan anak ini? tidak biasanya dia bangun kesiangan." Khawatir dengan kondisi putranya, Fita segera mencari bantuan dari tukang kebun di rumahnya.
" Dobrak saja pak. Saya sangat khawatir...." Kepanikan terlihat jelas di wajahnya.
Brakkkkk....
Pintu berhasil di buka, Namun Dimas masih tertidur. Segera Fita berlari untuk memastikan putranya dalam kondisi baik-baik saja.
" Syukurlah, Dia hanya tertidur. Kalau begitu Bapak bisa kembali bekerja."
Tukang kebun tersebut pergi setelah menyaksikan majikannya baik-baik saja.
" Dimas..." Lirihnya sembari menghuyung lengan Dimas. " Astaga, badan kamu panas sekali." Fita menyentuh dahi Dimas.
" Mama...aku ingin Gea kembali." Bau alkohol masih melekat di mulutnya. Hingga Fita merasa mual..
" Kembali? memangnya Gea kemana?" Fita mengira hari ini Gea sudah berangkat ke kantor Ayahnya. Karena saat ini pemegang saham di kota itu adalah Gea. Fita sama sekali tidak tau permasalahan di antara mereka berdua.
Masih dalam mata terpejam, Dimas menyebut nama kekasihnya. Entah sadar atau tidak, yang pasti saat ini Dimas sangat membutuhkan Gea berada di sisinya.
" Gea, Gea, Gea."
Melihat Dimas seperti itu, segera dia menghubungi Gea lalu membawa Dimas ke Rumah Sakit.
Di perjalanan menuju Rumah Sakit, Lagi-lagi Dimas menyebut nama Gea tanpa ingin membuka matanya.
" Panasnya semakin tinggi. tapi dia masih saja menyebut nama Gea. Sebenarnya apa yang terjadi antara mereka berdua." Dengan sabar Fita mengusap kepala putranya.
__ADS_1
" Pak, tolong lebih cepat sedikit. Saya sangat khawatir dengan anak saya." Ucap Fita pada supir pribadinya.
Bagi seorang ibu, tidak akan tenang ketika melihat anaknya sakit. Terlebih seorang ibu memiliki ikatan batin yang cukup kuat. Jadi sesakit apa pun hati seorang anak, maka beliau mampu merasakannya.