
Sampai lah mereka di sebuah hotel berbintang.
Mereka mencari letak kartu kepemilikan kamar di saku celana Leo, setelah mendapatkan kartu tersebut, mereka pun hendak membuka pintu kamar.
Parahnya lagi mereka tidak tau kode pin dari kartu itu.
" Sob pin kamar Lo apa sih?." ucap Dimas.
Leo samar-samar mendengar ucapan mereka, dengan sekuat tenaga Ia berusaha mengingat kode pin pada kartu itu.
Tak berapa lama Leo sepintas teringat kode pin itu tertulis di belakang Kartu tersebut.
" Sepertinya ada di bekalang kartu ujung kanan..." lirih Leo setengah sadar.
" Eh buset, ada nama bini Tuan muda Re disini."
Jimmy yang masih berdiri memapah tubuh Leo, dengan segera dia melihat tulisan kecil pada kartu itu...
" Dasar gila, masih saja dia pakai nama bini orang. Untung saja Revaldi tidak ikut ke sini, kalau tidak bisa di patahin semua tulang Leo. " Dengan sedikit iba terhadap sahabatnya, Jimmy menyempatkan bergurau bersama di depan pintu.
" Tidak hanya itu, bahkan Revaldi bisa membuatnya menderita." Sambung Dimas.
" Dim, Lo bisa lebih cepet buka pintu itu tidak? pegel banget bahu Gua. Badannya berat seberat beban hidupnya....hehe."
" Lo kalau omong suka bener Jim...hahaha." Tawa Dimas pecah ketika melihat Leo habis terkena banyolan mereka.
__ADS_1
Setelah puas tertawa Dimas segera membuka pintu kamar hotel....
Dengan cepat Dimas membantu Jimmy memapah badan Leo lalu melemparnya ke tempat tidur.
" Masih merem aja tuh bocah." Kesal Jimmy melihat Leo terpejam pulas.
" Eh Jim, kita selidiki foto Risa yuk...." Tiba-tiba saja Dimas membuka ponsel Leo.
" Sepertinya foto ini sudah lama di ambil, coba kamu lihat bentuk fisik Risa sekarang dan foto ini, sepertinya sedikit berbeda." Jelas Dimas.
" Sepertinya begitu. Tapi coba kita cari dimana Risa berada sekarang, sepertinya hanya Risa yang mampu menjelaskan ini semua."
Tanpa menunggu waktu lama, Jimmy menghubunginya....
Dan benar saja Risa masih ada di sekitar kota itu.
" Leo kenapa?." Risa panik melihat kekasihnya terkapar di atas kasur.
" Jimmy, Dimas, jelaskan Leo kenapa?." Risa semakin histeris.
" Dia sedang mabuk di Club! Sepertinya dia mengalami depresi." Jawab Dimas.
" Ris, bisa kita bicara sebentar?." Sambung Jimmy.
" Lalu bagaimana dengan Leo?."
__ADS_1
" Tidak perlu khawatir! Dia aman selama ada aku disini." Dimas memutuskan untuk menemani Leo.
Dia juga ingin mencari titik temu atas permasalahan kedua belah pihak.
" Kalau begitu kami pergi dulu, Jaga Leo untuk ku..." Ucap Risa sembari memandang tubuh kekasihnya yang tengah terkapar di tepat tidur.
" Leo, bangun." Dimas menghuyung keras tubuhnya.
Hingga beberapa saat Leo masih saja terpejam.
Karena kesal, Dimas menyeret tubuh Leo masuk ke dalam kamar mandi...
" Heran Gua sama Lo, kenapa setiap ada masalah harus merepotkan orang lain."
Kesal dengan tingkah sahabatnya, Dimas pun mengguyurkan air di kepala Leo...
Sontak saja Leo terkejut.
" Dimas, gila Lo ya? jadi basah kan..." Dengan kesal Leo membalas Dimas dengan menyiramkan air.
" Yang gila itu Lo bukan Gua! Setiap ada masalah selalu saja Lo buat ulah. Apa tidak ada tempat lain selain lari ke Club? apa Lo tidak malu dengan gelar Dokter yang Lo miliki?." Dimas sangat marah hingga tanpa di sadari ia memukul wajah Leo.
" Jika Lo mau bahagia dengan cinta, maka jangan menghindari masalah lalu berlari ke tempat lain."
Semua kata-kata Dimas menancap di hati Leo, sehingga membuatnya tidak mampu bergerak atau pun membuka suara.
__ADS_1
Terdiam dalam sadar, memikirkan kesalahan yang ia lakukan.