HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

"Makan dulu, nanti makanan aden dingin..."Tuturnya lembut, sembari mengusap pundak Damar. Sosok wanita tua ini, selalu memberinya termpat ternyaman. Bahkan, mbok inah selalu menemani Damar dalam kondisi apa pun, sampai pernah satu ketika Damar sakit demam berdarah dan mbok inah juga yang merawatnya sampai dia sembuh. Saat itu Gilang merasa takut jika suatu saat dirinya jatuh sakit lagi, tidak ada kedua orang tuanya di dekatnya. Ia juga tidak tega melihat mbok Inah harus mondar mandir mengurus dirinya, dari situ ia memutuskan untuk menjadi seorang dokter. Di saat ia menyampaikan keinginannya kepada kedua orang tuanya, tentu mereka tidak mengijinkan. Sebab, Damar adalah pewaris tunggal di keluarga itu. Mereka ingin Damar meneruskan bisnis ayahnya. Damar sempat goyah kala itu, akan tetapi ia mendapat dukungan dari mbok Inah sampai akhirnya ia pun mengambil jurusan kedokteran. Lambat laun mereka dapat menerima keputusan Damar, sampai akhirnya Damar di pertemukan dengan Olive, tulang rusuknya.


"Kami akan segera turun sebentar lagi, mbok." ucap Gilang dengan penuh kelembutan.


"Kalau begitu, mbok turun dulu. Mbok mau ambil jemuran sepertinya sebentar lagi akan turun hujan"


Damar tersenyum "Terima kasih, mbok."


Mbok Inah membalas senyum kemudian pergi. Ketika Damar hendak hendak masuk, tiba tiba saja Olive memeluknya dari belakang "Mas...."


"Iya, sayang...." Segera berbalik, melihat wajah istrinya


Olive kembali menempel pada suaminya "Lapar, makan yuk"


Damar mengacak lembut rambut Olive, lalu membawanya dalam pelukan "Istriku ini menggemaskan sekali..." Seraya mencubit pipi Olive "Kalau begitu, mas ganti baju dulu, kamu tunggu di bawah."


"Oke..." Sebeluk Olive pergi, ia lebih dulu mencium pipi Damar. Olive pun menuruni anak tangga sambil berlari kecil


"Sayang, hati hati. Nanti kamu bisa jatuh..." Lantang Damar. Olive tidak mengindahkan Damar, ia hanya menoleh dengan senyum tipis lalu kembali berlari lagi.


"Dasar gadis ini..." Menggeleng kepala seraga menurup pintu kamar, hendak berganti pakaian.

__ADS_1


Sembari menunggu suaminya, Olive mengupas apel. Kebahagiaan Olive sangat sempurna. Bahkan, dalam kehidupan lalu belum pernah ia temui lelaki sebaik dan secinta ini padanya.


ting tong...


"Siapa, ya..." Olive meletakkan apel tersebut lalu berjalan hendak membuka pintu.


Ting tong...


kembali bel berbunyi...


"Siapa sih, tidak sabaran sekali..."Keaal Olive seraya menggapai gagang pintu.


"Siapa..." Setelah pintu terbuka, betapa terkejutnya Olive saat itu. Sosok lelaki tinggi juga tampan berdiri di hadapannya. Olive terpaku, mulutnya seolah terkunci rapat. Hanya mata keduanya saling memandang tanpa bersua.


"Bukankah anda putra dari Tuan Dimas..." Segera Damar menjabat tangan Gilang.


"Silahkan masuk..." Damar mengajak Gilang masuk bersamanya.


"Sayang, kenapa masih diam saja. Ayo masuk, sekalian kita ajak makan tamu kita." Tutur Damar.


Olive tidak tau harus berbuat apa. Dirinya benar benar tidak menyangka akan kedatangan Gilang . Perasaan bercampur aduk menjadi satu, sikap seperti apa yang harus ia perlihatkan di depan suaminya. Entah rasa benci atau perasaan macam apa yang telah menyelimuti dirinya.

__ADS_1


Mereka bertiga duduk di ruang tamu.


"Biar saya buatkan minum, dulu"


"Oh, iya. Tuan mau minum apa?" Ucap Damar kepada Gilang.


Gilang menatap Olive "Teh manis agak kental."


"Baik, saya buatkan dulu" Segera Olive berjalan menuju dapur. Dari tempatnya Gilang memandang punggung Olive dari belakang, nampak rambut sebahu terurai manja. Lekuk indah tubuh Olive membuatnya tidak berhenti memandang.


"Tuan Dimas..." Suara Damar mengejutkan lamunannya.


"Jangan panggil saya seperti itu. Panggil saja Gilang." mereka bercakap cakap sebentar.


"Boleh saya numpang ke kamar mandi..."


"Boleh, silahkan. Kamar mandi ada di dekat dapur." Jelas Damar. Saat itu Ponsel Damar pun berbunyi. "Maaf, saya angkat telpon dulu.."Damar menggapai ponselnya kemudian berjalan keluar.


Gilang pun berjalan menuju dapur, melihat sosok yang sangat ia cintai tengah sibuk membuat teh kesukaannya. Entah setan mana yang mengndalikan Gilabg saat ini "Saya sangat merindukan teh buatan kamu..." Gilang meraih pinggang ramping Olive.


Sintak saja Olive terkejut mendapari Gilang menempel sedemikian dekat "Apaan sih..." Kesal Olive seraya melepas diri "Jangan macam macam, kalau tidak...."

__ADS_1


Gilang kembali meraih pinggang Olive. meski terlihat Metinta, dengan sigap Gilang mencium bibir Olive.


"Emmmmmmm...." Olive meronta sebisa yang ia mampu. Namun, ciuman Gilang semakin kuat sampai ia hampir kehilangan nafas. setelah puas mencium Olive segera Gilang melepasnya "Ingat, kamu ini milikku selamanya." dengan ego ti ggi Gilang segera kembali menuju ruang tamu.


__ADS_2