
Setelah mengantar David ke Apartemen. Gea segera menuju kantor. Sesampainya disana Gea segera memulai semua pekerjaan dan bersiap untuk rapat dengan klien penting. Rapat berlangsung lama, hampir dua jam lamanya. Dengan langkah malas, dia kembali menuju ruang kerjanya.
" Akhirnya kelar juga..." Gea terlihat lelah setelah hampir semalaman tidak bisa tidur. Di tambah lagi harus menjemput David dan menangani semua urusan kantor.
" Lelah sekali." Dengan menyandarkan kelapa di atas meja, perlahan matanya terpejam. Di saat Gea tertidur datanglah David dengan membawa makan siang untuknya. Saat David mengetuk pintu tidak ada satu jawaban dari Gea, tapi asisten pribadinya bilang dia ada di dalam ruangan. Perlahan Dia masuk dan melihat Gea tertidur pulas di atas meja. David tidak enak hati membangunkannya.
" Sebenarnya lelaki seperti apa yang bisa merubah kamu menjadi seperti sekarang.." David menyibakkan rambut panjang Gea agar wajah cantiknya tidak tertutup.
" Dulu kamu tidak pernah patuh dengan siapa pun, tanggung jawab bagimu hanya sebuah mainan. Tapi sekarang demi tanggung jawab seperti ini, kamu sampai tertidur. Sungguh membuat ku penasaran."
Saat David mengusap kepalanya tiba-tiba Gea terbangun lalu memandanginya dengan tatapan tajam. " Mau apa kamu?" Mendorong David turun dari mejanya. " Mengganggu saja." Gea berpaling muka lalu kembali menyandarkan kepala." Pulang sana, aku masih bisa mengatasi semuanya."
David tersenyum. " Oke, tak apa jika kamu tidak membutuhkan bantuan ku, Tapi apakah kamu bisa menolak makanan kesukaan kamu ini?" Segera David membuka kotak makanan berisi nasi goreng dan beberapa makanan lain. Dia membuatnya sendiri khusus untuk Gea.
" Harum sekali..." Tanpa tunggu lama, Gea meraih kotak makan dari tangan David.
" Pasti kamu merindukan masakan ku ya, kan?" Dengan kembali meraih kotak makan di tangan Gea. " Sebelum kamu makan aku mau minta satu senyuman..."
Aroma wangi dari nasi goreng buatan David membuatnya tidak ingin menunda lama untuk melahapnya, Senyuman pun di berikan pada David. " Sini, biar aku makan."
Melihat Gea bisa kembali berselera makan membuatnya bahagia, karena dalam beberapa hari lalu Kakak dari Gea berkata padanya jika Gea tidak akan makan dengan benar saat mengalami tekanan.
" Pelan-pelan saja, makan yang benar. Jangan macam anak kecil seperti ini." David meraih wajah Gea lalu mengusap butiran nasi yang menempel di bibir manisnya.
" Jadi seperti ini kelakuan kamu di belakang ku.."
Sontak saja mereka terkejut mendapati seorang lelaki berdiri di depan pintu dengan memperlihatkan wajah garangnya.
__ADS_1
" Siapa dia?" Tanya David. Bukan jawaban yang di terima, melainkan hanya kediaman Gea. Dari ucapan lelaki itu, David mengerti bahwa dia adalah lelaki pilihan Gea.
" Aku kira kamu benar berubah, tapi nyatanya kamu masih seperti wanita tidak tau malu." kecam Dimas tanpa perduli dengan perasaan kekasihnya. Langkah kaki menggema di seluruh ruangan. Tatapan mata itu seolah menghardik diri Gea sampai dia tak bisa berkata sedikit pun.
" Jaga bicara anda, Tuan." David mulai tersulut emosi, tak terima Gea di hina serendah itu.
" Siapa kamu berani ikut campur dengan urusan kami?" Dimas mulai terbakar api cemburu. Ketenangan mulai menghilang terganti dengan luapan amarah.
Bruk....
Dimas memukul David sampai dia terjatuh di lantai. " Jangan macam-macam sama calon istri gua. Ngerti Lo?!"
" Cukup!" Segera Gea bangkit lalu membantu David berdiri. " Jika kamu menilai ku serendah itu, maka kamu benar. Lalu untuk apa lagi kamu mengakui ku sebagai calon istri dari Tuan Dimas terhormat ini? maaf, Anda terlalu baik untuk wanita murahan seperti saya."
" Maksud aku bukan seperti itu, tapi...."
Belum sempat Dimas menjelaskan semua ucapannya, Dia di kejutkan atas apa yang baru saja dia saksikan. Gea sengaja mencium bibir David di hadapannya demi untuk membuatnya diam.
Semakin bertambah emosi dalam diri Dimas, tak kuasa melihat wanitanya bercumbu dengan lelaki lain. Bahkan dirinya belum sempat memberikan ciuman itu untuk Dimas.
" Argghhhh..." Dimas membanting pintu Ruangan dengan sangat keras sebelum dia pergi.
Setelah Dimas pergi dari sana, Gea menangis tanpa henti. Hatinya hancur tak bersisa.
" Jangan paksa dirimu..." David memeluknya dengan erat. Ciuman yang di berikan Gea sangat menyakiti hati David saat ini. Karena sebenarnya semua itu hanya kepalsuan, dan dia menyadari itu.
Untuk beberapa saat Gea masih menangis dalam pelukannya. " Maaf.."
Hati siapa tidak sakit ketika melihat seorang terkasih menangis demi lelaki lain. Meski dia sadar, bahwa Gea bukan lagi miliknya tapi dia berharap cepat atau lambat Gea melihat ketulusannya. " Sudahlah, mari kita pulang." Segera David membawa Gea pulang. Di sepanjang perjalanan, Gea hanya diam. Pandangan terlihat kosong. Sehingga tanpa di sadari air mata mengalir di pipi.
__ADS_1
Wanita kuat seperti kamu bisa luluh hanya karena lelaki seperti dia..
Di banding dengan ku, dia bukan apa-apa.
Hal apa yang membuat kamu sampai jatuh cinta sedalam ini...
Bukankah dulu aku lebih tulus mencintai kamu, bahkan aku rela mengorbankan apa pun yang kamu minta, nyatanya kamu tidak bisa melihatku. Sudah berkali kali aku mengajari kamu cara merubah diri dengan baik, tapi kamu selalu acuh dan tidak perduli. Lalu kenapa kamu bisa mengendalikan semuanya hanya karena seorang lelaki seperti dia...
" Bisa tidak antar aku ke pantai? tempatnya tidak jauh dari sini..." Pinta Gea.
" Baiklah, tapi berjanjilah untuk tidak mengais. Aku lebih tertarik dengan watak kejam mu itu, jadi tolong sembunyikan air mata itu." Perlahan David mengusap air matanya.
" Kamu berhasil merubah diri sejauh ini dan kamu masih bisa menahan amarah mu. Luapkan semua sakit hatimu padaku. Sungguh, aku ingin merasakan pukulan dari kamu."
Ada sedikit senyuman mengembang di bibir Gea, namun terasa pahit. " Kalau begitu biar aku pukul kamu sampai habis..."
" Hahahaha...itu baru Gea." Dengan mencubit hidungnya. " Oh iya, aku dengar dari bang Raka, kamu sudah berganti penampilan dengan mengganti gaya busana kamu, tapi mana tidak ada yang berubah satu pun." Ucap David sembari mengamati pakaian yang melekat di badan Gea.
" Sepertinya aku masih belum siap menjadi seorang seperti itu, di tambah sekarang dia sudah kembali pada kehidupannya dulu. Entah kenapa aku merasa kecewa."Wajah cantiknya tertunduk mengingat betapa sulitnya dulu berjuang melawan dirinya sendiri demi menjadi pantas bersanding dengan Dimas.
" Kamu sabar ya, jika kalian berjodoh pasti Tuhan akan menunjukkan jalan. Jika kamu tidak berjodoh dengan dia, aku siap berjodoh dengan kamu." David menyeringai girang. Dia bisa kembali melihat wajah garang dari Gea setelah sekian lama tidak melihatnya. Wajah cantik Gea terlihat natural tanpa di buat-buat, tanpa senyum lembut kepalsuan.
" Sudahlah, jangan pamer wajah jelek kamu itu. Lebih baik kamu kasih cium aku sekali lagi....hehe" Banyolan David mampu membuat Gea tertawa lepas, seolah tak memiliki beban sedikit pun.
Dalam perjalanan yang cukup panjang, sesekali mereka mengungkit tentang masa lalu mereka dan kisah kejam yang pernah Gea lakukan padanya.
" Waktu aku tinggalin kamu dulu, kebayang deh sama wajah jelek kamu waktu nangis...hahaha." Tangisan Gea berubah menjadi tawa canda.
David merasa senang bisa mengembalikan semangat serta senyuman di bibir manis gadis lincah tersebut.
__ADS_1
Tawa ini sangat aku rindukan, sayangku.