
Beberapa jam kemudian....
" Le, gua jemput Revaldi dulu ya." ucap Dimas sembari meraih kunci mobil di atas meja.
" Biarkan saja dia kesini sendiri, manja sekali." sambung Leo.
" Jangan gitu Lo, biar pun Re kejam dan kasar, tapi dia juga yang udah bayar semua kerugian yang Lo perbuat." Cetus Jimmy dengan menepuk lengan Leo.
" Tidak tau terima kasih." Kesal Dimas.
" Ya, deh, iya."
" Jim, ikut yuk." Ajak Dimas.
" Kamu saja lah Dim..."
Jimmy terasa berat menggerakkan tubuhnya yang sudah nyaman di atas kasur.
Tidak mau melewatkan waktu untuk melepas penat.
" Kalau gitu gua pergi dulu." Dimas segera pergi setelah mendapat anggukan dari kedua sahabatnya tersebut.
Setelah beberapa menit Dimas melajukan kendaraan dan kini tibalah dia di sebuah pusat oleh-oleh di kota itu....
Dimas mencari keberadaan Revaldi, namun dia tidak kunjung menemukannya.
Dimas meraih ponselnya mencoba menghubungi Revaldi.
Bruk....
" Maaf, maaf, saya tidak sengaja."
" Kamu?." Ucap Dimas ketika melihat sosok yang dia kenali.
" Kamu sedang apa?."
__ADS_1
" Mencari Revaldi. Lalu kamu sedang apa disini?." Tanya Dimas menaruh curiga pada Risa.
" Jangan bilang kalau kamu sengaja ke sini untuk....."
" Dimas, disini." Revaldi melambaikan tangan dengan membawa barang belanjaan.
Dengan cepat Dimas mendekati Revaldi dengan tatapan tajam.
Ia takut jika Revaldi kembali bermain api dengan mantan kekasihnya itu.
Kecurigaan itu semakin kuat saat mereka tengah berada di tempat yang sama di waktu yang sama pula....
" Siapa yang sedang bersama kamu tadi?." Cetus Dimas.
" Aku sendiri. Memangnya kenapa?." Revaldi merasa heran dengan pertanyaan itu, bahkan ia juga melihat ada hal aneh dalam tatapan mata sahabatnya tersebut.
" Kamu tadi pasti bertamu dengan Risa kan?."
" Isa? bukankan dia ada di Eropa?."
Sepertinya sesuatu mulai coba dia sembunyikan dari Dimas...
Entahlah, apa yang sedang dia sembunyikan.
Tapi Dimas sangat curiga pada sikap Revaldi saat ini.
" Jangan bohongi aku sob, aku lebih kenal siapa kamu dari pada yang lainnya." Dimas menepuk pundak Revaldi lalu meraih barang belanjaan Revaldi.
" Dimas...."
Dimas pun menoleh lalu menatap Revaldi.
" Sudahlah....kita pergi sekarang."
Meraka menuju parkiran lalu menuju tempat dimana Leo berada sekarang.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Dimas hanya diam tanpa perduli dengan ucapan Revaldi sedikit pun.
Ia masih menduga duga hal yang matanya tidak mengetahui dengan jelas.
" Dim, gua mau jujur." lirih Revaldi.
" Apa?."
" Sebenarnya tadi gua sengaja bertemu dengan Isa."
Tiba-tiba saja Dimas menghentikan laju kendaraan...
" Lo udah gila Re? jangan sampai Lo terjebak oleh cinta masa lalu lagi...." Dimas murka mendengar pernyataan Revaldi.
" Dengerin dulu penjelasan gua..."
" Sudah ku duga dari awal, bahwa kalian diam-diam masih saling berhubungan." Ucap Dimas tanpa perduli perasaan Revaldi sedikitpun.
Plak....
Satu tamparan di pipi Dimas.
" Jangan sembarangan bicara kalau Lo tidak tau masalah yang sebenarnya." Maki Ravaldi.
" Lalu apa?."
" Awalnya gua melihat tayangan dia dengan Leo, dan gua memintanya bertemu disini. Namun pertemuan ini sama sekali tidak membahas tentang rasa atau pun masa lalu.
Aku hanya ingin bicara sesuatu padanya hanya itu saja, tidak lebih." Jelas Revaldi.
" Simpan penjelasan itu untuk istri mu nanti." Cetus Dimas dengan melanjutkan laju kendaraan.
" Dim, gua berani bersumpah jika gua dan Isa tidak ada main di belakang. Sumpah!." Revaldi masih berusaha meyakinkan Dimas.
Namun Dimas mulai kesal dengan Revaldi, sehingga kini dia memilih untuk tidak mau tau lagi.
__ADS_1