
Di saat mereka sudah di dalam kamar, tiba tiba Fanya mendorong tubuh Damar ke atas ranjang. sampai Tubuh kekar Damar terhempas, dan dada bidangnya terlihat sexy di tambah bulu halus di atasnya. Fanya segera menindih tubuh Damar yang sudah tergeletak tidak berdaya matanya ingin menolak diri Fanya tapi kelihaian Fanya di atas ranjang membuat hasratnya memuncak. Berukang kali Damar memejamkan mata, yang ia lihat saat ini bukan wanita lain melainkan Olive istrinya. Senyum di wajah Fanya mulai mengembang "Sayang aku sangat merindukan kamu" Perlahan Fanya mengusap lembut dada Damar sembari bibirnya menyambut ciuman Damar. Hanya dalam beberapa menit saja mereka berdua salaing memanggut bibir, decak basah dari mulur keduanya terdengar nyaring sampai mereka bergulat menikmati irama hasrat dalam tubuh. Jari jemari Fanya lihai bermain kesana kemari, membuat Damar terpejam keenakan.
Sebelumnya Fanya lebih dulu memasang cctv di kamarnya, bertujuan untuk hal yang sudah di rencanakan. Fanya adalah sosok wanita ambisius, setiap apa yang ia kehendaki harus menjaji miliknya.
"Saya sangat mencintai kamu Olivia Sunandar" Damar mulai meracau tidak karuan. Mendengar nama wanita lain di sebut Damar tentu Fanya kehilangan hasrat bercintanya, semangat itu seketika melemah dengan satu kecemburuan. Dari dulu Fanya paling tidak suka di bandingkan dengan wanita lain. Sebisanya Fanya ingin di pandang seorang diri. Itulah keegoisan Fanya, meski dia tidak sukadi sandingkan dengan orang lain tapi dulu Fanya kerap membandingkan laki laki yang dekat dengannya, dari seberapa tampan, kaya, dan tinggi pendidikan.
"Dalam ketidak sadarannya saja yang di sebut Olive, Olive, Olive dan Olive....menyebalkan" Fanya mendorong Damar lalu ia bangkit menuju jendela kamar. Fanya sangat kesal sekali, hal indah yang di bayangkan malah menjadi sebuah kejengkelan.
Dengan sempoyongan Damar berusaha berdiri, namun tiba tiba dia melihat punggung dengan rambut pendek terurai "Dia bukan Olive.." Damar sadar jika dirinya dalam kendali obat obatan, seketika dia meraih air putih di meja lalu mengguyurkan ke kepalanya.
"Hey apa yang kamu lakukan?" Fanya menoleh dan enghentikan Damar, ia meraih gelas di tangan Damar.
"Fanya lepaskan saya" Meski belum sadar sepenuhnya tapi Damar mampu mengendalikan diri. Sebelum masuk dalam semak belukar lebih baik mundur dari pada menantang maut.
"Aaaa.... tolong, tolong, tolong saya" Fanya mulai berukah, ia membuka baju di depan Damar dan hanya meninggalkan pakaian dalam saja.
__ADS_1
"Jangan gila kamu, minggir" Damar pun mendorong Fanya sampai terhempas di atas kasur.
"Tolong saya mau di perkosa" Teriak Fanya.
Tidak lama kemudian datangan para tetangga yang mendengar teriakan Fanya.
"Ada apa ini?" Salah seorang warga mengintip dari balik jendela rumah.
"Sepertinya dari dalam rumah ini ada yang minta tolong Pak" Jawab seorang lainnya.
Setelah pintu di dobrak semuanya masuk.
"Tolong...." Kembali Fanya berteriak.
"Astagfirullah...." Mereka melihat sosok Damar tengah menindih tubuh Fanya.
__ADS_1
"Pak, tolong saya dia mau memperkosa saya" Fanya berpura pura menangis seolah benar adanya.
"Tidak, tidak, bukan seperti itu. Dia yang memaksa saya untuk...."
"Halah banyak alasan kita punya mata nggak usah bohong kamu" Damar di seret kemudian ada satu pemuda hendak memukulnya.
"Tunggu, tunggu, jangan main hakim sendiri. Lebih baik kita serahkan pada pihak berwajib" Seorang pria paruh baya menghentikan si pemuda itu.
Buak....
Karena geram akhirnya si pemuda itu memukul wajah Damar sampai sudut bibir Damar berdarah. Fanya menutup mulutnya sembari memegangi selimut di tubuhnya.
"Seret dia ke rumah pak Rt, ayo seret dia"
Semua orang menyeret Damar menuju rumah ketua Rt setempat.
__ADS_1
"Selangkah lebih maju dari perkiraan" Fanya tersenyum licik, pasalnya rencana itu akan segera tercapai.