
" Seperti itukah pandangan kamu terhadapku?" Ucap Raka.
Gea merasakan sakit teramat dalam mendengar setiap kalimat keluar dari mulut bocah kecil tersebut. Tapi dia juga berhak bahagia atas perjuangan selama ini, meski jalannya sangat terjal.
" Maaf, bukan maksud ku seperti itu, hanya saja aku terlalu mencintai dia bang. Apakah aku harus melepaskan dia seperti aku melepaskan Leo untuk orang lain? aku benci hidup ini bahkan aku jauh membenci diriku sendiri." Ucap Gea penuh air mata, setiap hari dalam hidupnya baru kali ini merasakan bahagia yang sesungguhnya, bersama dengan Dimas. Namun di saat dia mendapatkan semua, ada banyak rintangan di depan mata.
" Gea...maafkan abang." Dengan sigap Raka memeluk adiknya, mendekap penuh kasih. Dadanya ikut merasakan bagaimana perih kehidupan percintaan adiknya.
Hik hik....
Merasa lemah dalam dekapan Raka, terhanyut dalam luka yang baru saja di lalui, terjebak dalam kondisi menyakitkan.
" Sudah cukup air mata ini. Jika benar kamu bahagia dengan terpaksa abang merestui pernikahan kalian." Begitu menyakitkan seolah detak jantungnya berhenti bernafas. Air mata adiknya seakan membunuhnya dengan sangat kejam.
" Benarkah?" Gea mengusap air matanya lalu mendongak melihat wajah tampan Raka, sedangkan Raka hanya mampu memaksakan senyum dengan sedikit menganggukkan kepala.
" Aku sangat menyayangi Bang Raka...." Tiba-tiba Gea mencium pipi abangnya.
__ADS_1
Tentu saja wajah Raka berubah menjadi memerah seperti sebuah tomat.
" Sekali lagi.." Ucap Raka sembari menunjuk pipi satunya.
Muachhh...
Gea mencium abangnya sangat tulus, sampai hati Raka bersorak bahagia. Raka tersenyum bisa kembali mendapatkan sebuah cinta dari adiknya. Meski bagi kebanyakan orang hal seperti itu tidak pantas, tapi bagi Gea dan Raka sudah hal yang wajar. Karena dulunya mereka sering mengungkapkan rasa sayangnya melalui sebuah ciuman.
" Kalau begitu bolehkah abang meminta satu permintaan dari kamu?"
" Abang ingin menjadikan ibu dari anak itu sebagai koleksi wanitaku. Dia akan ku bawa kembali pulang."
Gea mengerutkan dahi, menatap tajam mata kakaknya. " Koleksi?"
Raka membuang muka, menyembunyikan wajah merahnya...
" Hanya koleksi tidak lebih dari itu."
__ADS_1
" Lalu bagaimana dengan Gilang? jika Lily ikut dengan abang tentunya Gilang juga akan ikut."
" Biarkan dia tetap tinggal disini bersama kalian, anggap saja dia adalah kado pernikahan dari abang."
Gea semakin tidak mengerti jalan pikiran abangnya, bukankah anak itu adalah milik Dimas lalu kenapa dia memberi anak itu sebagai sebuah hadiah...
" Kalau kamu tidak mendukungku, maka jangan harap kamu bisa kembali pada suamimu." Meraih stir kemudi, melajukan kendaraan.
" Kesepakatan macam apa ini?" Kesal Gea. Dia tidak tau harus berbuat apa, tapi jika dia tidak menuruti permintaan abangnya maka dia harus siap terpisah dari Dimas.
Akan tetapi jika menuruti semua itu, dia akan sangat berdosa karena menjauhkan seorang anak dari ibu kandungnya sendiri.
" Semua demi kebaikan kita. Abang tidak akan kembali meminta apa yang sudah kamu tolak." Ucap Raka seolah tidak ingin mendapatkan jawaban menyakitkan dari adiknya.
Sebagai seorang kakak, tidak akan merasa bahagia jika adiknya dalam belenggu kesedihan. Sepahit apa pun pil kehidupan yang harus di telan, Raka mulai melihat secerca sinar untuk mengembalikan bahagia Adik tercintanya.
Seberapa berat ujian dalam sebuah hubungan, akan terasa ringan jika Tuhan memberi restu kepada mereka. Bagi-Nya tidak ada satu hal mustahil untuk mengangkat luka dari hati hambanya. Bagi-Nya terlalu mudah menampik secuil luka dari hati manusia-Nya dan mengganti bahagia .
__ADS_1