
"Mas..." Alisya masuk melihat sosok suaminya sudah tidak lagi di kamar.
"Mas Gilang kemana?"
Kala mendengar gemericik air Alisya pun segera menyiapkan baju untuk suaminya.
Tak berapa lama Gilang keluar dengan hanya berbalut handuk di bagian pinggang ke bawah dan tenjang dada, rambut basah Gilang menetes di tubuh indanya.
"Astagfirullah ..." Alisya berbalik badan merasa malu melihat sosok Gilang bertelanjang dada. Alisya lupa jika sosok laki laki itu adalah suaminya. Harusnya Alisya tidak munutup mata melihat pemandangan seperti itu.
"Harusnya mas pakai baju dulu baru keluar..."
Segera Gilang mendekati Alisya "Kenapa? bukankah saya suami kamu. Apa hak kamu mengatur saya?" Gilang sengaja berdiri tepat di depan Alisya, namun wajah berbalut cadar itu tengah di tutup kedua tangan.
__ADS_1
Ketika Alisya membuka kedua tangannya, tiba tiba dia terkejut mendapati suaminya tengah menatap wajahnya.
"Mas, mau apa kamu?" Alisya melangkah mundur kala Gilang melangkahkan kaki maju. Tatapan mata keduanya bertemu.
"Ahhh....." Tanpa sengaja Alista terpentok tepi ranjang hingga membuatnya jatuh di atas kasur.
Gilang membuang pandang kala Alisya terbaring seperti itu. Demi menjaga hati dan mata, Gilang membelakangi Alisya "Jangan menggodaku, itu tidak akan mempan" Tadinya Gilang ingin mempermainkan Alisya sedikit saja, malah ia jadi di permainkan oleh Hasratnya sendiri.
Alisya pun segera merapihkan Cadar lalu bangkit "Saya tidak lagi menggoda kamu, mas" Jelasnya sambil menatapa gamis syar'i yang ia kenakan.
"Tidak, saya bisa cari sendiri" Tanpa perasaaan Gilang menolak baju yang telah Alisya siapkan.
Alisya teridam dengan masih memegang baju yang telah ia siapakan sebelumnya. Tentunya hati Alisya sakit bukan main, setekah penghianata dan sikap acuh Gilang tetap saja ia masih ingin mempertahankan rumah tangganya bersama Gilang. Sehancur apa pun hati Alisya saat ini, ia masih memilih bertahan dan yakin jika Tuhan telah memilihkan jodoh terbaiknya, meski harus berjuang melawan keangkuhan Gilang saat ini.
__ADS_1
"Baiklah, mas. Kalau begitu mas shalat dulu, pasti mas belum shalat, kan?" Ucap Alisya sembari kembali memasukkan baju ke dalam lemari pakaian. Gilang pun memakai kemeja yang ia pilih "Apa urusan kamu, mau saya shalat atau tidak itu bukan urusan kamu"
Aslisya memejamkan mata, menerima kesakitan luar biasa. "Mas, shalat itu wajib bagi umat muslim. Jangan tinggalkan kewajiban itu, Allah tidak suka dengan hamba yang lalai akan shalat"
"Kamu cerewet sekali, sih. Kalau pun saya shalat tidak akan merubah kenyataan bahwa saya tidak menyukai kamu sedikit pun." Karena kesal Gilang pun pergi dengan membawa ponselnya, ia berjalan menuju balkon kamar.
"Mas, mas, dengerin saya dulu. Saya hanya mengingatkan kamu untuk shalat kenapa mas harus marah." Alisya mengikuti langkah Gilang.
"Kamu ini sama menyebalkan seperti mereka..." Tatapan tajam Gilang membuat Alisya menunduk ketakutan.
"Saya ini capek mau istirahat tapi terus menceramahi saya, pusing saya dengernya"
"Maaf, mas jika ucapan saya membuat mas kesal. Saya minta maaf" Segera Alisya meinggalkan Gilang, ia pun duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Ya Allah, hamba terima semua luka ini, tapi hambn mohon buka pintu hati suamiku agar selalu dekat dengan-Mu. Hamba ingin menuju jannah bersamanya" Air mata Alisya mengalir