
Sebuah tempat nyaman yang sering mereka datangi semasa mereka pacaran dulu, tempat itu terletak di perbukitan di belakang pemukiman warga setempat.
jarak tempuh lumayan jauh hingga memakan waktu sekitar tiga jam lamanya.
Sepanjang perjalanan, Leo sesekali melirik Criztine. Betapa hancur hatinya saat ia kembali melihat Criztine terdiam dalam lamunan, angan-angan melayang tinggi bersama dengan kesedihan.
" Criz, apakah kamu mau makan jagung bakar disana?." Sembari menunjuk tepi jalan. " Sepertinya sudah lama kita tidak makan bersama." Leo tersenyum saat Criztine menatap wajahnya.
" Tidak mau!."
Ucapan Criztine bagaikan ombak di lautan yang menenggelamkan para peselancar.
" Sebenarnya kamu ingin membawaku kemana?." Tanya Criztine.
" Aku akan membawa kamu ke suatu tempat, dan sebentar lagi kita akan sampai. Tapi sebelum itu kamu pejamkan mata dulu." Jelas Leo dengan Fokus pada jalanan terjal.
" Tidak perlu seperti itu. Aku tidak suka!." Cetus Criztine.
Kelembutan hati seseorang akan membatu saat dirinya merasa lelah atas apa yang menimpa dirinya.
__ADS_1
Saat ini mobil menepi di pinggir jalan. Entah apa yang membuatnya menghentikan laju kendaraan, intinya Leo sangat sakit hati mendengar ketusnya mulut Criztine.
" Criz, aku mohon jangan seperti ini." Leo meraih kedua tangan Criztine lalu menggenggam erat. " Mereka sudah bertanggung jawab atas perbuatan mereka, aku tidak akan pernah melarikan diri dari hukum."
" Ingin rasanya aku menjadi orang pemaaf, tapi kenapa keluarga kamu selalu memberiku rasa sakit?... Dahulu kita pernah tersiksa atas kemauan Mama kamu, dan karena keluarga kamulah aku dan Ayah terusir dari kota. Bahkan tidak hanya sampai disana, keluarga kamu menyebar fitnah atas kebangkrutan perusahaan kami. Mereka bilang bahwa Ayah melakukan korupsi, padahal tidak sedikit pun Ayah mengambil hak orang lain. Dan sekarang Mama kamu kembali membawa kematian pada Ayahku. Semua ini terjadi karena kamu." Cristine menepis tangan Leo.
Melihat amarah membara di hati Criztine, seketika itu Leo langsung memeluknya.
" Jika saja waktu bisa ku putar kembali, maka aku memilih untuk tidak hadir dalam kehidupan kamu Criz. Aku tidak sanggup melihat kamu hidup dalam kepedihan seperti ini. Maaf, maaf, maaf." Leo merasa sangat bersalah atas hilangnya bahagia dalam kehidupan Criztine.
" Sudahlah! semua sudah terjadi, sekarang aku ingin kita segera sampai di tempat itu." Merasa tidak nyaman Criztine pun memilih untuk mengalihkan arah pembicaraan.
Sekejam apa pun dia saat ini, tapi dia masih memiliki jiwa pemaaf.
Tak menunggu waktu lama mobil melaju menuju tempat tujuan.
Sesampainya disana, Criztine di kejutkan oleh hamparan rerumputan.
" Tempat ini sungguh telah berubah." Lirih Leo.
__ADS_1
Criztine masih membisu dalam kekaguman serta kerinduan pada tempat tersebut.
" Duduklah." Leo membersihkan dedaunan yang berjatuhan di pohon besar tempat mereka berdiri saat ini.
" Apa kamu ingat Criz, kita dulu sering kemari untuk melepaskan beban pikiran?." tatapan Leo terbuang jauh, sejauh mata mampu memandang.
" Ayah." Criztine berteriak, suaranya menggema seolah memenuhi seisi dunia.
" Criztine, maafkan aku?." Lirih Leo sembari memeluknya dari belakang.
" Leo, lepaskan. Jangan membuatku membenci kamu." Ucap Criztine.
" Beri aku satu kesempatan untuk membuat kamu tenang dalam dekapanku? aku mohon, sekali saja." Bisik Leo.
Criztine terdiam, karena sesungguhnya dia merasa tenang saat berada dalam dekapan mantan kekasihnya tersebut.
" Saat ini dan seterusnya aku Leonard akan ikhlas melepaskan cinta diantara kita. Aku ingin melepaskan belenggu derita dalam hidup kamu." ucap Leo penuh keyakinan.
Criztine memejamkan mata, ia merasa saat ini Leo lebih sedih dari dirinya.
__ADS_1
Siksaan Yang Criztine terima tidak sebanding dengan derita batin yang selama ini dia rasakan.
Criztine tidak menampik semua itu, namun saat ini dia tengah di kuasai oleh kesedihan.