
Setelah pertemuan pertamanya dengan Olive kini Gilang semakin tersiksa atas kesalahan yang ia sendiri tidak menyadarinya tapi, semakin ia melupakan dan semakin membenci Olive semakin besar pula rasa bersalahnya. Dalam keheningan malam tersemat sebuah kerisauan hati, sampai sulit baginya untuk menikmati indah dunia mimpi. Setiap kali mata terpejam hanya ada bayangan wajah gadis tersebut, antara salah dan benar, antara mata dan hati. Meski ia tidak mengingat semua kejadian itu tapi, hatinya membenarkan kesalahan saat itu. Meski ia tak melakukannya dengan sadar tapi, ada sedikit keganjalan yang ia sendiri tau bahwa telah terjadi sesuatu antara mereka berdua.
"Sebenarnya siapa yang telah menjebakku?" ucap Gilang sembari merebahkan diri di atas kasur mewahnya "Benar kata dia...jika dia ingin balas dendam kenapa dia yang jadi umpan, lalu siapa dalang di balik semua ini..." Sesaat ia terdiam kemudian menggapai ponselnya yang berada di atas meja dekat tempat tidurnya. Tanpa tunggu lama Gilang menghubungi seseorang yang saat itu tengah bersamanya.
"Datang ke rumah segera.." singkatnya tanpa mendengar jawaban dari temannya tersebut.
Tok tok tok...
"Kakak...." Ucap Amora dari luar pintu kamar Gilang yang pada saat itu membawakan makanan untuknya "Kenapa kakak tidak makan malam? jangan bilang mama sama papa minta menantu lagi..." Sengaja Amora memancing amarah kakaknya sebab semenjak bertemu dengan wanita itu kakaknya tidak lagi marah padanya. Sifat posesifnya juga menghilang, bahkan saat Amora pulang kuliah di antar teman laki laki Kakaknya hanya diam saja.
"Saya tidak mau." Ucapnya sambil bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi "Nanti kakak sakit lho, makanlah dulu..." Bujuk Amora
"Amora, jangan paksa kakak. nanti kalau lapar pasti kakak makan sendiri tidak usah sok perhatian kamu. Ujung ujungnya pasti duit..." Ucapnya dari balik pintu kamar mandi.
Amora tersenyum akhirnya Gilang memacah keheningannya selama beberapa hari dan itu membuat Amora bahagia. "Nah itu baru kakak ku tercinta..."
"Dasar mata duitan, nanti kakak tranfer kamu..."
Amora meletakkan makanan dengan meninggalkan senyuman manis "Akhirnya si galak itu kembali normal..."lirihnya dengan tertawa lirih "Kakakku sayang jangan lupa di makan ya, itu nasi goreng spesial ala chef Amor lho..." Tanpa berlama lama Amora keluar dari kamar kakaknya.
Sesaat kemudain Gilqng kelaur dengan mengeringkan wajahnya menggunkan handuk "Makanan apa itu..."Gilang mendekati meja "Nasi goreng hitam kaya begini di bilang spesial...mana telornya berantakan, piringnya belepotan, tapi rasanya...." Mengambil satu sendok lalu mencicipinya
"Huekkkkk....asin sekali" Gilang pun membuang nasi yang ada di mulutnya "Tikus saja tidak akan sanggup makan ini..."Melihat bentuk dan rasa nasi goreng buatan adiknya itu membuatnya kenyang sampai tak sanggup ia bayangkan bagaimana satu butir nasi akan masuk ke dalam usunya "Semoga ususku tidak kenapa kenapa...."Ucapnya seraya mengusap perut.
Amora memang tidak pandai dalam hal memasak bahkan menggoreng telor saja bisa berantakan macam seseirang yang di tinggalkan mantanya menikah hahahaha
__ADS_1
"Kenapa dia belum juga datang..."Meraih ponsel lalu menghubungi seseorang. Namun tidak ada jawaban sama sekali "Apa butuh waktu selama itu..."
"Ada apa Gil....?" Datangan Rio dengan di gandeng Amora
"Apa apaan ini..."Gilang menghampiri mereka lalu melepas tangan adiknya"Jangan centil kamu...keluar sana" Gilang mendorong adiknya sampai ke luar dan mengunci kamar.
"kakak, aku kan pengen sama kak Rio..."Amora kembali bermanja di lengan Rio namun, dengan segera Gilang melemparnya keluar dari kamar.
"Kakak....tunggu dulu qku masih mau ketemu kak Rio" Tanpa pikir panjang Gilang menutup pintu dengan rapat.
"Ada apa sapertinya ada yang penting...."
"Katakan padaku apa yang terjadi saat kita di club saat itu?" tatapan mata Gilang seolah membunuh tanpa menyentuh, sikapnya juga aneh tidak seperti biasanya.
"Maaf apa? jangan bilang kamu yang menjebakku..."
"Ha.... maksud kamu?" Tanya Rio heran.
"Jangan pura pura...kamu kan, yang mencari wanita untuk aku saat itu" Gilang mengepalkan tangan hendak memberinya tinju namun, belum sempat ia melayangkan pukulan, Rio lebih dulu menangkisnya "Wanita mana yang kamu bicarakan? saat itu aku terlalu khawatir dengan kondisi mamaku yang saat itu kecelakaan jadi aku tinggalkan kamu di sana. Masalah menjebak, wanita dan lain lain aku tidak tau, sumpah." tagas Rio
"Jadi kamu tidak tau apa pun tentang kejadian itu..." Gilang pun memalingkan wajah mengacak rambutnya lalu duduk di tepi ranjang. Rio masih belum mengerti apa yang di maksud Gilang "Coba kamu cerita masalahanya..."
Dengan kepala menunduk Gilang pun menceriyakan semuanya "Semua itu terjadi tanpa aku sadari...."
"Kalau begitu aku akan mencari tau semua kejadian itu, lebih baik kamu menemui gadis itu sebab, dia pasti sangat tersakiti. Entah salah atau benar kamu wajib meminta maaf padanya."Rio mencoba memberi saran yang terbaik untuknya, namun tatapan mata Gilang seolah menolak "Tapi semu terserah kamu...jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari. Jangan sampai dia hamil anak kamu..." Rio bernajak dari tempatnya kamudian pergi meninggalkan Gilang yang masih terdiam.
__ADS_1
"Jika memang semua ini salahku maka, aku akan menikahinya...." lirihnya
Tanpa Gilang sadari Amora telah mendengar percakapan mereka berdua dari balik pintu dan tidak ada satu pun orang menyadarinya. Setelah Rio keluar dari kamar kakaknya segera ia menghentikan Rio lalu menunjukkan sesuatu yang ternyata itu adalah foto Olive "Dia orangnya..."
"Wanita ini....bukankah dia adalah asisten kakakmu?"
Amora mengangguk "Beberapa hari lalu aku dan kakak bertemu dia di jalan dan sepertinya kakak sangat marah..."jelas Amora
Rio pun terkejut melihat wanita itu adalah seseorang yang pernah dekat dengan Gilang di masa lalu, meski hanya sekedar atasan dan asisten "Pinjam hp kamu..." Rio pun menyimpan foto tersebut lalu pergi.
"Amora..." Panggil Gilang dari kejauhan. Amora pun berbalik badan melihat sosok kakaknya ada di depannya "Kamu temani kakak keluar..." Singkatnya dengan menarik tangan Amora.
"Kemana kak?"
"Jangan banyak tanya.."
Mereka pun menuju sebuah tempat, Amora melihat wajah Gilqng berkrrut di bagian kening pertanda banyaknya beban pikiran. Namun, Amora tidak berani ikut campur dalam urusan kakaknya, ia pun hanya bisa berdoa dan terdiam . Tak berapa lama mereka sampai di rumah kedua orang tuanya
"Jangan bilang kakak mau aku tinggal di rumah ini lagi, aku tidak mau."
"Ada hal yang lebih penting dari itu, sekarang kita masuk"
Nada bicara Gilang terlihat serius sampai Amora hanya bisa pasrah dan mengikuti kakaknya.
"Hal penting apa sampai kakak membawaku pulang..."
__ADS_1