
Dua hari kemudian...
Pesta pernikahan di gelar dengan sangat mewah di balut nuansa islami. Semua tamu mulai berdatangan dan keluarga mempelai pria sudah menunggu di pelaminan bersama wali nikah dan juga bapak penghulu. Mereka semua nampak tegang ketika penghulu menjabat tangan Gilang seraya menuntunnya mengucap janji suci di depan wali, keluarga dan para tamu undangan. Setelah akad nikah terlaksana, penganting wanita keluar di gandeng oleh kedua wanita cantik yang tidak lain adalah ibunda Gilang dan juga ibunda Alisya.
"Jangan gugup, sayang"Bisik Gea pada menantunya. Alisya hanya mengangguk dengan tangan yang gemetaran.
"Sekarang kalian adalah sah suami dan istri" Kata pak penghulu. Alisya pun duduk di pelaminan bersanding dengan Gilang. Seperti layaknya suami dan istri, Alisya pun hendak mencium tangan Gilang. Saat tangan Gilang di cium oleh Alisya, mata Gilang tertuju pada seorang wanita yang baru saja datang "Olive..."
Alisya pun melihat sosok wanita yang baru saja datang. Sosok wanita cantik berkulit putih dengan balutan busana muslim nan cantik.
Segera Gilang bangkit kemudian menghampiri Olive "Olive, ikut saya" Gilang menyeret tangan Olive, ia tidak perduli banyaknya mata yang menatap ke arahnya. Yang ia perdulikan saat ini adalah kedatangan Olive...
"Gilang, berhenti kamu"Dimas berlari hendak menghenrikan putranya tersebut. Namun, Gilang tidak perduli sama sekali.
Gilang membawa Olive ke mobilnya lalu membawanya pergi. Awalnya Olive sempat menolak karena pasti banyak orang menilai buruk atas dirinya "Kamu sudah gila, ya. Ini hari pernikahan kamu tapi kamu malah pergi begitu saja..." Maki Olive dengan berusaha menghentikan stir kemudi.
__ADS_1
"Jangan seperti itu, sangat berbahaya." Gilang menepis tangan Olive ketika mobil hampir hilang kendali. "Kamu ini apa apaan sih, kita bisa mati" Maki Gilang dengan nada tinggi.
"Mati pun aku tidak perduli..." Ketusnya seraya membuang muka. Hati Olive hancur kala Gilang menodainya meski tanpa mereka sadar. Kejadian waktu itu masih membekas jelas di mata Olive sampai kehidupannya menjadi kelam tanpa cahaya.
"Jangan bicara omong kosong..." Gilang pun menepikan mobilnya di tepi jalan
Gilang meraih dagu Olive membawanya dalam satu pandangan "Kenapa kamu menghilang begitu lama?"
"Apa perduli anda?" Olive melepas tangan Gilang "Lebih baik anda fokus dengan pernikahan anda" Sikap dingin Olive membuatnya geram sampai ia pun memukul stir kemudi "Saya hampir gila karena mencari kamu dan kamu..." Jari telunjuknya berada tepat di depan mata Olive.
Gilang memeluk Olive dengan erat. Namun, Olive hanya diam "Kemana saja kamu selama ini? Saya merindukan kamu. Sudah sekian lama saya mencari kamu" Lirih Gilang.
Deg...
Olive berusaha melepas pelukan Gilang "Bukankah kamu yang menginginkan kepergianku dari kota ini...."
__ADS_1
"Saya tidak bermaksud seperti itu, hanya saja saat itu saya sedang emosi" Jelas Gilang.
Olive menyunggingkan senyum getir di bibirnya "Terserah kamu mau bilang apa..." Olive hendak melangkah pergi namun Gilang memeluknya dari belakang. "Ku mohon jangan tinggalkan saya seperti dulu, saya sangat merasa bersalah" Gilang membenamkan wajahnya di pundak Olive. Harum tubhmuhnya membuatnya nyaman sehingga tidak ingin melepasnya.
Olive kesal dan mencoba melepas pelukan tersebut "Jangan gila kamu, lelaki yang telah beristri tidak pantas memeluk wanita lain."
"Terserah kamu mau omong apa yang penting saat ini kamu sudah kembali..."
"Mohon maaf, saya sudah bersuami dan anda tidak pantas memeluk saya seperti ini" Tegas Olive.
Seketika Hilang melepas pelukannya "What? kamu jangan berbohong. Ini hanya alasan kamu saja, kan?"
"Ini buktinya" Olive menunjukkan sebuah cincin melingkar di jari manisnya. "Sekarang jangan ganggu kehidupan saya lagi, paham!"Ketusnya seraya membuka pintu mobil.
Gilang masih tidak percaya dengan kenyataan ini. Kenyataan yang baru saja ia terima membuatnya terpukul "Permainan macam apa ini..." dengan keras Gilang memukul stir kemudi.
__ADS_1