
Gilang mengambil sebongkah es untuk mengkompres bagian wajahnya yang bonyak karena ulah Damar itu. "Dasar orang gila datang datang maen pukul saja" Perlahan ia menempelkan es batu yang telah ia bungkus dengan kain tipis lalu menempelnya di bagian yang sakit. Selesai mengkompres memar di wajahnya ia jadi ingkat kalau Damar tadi marah sebab istrinya menghikang.
"Pokoknya saya harus temukan dia sebelum si gila itu" cepat cepat Gilang meraih kunci mobil. Di sepanjang jalan ia mencari sosok Olive, siapa tau dia bisa menemukannya. Gilang mencarinya sampai mengerahkan anak buahnya.
"Masalah apa lagi ini? masalah yang baru saja dstang di timpa masalah lain. Tapi, apa benar Alisya itu hamil dari saya? atau dia hanya pura pura hamil supaya saya bisa menerima dia layaknya seorang istri" pikiran Gilang mulai keterlaluan, praduga yang amat mrnyakitkan itu sangatlah tidak pantas keluar dari mulut seorang laki laki. Barang siapa menanam benih, suatu saat nanti akan menuainya. Lalu kenapa Gilang meragukan kehamilan sang istri padahal dalam sadar dia sendiri pun mengakui sudah menjamahnya.
"Saya nggak mau ambil pusing masalah itu, yang paling penting sekarang adalah keselamaran Olive dan anak dalam kandungannya" tak henti mata mencari di sepanjang jalan lurus, tikungan demi tikungan telah ia lalui dan masih belum juga menemukan sosoknya. Setelah mencari hampor dua jam Gilang menepikan mobilnya di sebuah mini market, keadaan di luar sangatlah dingin. Waktu malam memasuki jam 11 malam. Dia memesan kopi lalu duduk di teras mini market "Kemana lagi saya harus mencari kamu Live" sambil menyeruput kopi ditangannya.
__ADS_1
Waktu berlalu begitu cepat, tapi masalah semakin bertambah. Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa kisah hidupnya akan serumit ini bagaikan bermain di sebuah labirin. Belum sempat bertemu jalan masuknya ada jalan lain yang harus dia lewati. Kebanyakan kisah cinta itu seperti labirin panjang tak berujung. Diam tidak menyelesaikan tugas, berlanjut takut semakin dalam. Apa boleh di kata kalau takdir menuntuk kita dalam permainan kehidupan, siap tidak saip harus siap.
Di ujung malam Olive masih terpaku di dalam kamar kosan, matanya menatap langit langit kamar. Pandanga mata seakan mencari cari sesuatu yang hilang, seperti hidup tanpa raga.
"Sayang jika nanti kamu lahir jangan pernah tanyakan siapa biologis kamu, karena siapa pun ayah biologi kamu tapi mama akan selalu mencintai kamu. Mama tidak perduli lagi siapa ayah biologis kamu, biar mama jadi ayah sekaligus ibu untuk kamu. Kita berjuang sama sama ya nak" Lirihnya sambil meneteskan air mata.
Malam itu terasa sangat panjang, pasalnya baru kali ini dia tidur tanpa di temani suami. Meski biasanya mereka jarang tidur berdua setidaknya mereka masih satu ranjang. Damar lebih sering pulang malam di saat Olive sudah terlelap. Jadi, mereka jarang berkomunikasi. Kalau pagi juga begitu Danar bangun pagi buta langsung berangkat lagi. Waktu Damar habis di rumah sakit sedangkan waktu Olive habis oleh penantian panjang.
__ADS_1
"Sudah cukup derita yang ku alami selama ini. Sekarang saatnya kita hidup berdua saja sayang tanpa adanya para pengusik itu" Ucapnya pada janin yang masih dia kandung.
"Oh iya kenapa saya melupakan sesuatu" Gilang ingat sebuah tempat yang mungkin di kunjungi oleh Olive. Dia memerintahkan teman temannya mencari unformasi di setiap hotel dan penginapan di kota itu. Gilang yakin kalau saat ini Olive tidak akan pergi jauh.
"Astaga Gilang udah gila kali ya? tengah malam seperti ini seenak jidat nyuruh orang keliling hotel demi mencari wanitany? Ya salam, memang udah geser otaknya" Kenzo baru saja mendapat perintah untuk mencari tau keberadaan Olive di setiap hotel dan penginapan di kota itu. Tapi Kenzo malah menarik selimut lagi dan tidur. Tidak lupa ponsel di silent supaya tidak di ganggu Gilang lagi.
Sedangkan Rio tidak mau mengangkat telepon Gilang sebab dia sangat mengantuk sekali. Berulang kali ponsel berdering tetap saja dia tdak kunjung membuka mata.
__ADS_1