
Di dalam kamar Damar terlihat duduk sendiri di tepi ranjang, ia sangat kesepian. Baru beberapa hari Istri pergi namun rasa rindunya terlalu besar. Sejarian ini Istrinya jarang mengirim pesan atau menelepon. Damar memakluminya karena pekerjaan suatu pekerjaan.
"Melelahkan sekali...."
Kini ia meraih secangkir kopi lalu membawanya menuju balkon kamar. Menepi dari kesibukan dan menikmati secangkir kopi. Semilir angin malam itu membuat mata terpejam sejenak. Di bawah sinar bulan terbalut sekilas rindu tuk seorang nan jauh di sana.
"Harusnya malam ini kamu menemani saya di sini" Tentu saja bayangan Damar tertuju pada sang istri. Baru pertama kalinya ia jauh dari Oliva, sehingga hari hatinya terasa sunyi.
Drttt...
Tiba tiba ponsel di tangan kirinya bergetar. Tiba tiba mata Damar terbelalak kala melihat sebuah pemberitahuan jika cutinya bisa di ambil esok hari. Itu kebijakan dari atasan sebab Damar berhasil melakukan operasi berat yang mereka anggap sulit, sekali pun Dokter bedah ahli lainnya. Entah sebuab keberuntunga macam apa yang Damar dapat malam ini, intinya dia sangat senang.
__ADS_1
"Astaga, apa ini benar?" Mengusap mata kemudian kembali menatap layar ponsel. Tentu saja dia tidak sedang bermimpi.
"Kalau begitu malam ini juga saya harus menyusul istri tercinta sekalian liburan" Sangking senangnya Damar pun segera memesan tiket pesawat. Tak lupa dia merapihkan pakaian dan lain sebagainya.
"Mbok..." Lantang Damar sembari menuruni anak tangga "Mbok, Inah..." Kembali Damar memanggil ibu keduanya itu seraya membawa koper menuju bawah.
Dari kejauhan sosok mbok Inah berlarian "Iya, den. Ada yang bisa Mbok bantu?" Segera menghampiri Damar "Biar mbok bawakan"
"Aden, mau tugas luar kota lagi?"
"Tidak Mbok. Saya ambil cuti soalnya kangen sama Olive. Mbok tolong jaga rumah, ya. Dan tolong jangan kasih tau Olive kalau saya mau menyusulnya. Biar jadi kejutan, pasti dia sangat senang." Jelas Damar seraya menyentuh tangan Mbok Inah. Tak lupa ia mencium tangan Mbok Inah layaknya seorang anak berpamitan kepada ibunya.
__ADS_1
"Hati hati , den. Kalau sudah sampai jangan lupa kabari simbok"
Damar mengangguk lalu segera keluar. Ia menunggu di depan rumah, sengaja hanya memesan taksi online sebab ia tidak enak memanggil pak supir karena hari sudah malam. Setelah hampir sepuluh menit taksi datang, ia pun segera menuju bandara.
"Saya sudah tidak sabar melihat reaksinya saat melihat saya tiba tiba datang..." Damar melihat foto sang istri. Kebetulan Damar tau alamat Villa Gilang karena sebelum pergi sang istri bilang akan tinggal di villa milik keluarga Gilang. Olive juga bilang jika di villa itu mereka tidak sendiri, ada beberapa orang di sana. Sebab itu Damar tidak khawatir melepas kepergian Olive.
Tak berapa lama Damar sampai di bandara. Ia segera melakukan prosedeur bandara lalu berangkat dari bandara menuju kota tujuan.Berkali kali Olive melakukan panghigilan tapi nomor suaminya tidak bisa di hubungi, Olive pun menghubungi mbok Inah.
"Aden, belum pulang non. Sepertinya masih banyak pasien.." Ucap mbok Inah mematuhi keinginan Damar. Sambil tersenyum Mbok Inah menutup telepon.
"Semoga mereka selalu bahagia sampai kakek nenek"
__ADS_1
Mbok Inah sendiri selalu menemani Damar kala sedih maupun senang. Setiap kali ada masalah pasti belaiu orang peetama yang di cari Damar, entah masalah pribadi atau pun masalah pekerjaan. Damar juga menganggapnya tidak hanya sebagai ibu, melainkan sebagai seorang sahabat. Sebagai layaknya seorang sahabat, Mbok Inah selalu mendengarkan keluh kesah Damar dan memberikan nasihat untuknya. Selama ini Damar terlalu menyayanginya, sampai suatu ketika Damat tengah bertengkar dengan kedua orang tuanya dan mereka meminta Damar memilih antara mbok Inah atau mereka. Tentu jawaban Damar adalah Mbok Inah.