HASRAT

HASRAT
hasrat


__ADS_3

"kinan lu di panggil bu Tami dan bawa laporan keuangan yang hendak di revis sela Silvi setelah menerima telepon lewat intercom.


kinan beranjak dari kursi nya berjalan menuju lift yang akan membawa nya ke ruangan atasan nya di tangan nya ada laporan yang di minta oleh bu Tami. tringg.. pintu lift terbuka menampilkan sepasang pria dan wanita. seorang pria dengan berpakaian jas lengkap dan wanita yang menggunakan pakaian yang bisa di bilang terlalu seksi dan kurang bahan sambil memeluk posesif pria tersebut. kinan berpikir mungkin mereka tamu yang ingin bertemu dengan Sir Rasyid Owner Perusahaan tempat ia bekerja karena si wanita tidak menggenakan pakaian yang bisa di bilang bukan pakaian yang pantas untuk di pakaian kerja. kinan memutar bola mata nya malas melihat sepasang sejoli di dalam lift yang terbuka, kaki nya enggan untuk masuk tapi ibu Tami sudah menunggu laporan yang di minta. kinan masuk dan menekan tombol lift lantai yang di tuju. kinan berdiri di depan mereka, kasak kusuk si wanita di belakang kinan serasa membawa hawa panas di dalam lift, dengan pandangan jijik kinan menatap mereka lewat pantulan dinding lift. bersyukurlah pintu lift segera terbuka menandakan kinan telah sampai ke lantai yang di tuju. kinan segera keluar tanpa menoleh sedikit pun.


flashback Rayhan


******************


setelah 3 tahun perceraian ku dengan Sophia menjadikan ku pribadi yang dingin dan membuatku menjadi seorang pria yang suka berganti-ganti pacar, bagiku mereka bukanlah pacar karena aku tidak pernah membuat komitmen dan menyatakan cinta kepada mereka tapi mereka sendiri yang mengklaim kalau mereka adalah pacar-pacar ku dan itu bukanlah masalah buatku, mereka sendiri yang menyodorkan dirinya kepadaku layak nya seorang j***ng.

__ADS_1


Pagi ini aku menuju kantor pusat tempat di mana aku akan menggantikan Baba sebagai seorang CEO di Perusahaan yang telah Baba rintis dari kecil hingga menjadi besar dan terkenal terhitung sebagi Perusahaan bonafid di Jakarta dan mempunyai cabang di Bandung, Pekanbaru. Kalimantan dan wilayah Indonesia lain nya. aku mengendarai mobil vaneno kesanyangan ku, ku parkirkan mobilku di parkir khusus Direksi. pintu mobil kubuka ku lihat Vivian berada di parkiran sambil bersandar di badan mobil nya dan melambaikan tangan sepertinya menungguku. tak kubalas lambaian tangan dan senyuman nya kupandangi vivian dengan wajah datar dan dingin, dari mana dia tau kalau aku hendak ke Omar Company seperti nya wanita ini selalu memata-matai aku, sudahlah tak aku pikirkan. sedikit cerita Vivian ini seorang model yang wajah nya selalu wara wiri di layar kaca dan di majalah-majalah.


Aku berjalan tanpa ingin menghampiri ataupun menyapa nya. ia mengejar langkah ku yang lebar.


"sayang kok aku di cuekin sh" ucapnya manja sambil melingkarkan tangan nya di lenganku.


aku berjalan tanpa menggubris ucapan nya.


aku menghentikan langkahku dan menatapnya dengan dingin.

__ADS_1


"sejak kapan aku meminta mu untuk mendampingiku dan sejak kapan kau tau aku akan ke Omar Company, kau memata-matai aku".


"A aku ehm rey... itu maksudku" jawab nya dengan gugup.


"dengar Vian aku tak pernah menganggap kita punya hubungan spesial sehingga kau harus mengikuti kemana aku pergi kita bukan sepasang kekasih hingga kau punya kewajiban untuk mendampingiku".


kupercepat langkahku dengan vivian masih memegang lenganku sengaja aku menaiki lift karyawan tanpa menggunakan lift khusus direksi.


tepat di lantai 7 pintu lift terbuka, menampilkan seorang gadis dengan pakaian sederhana berwarna blue baby dan rok span hitam, rambut nya yang hitam di cepol sederhana dengan anak rambut yg menjuntai keluar. wajah nya baby face, mugil dengan hidung bangir membuat kesan seolah-olah ia boneka hidup. wajah nya yang terkejut menatapku dan vivian dengan pandangan jijik melihat Vivian yang bergelayut manja di lenganku. aku sebenarnya risih oleh tingkah Vivian tapi aku tak mungkin mengasari nya di tempat umum apalagi dia seorang wanita.

__ADS_1


gadis itu seolah enggan masuk ke dalam lift karena kudengar ia menghela nafas. dengan berkas di tangan ia berdiri di depanku menekan angka 9 lantai yang ia tuju. aroma lily menguar dari tubuh nya saat gadis itu masuk kurasakan bagian inti ku menengang bukan karena Vivian yang menggodaku tanpa karena gadis ini. kulihat gadis ini menatapku lewat pantulan dinding lift. tatapan nya yang jijik sedikit menyentil ego ku, tak pernah ada wanita menatapku dengan pandangan seperti ini semua nya memandangku dengan tatapan memuja tapi gadis ini, siapa gadis ini.


bersambung


__ADS_2