
Keheningan malam mulai menyeruak masuk dalam sela kehidupan. Gundah gulana berbalut kecewa. Menanti hati dari seorang yang tak termiliki.
Dalam diam tersemat rasa ingin memiliki. Meski jalan sudah berkata lain. Tuhan telah menolak kebersamaan itu, tapi hati masih ingin menguasai. Bagai menunggu ranting jatuh dari pohonnya.
Sunyi malam ini membelenggu jiwa seorang lelaki yang tengah duduk di sebuah taman kota, bertemankan sebotol minuman dingin. Wajah tampan itu tersibak oleh kelukaan. Sungguh malang nasib Gilang saat ini. Setelah bertahun tahun mencari cinta, akhirnya ia menjatuhkan hati pada seorang wanita. Namun, cinta itu belum sempat tersampaikan hanya karena kesalahan yang telah di perbuat. Ia harus menelan pil pahit kehidupan. Di kala sang wanita masih sendiri ia menjauh, malah menyuruhnya pergi sejauh mungkin. Di saat sang wanita pergi menjauh, rasa cintanya mulai tumbuh.
Saat ini Gilang termenung sendiri, meniti waktu semakin panjang. Di lihatnya beberapa pasangan tengah bercakap di sana, bayangan wajah Olive melintas di pikirannya. Penyesalan mulai merasuki otak Gilang "Andai saya tidak lari dari tanggung jawab, pasti sekarang kita sudah seperti mereka" Lirihnya seraya memandang kedua insan saling cinta, tengah berbincang tertawa bersama, saling bergandeng tangan. Tatapan Gilang membuat kedua pasangan muda mudi menjadi risih, akhirnya mereka memutuskan pergi "Liatnya gitu amat, sih..." Ucap pasangan itu.
Gilang sadar lalu memalingkan wajah. Ia merasa sangat frustasi. Dengan cepat Gilang meraih minuman di sampingnya lalu menenggaknya habis. Wajah tampan itu terlihat kusam dengan balutan kemeja putih dan krah baju yang sedikit berantakan
"Segera datang ke taman kota, sekarang juga" Ucapnya pada seseorang di telepon. Kemudian menatap layar ponselnya, melihat pesan Whatsapp yang tak kunjung di balas oleh Olive. Gilang berusaha keras mendapatkan kembali Olive, meski berbagai rintangan harus di lalui. Satu nimor di blokir keluarlah nomor lain, demi bisa berhubungan dengan wanita pujaan.
__ADS_1
"Online tapi kenapa pesan ku tidak kunjung di baca.." Kesalnya. Sekejap Gilang melihat foto di Whatsapp Olive, memperlihatkan wqjah suaminya sedang memeluk dirinya "Arghhhhh...." Hampir saja ponsel mahal milik Gilang menjadi sasaran amarahnya, beruntung ada panggipan masuk. Di lihatnya nama Mami Lily, ibu kandung Gilang "Mami..." Kedua alisnya hampir berdeketakn satu sama lain "Lebih baik tidak usah di angkat, pasti papa sudah ngadu sama Mami" Meletakkan ponselnya kembali di saku celana.
Kembali Gilang melipat tangan, bersandar pada kursi panjang taman itu. Sesekali ia melihat jam di tangannya.
Tak berapa lama datanglah seorang lelaki menggunakan motor tengah melihat sekeliling taman tersebut "Di mana dia?" Ia turun dari motornya lalu mencari keberadaan sahabatnya tersebut "Aduh, mana batrenya abis lagi..." Kesal Rio ketika mengambil ponsel dari saku celananya. Layar pinselnya tidak menyala sama sekali, membuatnya kebingungan mencari kebaradaan Gilang. Kondiai taman dengan cahaya remang remang menambah sulit pencarian "Kiri apa kanan..." Rio kebingungan harus mengambil jalan kanan atau kiri demi menemukan Gilang "Kiri dulu deh" Segera Rio berjalan melalui jalur kiri, di lihatnya setiap bangku namun tidak di temukan tanda tanda keberadaan Gilang. Sepanjang mata memandang hanya ada puluhan pasangan tengah bermesraan, ada pula beberapa anak sekolah duduk bersama teman temannya.
"Woy...saya di sini" Teriak Gilang dari balik pepohonan taman
"Nah itu dia orangnya" Segera Rio melangkahkan kaki "Gilo lo Gil, malam pertama malah keluyuran di taman. Ngapain?" Seraya duduk di sebelah Gilang.
Rio mengernyit "Maksud Lo?"
__ADS_1
"Ya. Saya tidak akan pernah menyentuhnya. Cinta, hati, dan tubuh saya hanya milik Olivia seorang."Jelasnya santai.
Tentu saja ucapan Gilang membuat Rio geleng kepala "Gila Lo Gil, otak lo nggak sehat ya? dia istri lo. Dia berhak atas semua di diri Lo, termasuk hak dia sebagai istri sah lo"
Gilang menatap Rio penuh kekesalan "Saya suruh kamu ke sini bukan untuk ceramah. Kalau kamu hanya ingin ceramah, mending pulang lagi sana"
Rio mengambil nafas dalam, ia harus bersabar menghadapi Gilang. Keras kelapa Gilang tidak bisa dengan mudah di kalahkan hanya dengan beberapa kata. Sebagai sahabat, Rio paham semua sifat dan karakter Gilang. Ia pun memilih diam sesaat. Setelah amarah Gilang mulai surut, Rio pun menyentuh pundak sahabatnya "Kalau begiti ceritakan semuanya biar lo bisa tenang"
Gilang membungkukkan badan, seraya menatap ke bawah "Gua mau mengakhiri pernikahan ini"
Sontak Rio terkejut, betapa tidak. Pernikahan baru saja terlaksana dan Gilang ingin mengakhiri secepat itu "Gila bener lo Gil. Gak habis pikir gua ama lo, di kasih istri sholehah lo tolak, malah lo kejar wanita lain. Yang jelas bukan milik lo lagi, mikir dong Gil, gimana perasan istri lo...." Rio berdiri seraya memaki Gilang.
__ADS_1
Masih dalam posisi yang sama, Gilang memainkan jemarinya "Percuma saya menikah sama gadis sholehah, kalau saya tidak nyaman apa lagi mencintai. Mustahil bagi saya, jika bertahan menyakitinya lebih baik pisah"
Jawaban itu membuat Rio semakin geram atas tingkah laku sahabatanya tersebut "Terserah lo aja Gil, gua kesel sama tingkah lo itu" Tanpa basa basi Rio pergi meninggalkan Gilang.