
Keesokam hari Damar terbangun, kepalanya terasa berat. Beberapa kali Damar menggelengkan kepala sebab pandangannya masih agak buram. Di lihatnya sekeliling aparteman "Di mana ini?" Sembari beranjak dari tempat tidur. Kakinye terasa berat tuk melangkah. Dengan susah payah dan sedikit sempoyongan Damar menuju jendela aparteman. Di lihatnya mentari menyingsing tinggi. Kebetulan ia masih ambil cuti satu hati. Jadi, Kenan tidak membangunkan dia.
"Eh, udah bangun kamu, Dam?" sosok Kenan keluar dari kamar mandi dengan mengusap rambutnya. Ia sudah rapi dengan jas dokternya.
"Hem...."
Kenan menepuk punggung Damar "Selesaikan semua maslaah dengan kepala dingin. Carilah jalan terbaik buat kehidupan kamu kedepannya..."
"Iya, bro. Thank you" Ulasan senyum Damar terasa pahit.
"Kalau gitu kamu mau di sini dulua atau..."
"Balik aja deh..." Ucap Danar sambil melangkah ke tepi ranjang mengambil ponselnya.
"Ya udah biar gue anter sekalian berangkat kerja. Mobil Lu kan masih di club..." Kenan meraih kunci mobil.
__ADS_1
"Nggak usah, deh. Gue pesen taksi online aja..."
"Oke, kalau gitu hati hati di jalan" Ucap Kenan kala Damar telah mengkah keluar dari kamarnya.
Di sisi lain ada Gilang dan Olive tengah bersitegang. Mereka saling berhadapan.
"Pokoknya kita nggak akan kemana mana, titik" Ucap Gilang dengan nada tinggi.
"Kalau kamu mau di sini, silahkan. Pokoknya aku mau pulang." Olive pun dengan lantang menentang ucapan Gilang. Tanpa meteka sadari di balik tirai tersebut ada cctv yang sengaja Danar pasang untuk mengintai keduanya. Bahkan Damar juga memberi tau Ayaj Gilang perihal kelakuan putra sulungnya tersebut.
Olive sudah tidak tahan atas sikap over Gilang, sampai ia pun merasa menyesal telah memberi hati padanya. Air mata Olive meluap kala dirinya tidak bisa berkutik. Sebenarnya ia bisa saja pulang ke sendiri tapi, Gilang menahan dompet dan semua akses keluar telah di blok. Gilang mengunci seluruh Villa supaya dia bisa terus bersama Olive.
"Kamu itu hanya milikku, sayang" Gilang hendak memeluknya namun, Olive menolak pelukan itu.
"Cukup....." Teriak Olive.
__ADS_1
"Aku jijik sama sikap kamu ini. Seharusnya kamu itu sadar kalau hubungan kita tidak akan pernah membuat kita bahagia, melainkan menyiksa diri sendiri."
Gilang mencoba meraih tangan Olive tapi ia tidak bisa mengendalikan amarah wanita itu.
"Kalau kamu tidak membawaku pulang maka, aku akan mati depan mata kamu" Olive meraih sebuah pisau buah di atas meja kamar.
"Oke, oke, kita pulang. Tapi, buang dulu pisaunya" Ucap Gilang ketakutan kala sebuah pisau tajam di letakkan di atas pergelangan tangan wanitanya.
"Pesankan tiket dulu baru aku buang pisau ini" Tidak hilang akal, Olive pun meminta kepastian sebelum di permainkan oleh kelicikan Gilang.
Tak berapa lama Gilang memesan tiket pesawat lalu menyuruh Olive meletakkan pisau di tangannya "Oke, kita pulang sekarang..."
Olive segera membuang pisau itu.
Setelah beberapa menit kemudian mereka menuju bandara dan berangkat menuju tanah kelahiran. Di sepanjang perjalanan Olive hanya diam dan menangis. Gilang menggengga. tangannya "Kita akan hadapi mereka bersama. Setelah masalah ini kelar kita akan hidup berdua, bahagia, selamanya."
__ADS_1
Olive tidak perduli semua ucapan Gilang. Yang ada dalam otaknya saat ini adalah bagaimana cara menjelaskan pada suaminya dan meminta maaf padanya.