HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Untuk kesekian kalinya Cinta membuat luka di hati seseorang yang tidak berdosa. Gejolaknya mampu menembus kokohnya iman hingga hati pun rapuh terguncang. Malam sunyi berselimutkan luka, dinginnya angin malam menusuk hati yang paling dalam. Perselingkuhan telah merampas sebuah kepercayaan, menghancurkan kesetiaan hingga kerap berujung perpisahan. Ketika mata menjadi saksi atas sebuah dosa, bibir pun ikut terkunci. Diam bukan pilihan, Menangis bukanlah sebuah jawaban, memberontak juga tidak akan mengembalikan.


Dalam malam Tersemat luka dalam dada, merobek satu pusaka dalam rumah tangga(Rasa percaya). Kesakitan mulai mengusik ketenangan hati sampai terjadilah sebuah pergulatan antara cinta dan luka. Sukar dalam bercinta mengenyam pahitnya luka. Jika di telan terasa pahit di buang pun terasa menyakitkan. Cinta cinta bagai sebuah penyakit juga bisa menjadi obat. Tak bisa bisa di taqar rasa yang terpendam dan tidak bisa di buang begitu cepatnya. Cinta memiliki takdir masing masing. Cinta terkadang terasa sulit bagaikan menjahit dengan jarum tumpul.


"Andai saja...."Membayangkan kenangan masa dahulu saat dia bersama sang istri tercinta. Mereka saling melengkapi, bercanda mesra, dan saling mencintai. Semua kenangan tinggallah bayangan, nampak di mata sukar di sentuh.


Di bawah pelukan malam, Damar berjalan menyusuri sebuah jalan kecil di sebuah taman. Pandangnya tak tentu arah. Mencoba merenungi rasa sakit dalam dada yang tak dapat merubah sebuah rasa. Sesekali melihat langit gelap tak bertemankan bintang. Sendu jingga sekitar taman menambah kesan dramatis dalam hidupnya. Sejauh mata memandang hanya ada bayangan luka itu, sejengkal tangan meraup wajah, menutupi semua luka yang tak tertahankan.


"Jika malam saja hadir tanpa bulan dan berbintang, dia akan tetap sama. Tapi, jika saya tanpanya maka rapuhlah sudah" Menetup wajah dengan kedua tangan. Langkah kaki mulai melemah, beberapa kali mondar mandir tak tentu arah membuatnya lelah. Di Sebuah kursi panjang Damar merebahkan diri sambil melipat kedua tangannya ke dada. Melihat langit gelam tanpa rembulan dan kelip bintang. Malam ini angin berdesir kencang, membelai mesra jiwa yang lara. Di keheningan malam, tersemat sebuah harapan. Harapan di mana sebuah hubungan akan kembali baik baik saja.


"Mbok, mas Damar belum pulang" tanya Olive sambil menuruni anak tangga, langkahnya semakin di percepat kala melihat malam semakin larut. Tidak biasanya Damar keluar sampai larut seperti ini.


Mbok Inah masih terjaga menunggu sang majikan pulang, itu rutinitasnya. Meski Damar sudah memintanya untuk tidak menungg tetap saja Mbok Inah baru akan istirahat setelah dia pulang. Saat ini Mbok Inah tengah melihat tv di ruang tamu sambil minum kopi. Mbok Inah sudah seperti keluar jadi dia di perlakukan layknya keluarga.


"Mbok juga khawatir, non. Dari tadi mbok telpon tapi nggak bisa" Saraya bangkit dari duduknya. Meski ia sudah di anggap keluarga masih saja Mbok Inah membatasi diri.


"Coba non telpon siapa tau bisa"


"Nggak bisa, Mbok. Dari tadi saya udah kirim pesan berkali kali tapi nggak di jawab atau pun di baca. Gimana dong ini, mbok" Olive terlihat khawatir, ia menggit kuku jari.


"Apa kita tanya rumah sakit tempat Aden kerja ya Non"


Olive mnggeleng kepala "Mas Damar nggak masuk kerja, Mbok. Dia masih cuti. Oh iya, mbok tau nggak kalau mas Damar lagi marah dia suka kemana gitu? atau ke tempat yang biasa di kunjungi mas Damar" meraih bahu Mbok Inah.


Mbok Inah terdiam sesaat, mengingat tempat terdekat kala Damar terluka.


"Oh....sepertinya aden di rumah temannya, Non. Kalau tidak salah namanya Kenan. Dokter Kenan Rajendra."


"Kenan Rajendra? teman kuliah mas Damar dulu? Memang dia juga pindah kerja di sini, Mbok?" Seingat Olive kenan tinggal di kota lain, ia juga hanya beberapa kali bertemu dengannya.


"Tunggu ,tunggu, sepertinya saya punya nomer dia, mbok" Segera mencari kontak Kenan.


"Semoga masih bisa..." Harap harap cemas menunggu panggilan telepon tersambung.


"Halo, Dokter Kenan, ya?(Terdiam sejanak) oh iya. Ini saya Olivia istri mas Damar. Saya mau tanya apakah mas Damar masih bersama anda, soalnya mas Damar belum puja. Mana di luar hujan lagi" Hujan malam menambah kegelisahan Olive.

__ADS_1


"Jadi mas Damar tidak sedang bersama anda. Baiklah kalau begitu, terima kasih" Segera menutup panggilan. Berjlan mondar mandir "Mas Damar lagi nggak sama Dokter Kenan, Mbok. Gimana dong ini. Di luar hujan lagi." Menghentak hentakkan ponsel di letapak tangan.


Mbok Inah ikutan panik, kedua wanita itu saling mindar mandir.


Di luar petir terdengar menggelegar. Hujan semakin deras dan angin kencang menerpa tirai jendela yang lupa belum du tutup.


"Astaga, Mbok lupa mau nutup jendela dulu" Mbok Inah berlari menuju jendela.


"Mas kamu si mana sih ,mas."


Damar masih terbaring di kursi taman sembari menengadah air hujan, wajahnya tersiram dinginnya air malam itu. Petir bergemuruh tidak membuatnya takut.


"Apa dia sudah gila..." Dari kejauhan ada sosok wanita memakai payung baru saja turun dari mobil. Ia lari menuju tempat Damar berada. Payung teduh menutup wajah yang basah akan air hujan.


"Kamu...." Ketika Damar membuka mata, di lihatnya sosok wajah seorang wanita cantik.


"Apa kamu ini gila?" Maki wanita itu sambil terus menatapnya.


Damar segera bangkit lalu menatapnya "Kenapa kamu bisa ada di sini?"


"Jangan sok tau kamu. Saya tidak sedang terluka" Ucapnya sembari berbalik membelakangi si wanita.


"Sudahlah....(Menyentuh pundak Damar) saya lebih mengenal kamu dari siapa pun. Kita bersama selama bertahun tahun. Saya tidak akan lupa semua sikap kamu"


Damar memejamkan mata kala hujan semakin lebat dan air berjatuhan semakin tidak terkendali.


"Jangan bicara hal yang lalu. Saya tidak menyukainya" Ucap Damar semabri melangkah pergi.


"Damar, tunggu"


"Kenapa?" Damar berbalik.


Si wanita membuang payung, berlari ke arahnya. Di bawah guyuran hujan, si wanita memeluknya dengan erat.


"Saya masih mencintai kamu"

__ADS_1


Sungguh hal tak terduga mendapat sebuah pernyataan di kala hatinya tengah sakit.


"Fanya, lepas. Jangan seperti ini" Berusaha melepas tangan Fanya dari tubuhnya.


Fanya mendongak melihat wajah Damar "Sungguh, saya menyesal telah meninggalkan kamu." Tanpa di sangka Fanya langsung menciumnya.


"Apa apaan kamu...." Dengan kasar Damar mendorongnya hingga terjatuh.


"Saya sudah punya istri dan begitu pula dengan kamu. Jadi, jangan pernah ungkit masa lalu kita. Anggap saja semua itu hanya mimpi belaka."Damar meninggalkan wanita itu. Segera ia menuju parkiran.


"Kamu telah membohongi diri kamu sendiri. Sebenarnya kamu masih mencintai saya, kan"


"Terserah apa kata kamu."


Brak...


Membanting pintu mobil dengan sangat keras.


"Arhhhh......"


"Saya berhasil..." Ternayata Fanya sengaja menyewa seseorang dari dalam mobil untuk merekam kejadian yang baru saja terjadi. Dengan sentuhan jari jemari para ahli maka rekaman itu semakin manarik.


"Gimana berhasil?" Tanya Fanya pada seorang laki laki di dalam mobilnya.


"Sip, lah"


"Oke, thank. Lo ambil bayaran lo"


"Makasih ya, kalau butuh bantuan call me" Si laki laki itu mencium uang yabg Fanya berikan lalu keluar dari mobilnya.


"Oke, sekarang gue mau nambahin bumbu dalam rumah tangga mereka"


Awalnya Fanya tidak tau jika Damar benar telah menikah, hingga pada suatu hari ia tidak sengaja melihat Damar tengah bersitegang dengan seorang wanita yang tidak lain adalah Olive. Kala itu Fanya mengintai dari kejauhan dan menjadi saksi atas keributan Damar dan Olive.


"Selesai deh. Tinggal kita tunggu ledakan dasyatnya..." Fanya menyebar luaskan video tersebut ke jejaring sosial media.

__ADS_1


Ada beberapa adegan di skip sampai Fanya mencium Damar. Setelahnya ia hapus supaya orang lihat video itu real kemauan mereka berdua.


__ADS_2