
Pengajuan cuti Damar di tolak karena beberapa hal. Damar baru boleh mengambil cuti sebelum akhir bulan. Kekecewaan Damar tergambar jelas di wajahnya.
"Niat mau menghindar malah sekarang tidak bisa berkutik" Di pukullah meja kerjanya.
Di sisi lain ada Fanya tengah duduk di samping suaminya. Ia sibuk dengan ponselnya mencari tau tentang Dokter Damar, yang mana ia ingin mendekatinya lagi. Fanya belum tau jika Damar telah menikah. Setau dia Damar adalah tipe lelaki yang sangat mencintai dirinya.
"Kamu sibuk ngapain? suami lagi terbaring lemas kaya begini malah asik sama hp. Kamu itu tidak tau di untung" Ketus ibu mertuanya. Beliau tiba tiba masuk dalam ruang inap putranya setelah pergi beberapa saat.
Fanya segera meletakkan ponselnya, beralih menggenggam tangan kiri suminya.
"Fanya tadi hanya..."
"Hanya apa? seharusnya kamu itu banyak doa supaya suamiku cepat pulih, bukan malah mainan hp. Nyesel saya sudah pilih kamu jadi menantu." Mertuanya menatap dengan kebencian. Jari telunjukkan tidak henti henti memaki dirinya.
__ADS_1
Fanya hanya diam mendengar ocehan ibu mertua, sampai telinganya terasa panas. Meski begitu dia tidak bisa melawan sebab jika dia melawan pasti ujungnya uang bulanan hangus.
"Maaf, ma. Saya tadi cuma balas pesan mama saya, katane mau pulang dulu." Jelas Fanya.
"Siapa perduli sama mama kamu itu. Kalian itu cuma bisanya nyusahin keluarga saya. Maunya cuma duit, duit, dan duit. Sana minggir..." Beliau mengusir Fanya dari ruang rawat putranya.
Mungkin beliau marah karena tidak hanya satu hal itu saja tapi, ada banyak hal yang membuatnya membenci menantunya itu. Pertama dia belum bisa mendapatkan cucu, kedua keluarga Fanya sering meminta uang, ketiga Fanya terlalu menguasai putranya sampai sulit bagi sang ibu mengatur kembali keuangan putranya.
Fanya yang merasa kesal segera keluar dari ruangan tersebut "Dasar nenek lampir. Taunya cuma ngomel saja..." Fanya menggerutu kesal.
Karena Fanya terbilang gadis liar, ia pun menuju depan ruangan di mana Damar tengah memeriksa pasien. Dia mengintip dari celah pintu. Damar menjelaskan perihal kondisi pasien dengan santun dan penuh senyum. Fanya sangat senang. Setelah Danar selesai Fanya segera duduk di kursi panjang sebelah pintu.
"Sus, tolong cek pasien sesering mungkin. Saya harus memeriksa pasien lain."Jelas Damar sambil keluar dari pintu.
__ADS_1
"Kamu?" Damar terkejut kala melihat Fanya berdiri di samping pintu.
"Saya mau bicara Dok"
Damar membuang nafas panjang "Kalian pergi dulu..." ucapnya pada para medis lainnya.
"Ada apa? jika anda ingin bicara basa basi, saya tidak ada waktu." Ketusnya seraya berbalik hendak pergi. Namun, Fanya meraih lengannya. Damar menoleh melihat tangan kecil di lengannya "Lepas, saya ini Dokter jangan asal pegang."
Fanya merasa kesal karena penolakan Damar."Oke, saya lepas. Aku hanya ingin tau bagaimana kondisi suamiku" Mengalihkan topik supaya dia bisa terus berbincang dengan Damar.
"Suami anda masih dalam kondisi baik, tunggu sampai beliau sadar dulu. Banyakin doa jangan banyak mengutuk" Karena kesal Damar pun pergi begitu saja.
"Ih....ngeselin. Kenapa dia jadi dingin begitu? dia sudah berubah banyak." Fanta masih belum puas mendapat perlakuan seperti itu.
__ADS_1
Setelah pukul 18:30 Damar bersiap pulang. Hari ini membuatnya sangat lelah juga kecewa. Rasa ingin menghindari Fanya malah membuatnya semakin terikat. Bahkan pengajuan cuti tidak di setujui.