
Di sisi lain, ada Olive sedang berbaring di pangkuan suaminya "Kapan ya mas kita bisa menghabiskan waktu bersama seminggu saja"
Damar tengah sibuk dengan ponselnya, melihat jadwal temu pasien "Maaf, sayang. Mas belum bisa memenuhi keinginan kamu. Tau sendiri pekerjaan mas ini menyangkut hidup dan mati seseorang. Harap di maklum, ya" Ucapnya dengan tangan kiri di letakkan di kening Olive "Mas janji kalau ada waktu luang kita liburan ke pantai, gimana?" usapan tangan Damar membuat Olive terpejam sembari mengulas senyum "Tapi janjinya jangan janji palsu lagi, ya. Mas harua meluangkan waktu untuk aku, untuk kita juga."
"Iya, sayangku. Tunggu sampai mas ambil cuti bulan depan. Kalau bulan ini belum bisa, ada beberapa wabah tengah marak akhir akhir ini, sampai para media kewalahan. Mohon pengertiannya, sayang" Jelas Damar seraya melatakkan ponsel.
Olive masih memejamkan mata dengan melipat kedua tangannya di atas pusar "Resiki punya suami Dokter ya seperti saya ini..." Lenguh Olive.
Di lihatnya wajah manis sang istri ketika kesal. Setiap kali Olive jengkel pasti dia bicara dengan mata tertutup.
Gemas rasanya melihat keimutan gadis tersebut. Lwmah gemulai, manja, dan pintar merajuk, itulah sifat Olive saat ini. Saat menikah dengan orang yang tepat maka kehidupan kita menjadi sempurna.
"Ih, mas gemes deh...." Di cubitnya pipi Olive seraya menepuk mepuk pelan "Nasib kamu jadi istri Dokter ya kudu kuat nahan kangen, dong. Tapi profesi mas ini menunjukkan rasa setia mas, loh."
Mendengar kata itu mata Olive terbuka sembari mengernyitkan dahi "Kok mas bisa menyimpulkan seperti itu..." Olive pun bangkit, menghadap suaminya "Memangnya kalau tidak menikah sama Dokter, mereka pada di selingkuhin?"
Damar terkikik geli mendengar Olive menyudutkan dirinya "Astaga, kamu ini menggemaskan sekali" Di peluklah tubuh Olive
"Kenapa mas bilang gitu sebab, orang lain saja mas jaga apa lagi kamu....hehehe"
__ADS_1
"Mulai gombal, kan..." Ucap Olive seraya memukul lembut dada suaminya. Terasa nyaman dalam pelukan hangat suaminya. Mendapatkan sosok laki laki seperti Damar membuat Olive lupa kepahitan masa lalu. Bahagianya saat ini meneggelamkan rasa sakitnya. Meski sakit itu kembali muncul kala di pertemukan kembali dengan seseorang si pembawa luka.
Drt...
Ponsel Damar mengeluarkan suara getar, itu adalah alarm tidur untuknya. Waktu menunjukkan pukul 24:30 waktu setempat. Damar hari ini sengaja mengerjakan proposal perusahaan di rumah. Sebab, ada klien penting datang dalam waktu dekat. Tidak lama ini ayahnya meminta dia segera melanjutkan usaha keluarga. Berat baginya membagi waktu dan tenaga, sebagian besar ia fokuskan pada profesianya sebagai seorang Dokter, di lain sisi di beratkan oleh usaha keluarga. Damar sendiri tidak tau harus bersikap seperti apa, sampai ia memutuskan menempatkan keponakannya di kantor sekedar menggantikan dirinya kala sibuk bertugas.
"Sudah maktunya tidur, mas. Alarm kamu sudah berdering" Olive melepaskan diri dari dekapan kenyamanan tersebut lalu meraih ponsel suaminya. Ia segera mematikan bunyi alaram sembari meletakkan ponsel itu di samping meja dekat ranjang.
"Tidur dulu. Masalah kantor biar besok saya tangani. Mungkin tidak sepintar mas Damar. Tapi, lumayan lah."
"Kamu itu saya nikahi bukan untuk bekerja. Tapi, cukup di rumah tunggu saya pulang. Itu sudah lebih dari cukup, sayang" Damar mencubit hidung Olive pelan.
Damar menggelengkan kepala "Tidak boleh, titik"
"Ya sudah kalau begitu" Membuang wajah, berpura marah. Seketika itu pula Olive berbaling di kasur membelakangi suaminya. Damar tidak kehabisan akal, ia segera melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
"Mas jahat..."
Dengan posisi membelakangi suaminya, ia terkikik geli. Soalnya Olive tau betul sifat Damar. Dia tidak akan membiarkan Olive marajuk.
__ADS_1
"Kamu kalau merajuk seperti ini membuatmu semakin seksi" Damar menggoda istrinya, seraya menggelitik pinggang ramping Olive.
"Ah, mas. Apaan sih..." Olive berbalik arah, kemudiN meringkukkan badan "Jangan ah, geli..." Lagi lagi Damar membuatnya tergelinjang geli.
"Saya paling suka kalau kamu merajuk seperti ini. Bikin kepingin...." Bisik Damar di sertai belaian lembut di bagian sensitive.
Siapa tidak goyah saat suaminya mulai menjelajah liar kesana kemari. Akhirnya Olive terbenam dalam lautan keindahan.
"Saya mencintai kamu, sayangku" Jari jemari Damar mulai menelusup jauh ke dalam. Deru nafas keduanya membangkitkan gairah malam. Di bawah sinar remang cahaya lampu kamar melengkapi keindahan pergulatan keduanya.
"Mas, besok kamu harus kerja loh. Besok kesiangan" Olive menghentikan Damar sejenak. Namun, Damar tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Bagai di ujung duri. Mau berhenti tanggung mau lanjut eh sudah kemalaman. Serba salah kan?
Tanpa perduli, Damar menyerbu bibir Olive dengan ganas. Pada akhirnya Olive pun pasrah Mereka melakukannya seperti pengantin baru. Setelah hampir satu jam lamanya. Kedua manusia itu terkulai lemas. Entah berapa kali melapas indahnya dunia dalam kehangatan surgawi.
Perlahan mata mereka terpejam dengan saling berpelukan. Badan mereka tidak di balut sehelai benang pun kecuali selimut yang di kenakan. Tubuh mereka seperti bayi baru lahir.
Ya, seperti itulah mereka.
Deru nafas terengah keduanya terdengar jelas sampai mereka tertidur pulas.
__ADS_1