HASRAT

HASRAT
SEASON 2 Ep 237


__ADS_3

Mereka saling terdiam. Melihat keindahan di depan mata. Dimas merasa tenang, karena wanitanya tidak lagi meronta melepaskan diri. Sesaat dia merasakan kehidupan mereka dalam kondisi baik-baik saja, meski nyatanya tidak demikian. Setelah beberapa saat menenangkan wanitanya, akhirnya Gea cukup bisa di kendalikan. Dimas melepas pelukan, menarik lengan Gea sehingga mereka saling berhadapan.


" Tolong maafkan aku. Bisakah kita mulai semuanya dari awal?" Tatapan itu penuh rasa bersalah. Sekedar meminta jawaban kepastian. Bisa di bilang sedikit memaksa Gea mengiyakan ucapannya dengan menekan tatapan di balik kedua mata Gea. " Kita mulai semuanya dari awal."


" Maaf, aku tidak bisa." Berusaha melempar pandang supaya terlepas dari jeratan Cinta dalam tatapan mata Dimas. " Sudah cukup banyak hati terluka oleh ku. Jadi ku putuskan menjauh dari kalian semua. Hadir ku hanya petaka untuk kehidupan kalian. Biarlah aku kembali pada dunia ku, dimana hanya ada aku dan kesenangan." Sembari berjalan menuju ranjang. Gea nampak gelisah atas keputusan yang baru saja di ambil. Bibir dan hati tidak sejalan membuatnya hampir menyerah. Sayatan perih di hatinya kian menyiksa, membuatnya menangis dalam kegalauan. Berusaha menguatkan tekat demi kehidupan orang lain.


" Aku tidak ingin merusak senyum di bibir putra mu. Lebih baik jauhi aku, lupakan semua yang terjadi, anggap semua sebagai mimpi. Tak perlu kamu mengejar ku sejauh ini, karena aku tidak ingin terus menerus menjadi wanita licik yang mendapatkan apa saja demi ambisi. Aku sudah lelah, Dimas. Tolong jangan buat aku menjadi seorang jahat seperti dulu lagi. Aku bosan hidup dalam penderitaan, hinaan, dan makian. Dalam hidup hanya satu yang aku inginkan hidup bersama tanpa menyakiti yang lainnya. Sudah banyak air mata menetes karena aku, jadi mulai sekarang biarkan aku berkorban air mata demi orang lain." Ucap Gea. Sesekali dia mengusap air mata, sengaja menyembunyikan luka itu. Namun Dimas sudah melihat air mata jatuh sebelum Gea menyembunyikannya.


Segera Dimas berjalan menggapai wajah cantik Gea. Empat mata beradu menjadi satu. Saat itu pula Gea tidak kuasa menahan sakit dalam hatinya. Terungkap sudah penderitaan dalam diri bersama arus deras mengalir di pipi.


" Jangan menangis. Bukankah kita bisa merawat Gilang bersama tanpa harus berpisah? kita besarkan dia bersama-sama." Usapan lembut di pipi Gea. Di saat seperti itu Dimas hanya bisa menyesali kebodohnya di masa lalu, yang membuat masa depannya hancur.


" Itu tidak mungkin. Bagi seorang anak yang terbaik adalah Ayah dan Ibu kandungnya, bukan seorang seperti aku." Ucap Gea.

__ADS_1


Stttt...


" Kita pasti bisa. Bersama kita bangun hidup bahagia." Berusaha meyakinkan Gea untuk rancangan masa depan bagi mereka nantinya.


" Tidak! aku tidak bisa." Kembali Gea mendorong Dimas hingga terjatuh.


Hatinya memanas mendapat perlakuan kasar seperti itu...


Perlahan Dimas bangun lalu mendekat...


" Semuanya salah di mata kamu. Memohon sudah ku lakukan, bahkan aku merendahkan harga diriku di depan semua orang, hanya demi kamu. Ku tinggalkan tanggung jawab ku sebagai seorang anak dan juga seorang ayah, semua itu hanya demi kamu, Gea. Kenapa kamu menghargai usaha ini?" Ketusnya sembari mengacak rambut.


" Aku tidak meminta kamu melakukan semua itu. Bukan salah ku jika tidak ingin kembali padamu..." Ucap Gea seolah memancing amarah lebih darinya.

__ADS_1


" Arghh...keras kepala." Dimas memukul bahu ranjang yang letaknya tepat di belakang Gea.


Ucapan Dimas menancap menyakiti hatinya. Lidah lebih tajam dari belati.( Setiap kata mampu menyiksa tanpa harus bertarung. Menyakiti tanpa melayangkan tangan).


" Sudah kedua kalinya kamu menyakiti perasaan ku. Tapi aku terima. Mungkin dengan cara seperti ini kamu bisa membenci ku lalu menikahi wanita itu."


Dimas semakin geram, kedua tangannya mengepal menahan gejolak api dalam hati.


" Oh, aku tau sekarang, kenapa kamu meminta ku menikah dengan wanita lain, itu karena kamu sudah punya lelaki itu, kan?" Dengan nada menyinggung.


Plak...


Gea tidak tahan mendengar tiap kalimat dari mulut Dimas.

__ADS_1


" Tutup mulut kamu. David datang bukan karena aku memintanya, tapi dia datang demi keinginan Abang ku." Tanpa pikir panjang, Gea keluar dari kamar. Dia berlari sejauh yang dia bisa. Ingin sekali dia menghilang tanpa jejak, supaya Dimas tidak lagi menyakiti hatinya.


" Tuhan...." Teriak Gea sekencang mungkin. Ombak meliuk ke arahnya membasahi laki tanpa alas. Hamparan laut biru menjadi pendengar setianya sampai titik terdalam emosinya.


__ADS_2