HASRAT

HASRAT
SEASON 2 Ep 225


__ADS_3

Gilang merasa nyaman di pangkuan Dimas, kerap kali dia mengumbar senyum.


" Paman, kenal sama Ayah ku tidak? aku sangat merindukan Ayah." lirihnya dengan bersandar di dada Dimas. Wajah polosnya mendongak ke atas, menatap wajah Dimas dari bawah.


Betapa tersentuh hati Dimas kala itu, seorang anak kecil bersandar di dadanya.


Dan seseorang memberi pengakuan, bahwa anak itu adalah anak kandungnya. Namun Dimas tidak bisa meyakinkan diri, hanya karena kemiripan mereka semata. Butuh bukti nyata yang akurat.


Wajah ini, senyum ini, dan semua yang melekat padanya, sama persis seperti ku.


Tapi apakah benar kamu adalah putraku, putra dari kesalahan terbesar ku, kala itu?


Dengan menahan rasa dalam diri, Dimas berusaha tersenyum sembari mengusap kepala anak itu...


" Memang kamu sudah tau seperti apa wajah Ayah kamu?"


Gilang menggeleng.


" Kata Mami, Ayah adalah seorang lelaki tampan." Ucapnya polos.


Tak berapa lama, Lily keluar....


" Mari kita berangkat."


" Iya." Dimas hendak berdiri, namun Gilang tidak mau turun dari pangkuannya. Terpaksa Dimas harus menggendongnya.


" Aku ambil mobil dulu, kalian tunggu disini." Ucap Lily sembari berjalan menuju garasi mobil di samping teras rumah.


" Gilang sangat rindu Ayah?" Kembali Dimas menanyainya.

__ADS_1


Gilang yang masih dalam gendongan Dimas, hanya mengangguk lalu menyandarkan dagu di bahu Dimas.


Untuk anak seusia Gilang, sangat sulit untuk tidak mencari tau dimana orang tuanya.


Apalagi selama ini, dia belum pernah di pertemukan dengan Ayahnya.


Lily melihat kedekatan antara keduanya, merasa sangat bahagia.


" Gilang, sayang. Turun dong nak, kita segera jalan-jalan" bujuk Lily.


" Tidak. Gilang maunya di gendong sama Paman."


Dimas tersenyum, dan mengusap kepala Gilang....


" Kalau Gilang tidak turun, bagaimana cara Paman nyetir?"


Gilang menatap mata Dimas lalu mengangguk, pada akhirnya anak itu luluh atas ucapan Dimas.


Lily duduk di sebelah Dimas, dengan memangku putra tampannya tersebut.


Tatapan mata Lily mengungkapkan betapa cintanya, dia kepada seorang lelaki yang saat ini menjelma menjadi supir pribadinya.


" Dim..." lirihnya.


" Hem." jawab Dimas, tanpa melihat Lily sedikit pun.


" Kita mau ke Rumah Sakit mana?"


Dimas tidak ingin ada rekayasa dalam tes DNA, hingga dia memilih diam, Fokus pada jalan padat di depannya.

__ADS_1


Saat Dimas tidak menjawab pertanyaan Lily, Gilang pun menyentuh lengan Dimas.


" Bolehkah Gilang duduk di pangkuan Paman?"


Tentu saja, Dimas mengijinkan Gilang duduk di pangkuannya. Meski sedikit kesulitan dalam menguasai Stir kemudi, Namun Dimas senang. Kehadiran Gilang bisa menggantikan anaknya yang telah lama tiada.


" Gilang cita-citanya mau jadi apa?"


Gilang meletakkan jari telunjuknya di pipi kirinya, sembari memutar bola mata, berpikir tentang angan-angan yang nantinya ingin dia gapai. " Sepertinya menjadi Dokter. Biar Gilang bisa menyembuhkan orang sakit, sama seperti pak Dokter yang menyembuhkan Gilang waktu itu."


" Waktu itu?" Dimas melempar pandang Pada Lily, meminta satu penjelasan dari ucapan Gilang.


" Ya, waktu itu Gilang sakit paru-paru. Hampir satu bulan penuh dia berada di Rumah Sakit, menjalani berbagai macam pengobatan. Hingga pada akhirnya Dia mulai tertarik dengan profesi itu." Lily menyentuh kepala Putranya.


" Cita-cita kamu sangat mulia, Nak." Ucap Dimas.


Sesaat kemudian, mereka sampai di Rumah Sakit.


" Gilang turun dulu..." Ucap Dimas sembari membukakan pintu untuknya.


" Kenapa Di sini? kata Paman, kita mau jalan-jalan." protes Gilang.


Dimas melepas sabuk pengamannya, lalu turun dari mobil. Dia duduk berjongkok di hadapan Anak tersebut....


" Katanya, Gilang mau jadi Dokter. Jadi Paman akan mengenalkan kamu dengan sahabat baik Paman. Dia juga seorang Dokter di Rumah Sakit ini. Nanti Gilang bisa belajar dari teman Paman,Ya."


Tidak ada satu jawaban dari Gilang, sebelum dia mendapat ijin dari maminya.


Lily pun mengangguk, dan menggandeng Tangan Putranya.

__ADS_1


Namun Gilang juga menggandeng tangan Dimas, layaknya mereka adalah satu keluarga bahagia.


__ADS_2