HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

"Apa maksud kamu? saya lebih berhak atas dia, karena saya lebih dulu mencintainya. Bahkan, dia sempat mengandung buah hati kami. Sedangkan kamu hanya sebatas suami di atas kertas tapi cintanya tetap ada sama saya" Gilang menyombongkan diri.


Damar tersenyum sambil melihat raut wajah Gilang "Hubungan kamu dan dia sudah hancur saat kamu meninggalkan dia, dan dia sudah menjadi milikku sejak kami menikah. yang kamu sebut hanya suami di atas kertas itu tidaklah benar. Kami menikah atas dasar saling cinta bukan karena paksaan. Hubungan kami juga halal di mata umum mau pun di mata hukum." Dengan santainya Damar menyentil kesombongan Gilang. Terlepas dari ketenagan Damar terselip ribuan emosi yang berusaha ia tahan. Damar sendiri buka orang emosional seperti Gilang. Dia bisa mengendalikan diri di situasi apa pun dn di mana pun. Meski ia sendiri tau kesulitan terbesarnya adalah emosi itu sendiri. Namun, Damar tidak lepas kendali jadi bisa membuat lawannya tumbang perlahan.


"Jadi anda mau menyombongkan status pernikahan kalian. Nggak penting" Gilang merasa muak, ia hendak bangkit dari tempat duduknya.


"Santai saja dulu, jangan buru buru pergi. Saya tidak akan memukul anda, tenang saja, oke" Mengatupkan dua jari jemplol dan telunjuk, melingkar seperti bola.


"Maksud kamu sebenarnya itu apa? nggak usah bertele tele" Maki Gilang.


Damar memejamkan mata meredam arahnya.

__ADS_1


"Sudah jelas apa keinginan saya. Kamu tinggalkan istri saya atau saya yang akan peegi dari kalian" Damar menoleh ke samping menatap wajah kesal Gilang sambil melebarkan senyum. Meski hatinya sangat terluka tapi ia tidak ingin kehilangan akal sehatnya dengan main baku hantam, sebab semua itu tidak akan menyelesaikan masalah mereka.


"Heh (amendengus) kamu nggak usah tanya tentang itu pasti kamu sendiri tau apa jawabannya" Ketus Gilang sambil melipat kedua tangannya. terlihat jelas di wajahnya jika saat ini ia sangat marah dan kesal. Awalnya Gilang pikir mereka akan baku hantam atau adu yang lainnya, tapi ternyata hanya pembicaraan tidak penting.


"Kalau kamu tidak mau pergi, oke. Biar saya yang pergi dari kalian, tapi...." Berhenti sejenak, mengambil nafas dalam "Tapi, saya jamin kamu tidak akan mendapatkan cintanya kembali."


"Kamu menyumpahi saya...." Gilang segera bangkit lalu mencengkeram krah kemeja Damar.


Buk...


Damar mengepalkan kedua tangannya, ia mulai tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.

__ADS_1


"Jadi kamu mau main kasar, oke." Damar juga melayangkan pukulan padanya, kepalan tangan Damar menghantam tepat di hidungnya sampai hidung Gilang mengeluarkan darah.


"Satu lagi...."Dengan brutal Damar memukul wajahnya tanpa henti sampai datangkah beberapa orang melerai perkelahian mereka.


"Cukup, pak. Jangan selesaikan masalah dengan kekerasan. Kalian bisa bicakan dengan baik baik." Ucap salah satu pemuda yang telah melerai keduanya.


"Nggak bisa, dia sudah merebut pacar saya. Jadi dia pantas mendapatkan itu" Gilang masih saja menyalahkan Damar atas tindakan yang ia mukai sendiri.


"Semua itu gara gara kamu..." Kembali Danar tersulut emosi, hendak melayangkan pukulan lagi padanya. Namun, ada satu pemuda menariknya dan dua pemuda lain menarik Gilang menjauh.


"Gue belum selesai sama lo..." Teriak Gilang dari kejauhan.

__ADS_1


"Sudah, pak, sudah. Jangan di ladenin orang macam itu. Lebih baik duduk dulu biar saya carikan obat untuk luka bapak ini" Si pemuda tadi hendak pergi mencari apoter di sekitar taman itu namun, Damar menolaknya.


"Saya obati di rumah saja, terima kasih, ya"


__ADS_2