
" Apa yang harus saya katakan jika anda tidak percaya kepada saya lagi...." tutur Olive seraya membuang muka, mengingat betapa terpukulnya ia kala itu. Susah payah ia membersihkan nama baiknya di hadapan umum. Bahkan tidak sampai di situ, banyak perusahaan menolaknya sebab isu yang menyebar dengan luas di media. " Apakah anda tau betapa berimbasnya penghinaan itu untuk kehidupan saya?" Air mata Olive tumpah begitu saja.
Gilang menahan amarahnya demi ingin mencari tau semua kebenaran yang telah lama ingin ia dengar dari mulut Olive. Sejak saat itu Gilang mulai mencari carinya untuk sekedar meminta penjelasan akan salah faham yang pernah terjadi. Namun, lagi lagi gilang terbakar egonya sendiri sampai ia tak dapat berpikir dengan bijaksana. Dahulu Gilang sangat percaya padanya dan tidak pernah sedikitpun menyimpan kecurigaan.
" Lalu kenapa kamu tidak membela diri?" tutur Gilang kembali menekannya.
Olive terdiam sejenak lalu tersenyum getir memperlihatkan luka dalam dirinya.
" Apakah anda akan percaya jika saya membela diri? Tidak." Olive pun keluar dari mobil lalu berlari sekuat yang ia mampu. Tangisan tersedu mengiringinya dalam luka mendalam.
Gilang menghentakkan kedua tangannya di atas stir kemudi lalu mengacak rambutnya.
" Ternyata aku baru tau kebenarannya sejak 2 tahun lalu. Lalu kenapa baru sekarang dia muncul di depanku..." Kesalnya lagi.
Gilang adalah tipe orang yang mencari tau sampai dengan akhir jika ia mulai curiga terhadap sesuatu. Namun, dulu sempat memberi keputusan salah terhadap Olive sebab saat itu Egonya sedang di permainkan keadaan. Saat itu ia sedang di jodohkan oleh kedua orang tuanya hingga amarah tak terbendung dalam dirinya. Saat ini ia tidak bisa berkata apa pun sebab, ia benar salah terhadap Olive.
" Semua karena perjodohan itu..." Umpat Gilang seraya berputar arah.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, sampailah isa di rumah mewahnya. " Bersihkan mobil saya dalam 1 jam..." Perintahnya kepada seorang lelaki yang berdiri di samping mobilnya. Lelaki itu adalah penjaga rumah Pak Gito.
" Baik, Tuan." Ucap Pak Gito.
Gilang pun menuju kamar tidurnya.
bruk...
Tubuh kekar itu terhempas di kasur super mewah. " Kenapa saya bisa salah menilai orang..." Ia membenamkan wajahnya pada sebuah bantal dan mengingat betapa bodohnya ia harus mempercayai kepalsuan setelah bertahun tahun.
ponselnya bergetar, ia mencoba melihat siapa orang yang telah menghubunginya tersebut.
" Lagi lagi dia.." Segera ia mematikan ponselnya setelah tau Amora menghubunginya. Beberapa kali ia beralih posisi tidur tapi tetap saja membuatnya tidak nyaman. Ia pun meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang.
" Ketemu di tempat biasa..." ucapnya datar. Kemudian ia turun dari ranjang, berganti pakaian lalu turun menuju ruang tengah. " Bibi...." Teriak Gilang. Tak berapa lama datanglah seorang asisten rumah tangga " Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" ucapnya sambil menundukkan kepala tanda hormat.
" Tolong nanti bilang sama Amora jika saya nginep di rumah teman. Satu lagi, jangan ijinkan dia keluyuran malam, oke." Tegasnya.
__ADS_1
" Baik, Tuan." patuh sang asisten.
Setelah itu, Gilang melihat mobilnya belum selesai di bersihkan. Ia pun memakai mobil lainnya kemudian menuju sebuah tempat.
Beberapa saat kemudian, ia sampai di tempat ramai yang tidak lain adalah club tempatnya melepas segala kekesalan.
" Tumben Lu ajak gua kesini siang bolong, ada apa?" tanya sahabatnya( Rio ).
Gilang pun menceritakan detail masalahnya.
" Lu tinggal minta maaf udah deh kelar..." ujar Rio santai.
" Lu pikir segampang itu..." Gilang mengambil segelas minuman berakohol yang sudah di pesan Rio sebelum kedatangannya. Rio melihat sikap tidak biasa Gilang saat itu sebab sahabatnya mampu menghabiskan lebih dari satu gelas.
sepertinya dia dalam fase di lema.
Setelah satu jam kemudian Gilang meracau tidak sadarkan diri, Rio hendak membantunya keluar dari club tersebut namun tiba tiba ponselnya berdering dan menerima kenyataan pahit bahwa ibundanya mengalami kecelakaan. Tanpa ragu Rio meninggalkan Gilang yang masih tertidur di sofa club.
__ADS_1