HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Dalam diam Gilang termenung mengingat semua kesalahannya pada waktu itu. Rasa bersalah itu menyiksanya terus menerus, luka tak berdarah tapi merapuhkan diri. Segala cara telah ia lakukan untuk melupakan peristiwa malam itu dan kembali menjalani kehidupannya sebaik mungkin namun, Olive kambali secara tiba tiba. Saat ia membenamkan wajahnya pada stir kemudi, tiba tiba terdengar suara ponsel berbunyi "Itu bukan nada dering ponsel saya..." Gilang pun mencari tau asal suara tersebut "Tas ini...." Gilang meraih tas berwarna merah marun yang terjatuh di mobilnya "Punya Olive" Segera ia membuka tas tersebut lalu mengambil ponselnya. Ketika ia melihat tulisan My husband di ponsel tersebut, hatinya terasa sakit "Jadi dia benar benar sudah menikah..." Gilang kembali meletakkan ponsel itu. Akan tetapi setelah sesaat ponselnya berhenti berbunyi, ada beberapa pesan whatsapp masuk, ia pun penasaran lalu membuka pesan tersebut. Kebetulan ponselnya tidak memakai kata kunci sehingga mudah bagi Gilang membuka ponsel tersebut. "Ternyata dia mendapatkan suami yang sangat mencintainya, dia juga tampan dan sepertinya dia orang kaya..." Setelah Gilang membaca beberapa pesan dari suami Olive membuatnya semakin terluka, lalu ia pun memutuskan meletakkan kembali ponsel tersebut. Meski berulang kali panggilan kembali masuk dalam ponsel Olive namun, Gilang membiarkannya. "Arghhhhhh..." Teriak Gilang dalam mobil. Saat ini api cemburu membuatnya murka, sampai ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. "Aku tidak mau kehilangan dia lagi....bagqimana pun caranya dia harus menjadi milik saya" Tanpa sadar dosa besar telah ia tanam dalam dirinya sendiri. Entah setan mana yang menguasai diri Gilang sampai ia lupa bahwa ia dan Olive tidak akan pernah bersatu sebab mereka sudah mempunyai keluarga masing masing.


Gilang pun kembali ke rumahnya, di mana seharusnya pesta pernikahan masih berlangsung dan seketika di akhiri secepat kilat. Setelah sampai di depan rumah ia sudah di sambut oleh dua orang dengan wajah marah "Turun kamu..." Seorang wanita menggedor kaca mobil Gilang.


"Mam...." Gilang keluar dari mobil


Plak....


Dimas tiba tiba menamparnya dengan sangat keras "Kamu benar benar tidak tau malu..." Dimas meraih jas yang Gilang kenakan "Tidak pantas kamu memakai jas ini, kamu telah menodai pernikahan kamu sendiri..." Dimas melempar jas tersebut lalu menginjaknya bagai sampah. Jas yang bernilai puluhan juta seketika berubah menjadi sebuah kain pel. "Apa hebatnya wanita itu sampai kamu tergila gila? kamu sudah sah menjadi suami Alisya, kenapa masih saja peduli dengan wanita murahan itu" Dimas benar benar tidak bisa mengwndalikan emosinya sebab, tidak hanya dirinya yang si permalukan melainkan juga keluarga besan. Di mata dunia keluarga Dimas di kenal sebagai pengusaha terkenal dan tidak pernah di terpa isu miring. Namun, seketika saja Gilang menghancurkan reputasi kedua keluarga sekali pun.


"Papa seharusnya ngeri perasaan saya, karena papa juga pernah di situasi seperti ini" Gilang meraih tangan papanya, mereka berdua saling menatap. Namun tatapan mata Dimas sangat tajam. "Berani sekali kamu..." Dimas hendak menampar Gilang kembali namun, Gea menghentikannya "Sudahlah, sekarang kita masuk. Jelaskan semua pada keluarga besan"

__ADS_1


"Untuk apa menjelaskan hal yang sudah jelas. Bukankah dari awal mereka sudah tau bahwa ini hanya sebuah perjodohan, bukan kehendak saya." Ucap Gilang.


Dimas meraih krah baju putranya "Kurang ajar kamu...."


"Kenapa, pa? apa papa dan mama lebih mentingin perasaan orang lain dari anak kalian sendiri. Apa kalian tau betapa tertekannya saya selama ini, sekarang saya ingin memiliki apa yang ingin saya miliki dan meninggalkan apa yang tidak saya inginkan." Tegas Gilang.


Ucapan Gilang seolah menampar kerah hati kedua orang tuanya "Heh....JANGAN MACAM MACAM, KAMU" Dimas mendekarakan diri seolah ingin menghabisi putranya saat itu juga.


Gea menangis mendengar ucapan kasar sang anak terhadap ayahnya sendiri, ia merasa gagal dalam mendidik Gilang "Semua ini salah mama karena didikian mama tidak sebaik ibu kandung mu" Kaki yang tadinya kokoh, melemah seketika.


Dimas kesal, ia pun melepas pelukan Gilang "Semua ini karena kamu tidak menuruti ucapan kita.. " Seraya membantu Gea berdiri.

__ADS_1


"Tapi, pa...."


"Cukup!" Tetiak Gea "Gilang. Kamu benar benar membuat mama marah, sekarang kamu minta maaf sama istri dan mertua kamu, cepat" Gea pun hendak menyeret Gilang masuk


"Tunggu...." Dimas menghentikan Gea " Awas saja kalau kamu macam macam, papa tidak segan menghancurkan wanita itu ." Kecam ayahnya. Sata ini Gilang tidak bisa mengelak dari kesalahannya, ia hanya bisa diam dan menerima amukan kedua orang tuanya. Bagaimana pun ia tidak ingin Olive di sakiti untuk yang kesekian kali. "Jangan sakiti Olive. Saya akan menuruti kemauan kalian asal papa tidak menyakitinya"


"Baiklah, sekarang ayo masuk." Gilang menyeretnya ke hadapan mertuanya yang saat itu tengah memeluk putri mereka. "Minta maaf, sekarang..." ucap Dimas.


"Mas, jangan kasar gitu di depan besan" Gea meraih tangan suaminya "Kendalikan emosi kamu"


Gilang memberanikan diri bersimpuh di hadapan kedua orang tua Alisya "Maafkan saya..."

__ADS_1


Terdengar Alisya terisak dalam pelukan ibundanya. Bagaimana tidak, pernikahan yang baru saja terjalin sudah di lukai olehnya. Sekuat apa pun seorang wanita jika perlakuan suaminya melampaui batas, mereka akan rapuh.


Salman selaku ayah dari Alisya merasa di permalukan sampai seseorang yang tidak pernah marah akhirnya hilang kendali. Sakit hatinya di sebabkan oleh kelakukan Gilang yang meninggalkan Alisya di pelaminan demi seorang wanita. Salman berdiri dengan kedua tangan mengepal "Maaf kata kamu...."


__ADS_2