
"Mas Damar..." Ucap Olive ketika suaminya masuk ruangan. Dengan wajah penuh memar dan tatapan kosong Damar menghampiri Olive.
"Mas...." Tangan Olive hendak menggapai wajah penuh memar itu, namun Damar menghindar "Saya baik baik saja"
"Baik baik saja bagaimana? wajah mas sampai memar seperti itu" kembali ia menyentuh wajah samping suaminya. Namun, lagi lagi Damar menepisnya dengan beranjak dari kursi yang di duduki sebelumnya.
"Biar saya obati sendiri sakitnya tidak seberapa. Kamu istirahat jangan lupa makan, setelah ini saya harus kembali bekerja" Damar keluar dari ruangan sang istri. Kakinya melemah ketika pintu tertutup, matanya berkaca kaca sambil mengingat kejadian saat Gipang dan Olive di Villa itu. Hati tak ingin percaya dengan apa yang di lihat, tapi kenyataan yang di lihatnya kala itu melumpuhkan segala keyakinan. Wajah Damar tertunduk lesu di iringi derai air mata.
"Dokter, Dokter....."Dari kejauhan terdengar seseorang memanggil nama Dokter, karena Damar masih bertugas segera ia menampik kepiluannya lalu menghampiri seorang wanita paruh baya. Wanita itu tidak lain adalah ibunda Fanya, dia baru mendapat kabar bahwa putrinya kecelakaan "Dam bagaimana kondisi Fanya?" Layaknya seorang ikut tekut kehilngan sang putri, kedua mata mengeluarkan buliran air mata, dan wajahnya menggambarkan kecemasan.
"Fanya masih dalam kondiri kritis, Tan. Benturan di kepalanya mengakibatkan pendarahan di otak. Kami para medis sudah berusaha sekuat yang kami bisa, sebelihnya kita serahkan sama Tuhan"
Mendengar ucapan Damar membuat beliau menatap tajam ke arah Damar "Semua ini terjadi karena kamu" Dari sorot matanya sudah jelas beliau marah kepada Damar. Tanpa mendengar penjelasan Damar beliau lebih dulu berlarian menuju ke ruangan sang putri.
Dalam kesendirian Olive menunduk melihat ke arah perut, tanpa di sadari air matanya tumpah begitu saja. "Sudah lama kebahagiaan ini yang mas Damar tunggu. Tapi...." dalam diri Olive pun tersemat keraguan. Ia tidak menampik bahwa tidak hanya benih Damar di dalam rahimnya melainkan ada benih Gilang juga. Mengingat itu seolah Olive merasa jijik pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa semuanya jadi seperti ini...." Pandangan Olive tertuju pada sebuah jendela ruangan, kebetulan ia di rawat di ruangan berkrlas di rumah sakit itu.
Tak lama kemudian ponsel Olive mengeluarkan bunyi pesan whatsapp. Di raihlah ponsel di atas meja, setelah di lihat ternyata pesan itu dari Gilang. Memang gila orang ini, bisa bisanya dia mengirimkan pesan singkat (Sayang, jaga baik baik anak kita ya, sampai nanti kita bisa melihatnya tumbuh) kalimat pesan singkat itu membuat Olive bergidik ngeri.
Prank....
Merasa kesal ponsel itu pun menjadi sasaran pelampiasan amarahnya. Ponsel keluaran terbatas itu pun hancur menjadi beberapa bagian.
Setelah terdiam beberapa saat, air matanya pun kembali menetes "Arghhhhhhhh...."
"Lepas, Mbok, Lepas" Akhirnya Olive tenggelam dalam pelukan Mbok Inah. Meski hanya seorang asisten rumah tangga, tapi beliau sudah seperti keluarga. Perlahan Mbok Inah menasehati Olive bahwa setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Sejatinya pelangi akan timbul di kala hujan reda, sama halnya dengan sebuah masalah.
Di lain sisi Damar tengah berjalan menuju ruang Dokter, di sana sudah ada dua sahabatnya yang tengah duduk di meja masing masing.
"Astaga kenapa sama tu muka?"
__ADS_1
"Tak apa" Sambil duduk di kursinya.
"Cih, sok jagoan sih banyok kan tuh muka"
"Bisa diem nggak sih? bikin pusing aja"
Kedua sahabatnya saling melempar pandang, melihat ada kejanggalan dalam diri Damar.
"Sini gua obatin dulu..." Salah satu dari mereka mendekati Damar lalu mengobati luka di wajah Damar.
"Ada apa sih?" Tanya yang lain
"Jangan bilang kalau lo di hajar sama keluarga Fanya?"
"Aw....apaan sih kalian. Udah ah gua mau ke pasien lain" Damar kembali meninggalkan ruang Dokter menuju ke ruangan pasien lainnya. Demu menutupi lebam di wajahnya, ia memakai masker medis.
__ADS_1