HASRAT

HASRAT
Kenangan David


__ADS_3

Semua perjuangan telah usai sudah. Hari baru mulai terbuka untuk menyambut kisah barunya di tanah kelahiran. Semua kisah tentang Gea terkunci rapat dalam hati, meski dirinya masih enggan tuk melupakan tapi waktu meminta pergi sejauh angannya.


" Huff....sulit juga untuk tidak memikirkan dia." Berdiri melihat sebuah foto terpajang di dinding kamar.


" Sekarang kamu telah berlabuh tapi disini aku masih meratap sakit..." Di usap perlahan foto wajah Gea yang tersenyum indah.


" Ehem..." Seorang wanita paruh baya berdiri depan pintu melipat kedua tangan di atas perut. Berjalan mendekati putranya yang saat itu tengah kesakitan.


" Sampai kapan kamu bersedih seperti ini? Mami tau dia itu wanita satu satunya yang kamu cintai, tapi dia sudah memilih lelaki lain bukan kamu, nak. Lebih baik lupakan dia. Mulai hari kamu tanpa bayang bayang masa lalu itu...." Ucap ibunda David sembari menepuk pundak putranya, menguatkan hati supaya David tidak terjerumus dalam luka.


" Sulit Mam. Tidak ada wanita semenarik dia dalam mata ini..." Mata David melukiskan kelemahan.


" Lelaki kok lemah." Cetus Ibunda David seraya duduk di tepi ranjang, melihat David yang masih berdiri mematung menatap sebuah bingkai foto di dinding.


David sadar bahwa saat ini dia lemah oleh seorang wanita. Karena dalam hidupnya Gea adalah segalanya, di saat dia butuh bantuan keluarga Gea datang mendekat, di saat terusir dari rumah orang tuanya keluarga Gea pula yang membantunya. Jadi dia sangat sulit tuk melupakan sosok Gea dalam hidupnya.


" David....duduklah, mami ingin bicara."

__ADS_1


David mendekat...


" Ada apa mi?"


" Seperti janji mami sama papi, semasa hidup beliau ingin kamu menikah dengan wanita mana pun asal kamu bisa bahagia. Meski belum sempat papi mengucap kata terakhirnya, tapi papi ingin kamu bahagia. Tolong jangan buat papi kecewa dengan sikap kamu ini. Bangkitlah, cari tulang rusuk mu."


" Aku tidak tau harus berbuat apa, karena saat ini pikiran ku hanya tertuju padanya saja." Perlahan air mata David jatuh di depan ibundanya.


Segera ibunda David memeluknya seraya mengusap lembut pundak putranya tersebut...


" Mulailah semua dari sekarang. Tuhan serta semesta tidak mendukung kamu nak, jadi percuma saja kamu berusaha."


" Mami...." David melepas pelukan ibundanya lalu menatap mata dalam.


" Apakah perjodohan dulu masih berlaku?"


" Maksud kamu?" Heran ibunda David.

__ADS_1


Sesaat mengambil nafas dalam lalu membuang perlahan....


" Kalau masih bisa, aku mau mencobanya mam. Aku tidak ingin terus menerus mengingat Gea, sedangkan yang aku pikirkan tengah bahagia dengan yang lain. Aku juga malu terus menerus berada di tengah tengah keluarga mereka." Wajahnya tertunduk seolah pasrah dengan nasib yang akan membawanya dalam sebuah dunia baru.


" Kalau itu pilihan kamu maka mami akan berbicara sama pak Erick. Sepertinya mereka masih mengharap perjodohan ini berlangsung. Tapi kamu yakin ingin menikah dengan dia?" Kembali meyakinkan putranya atas hal yang berat.


" Iya mi, aku yakin. Mungkin dengan begitu aku bisa melupakan masa lalu bersamanya. Aku juga ingin menebus semua kesalahan masa dulu saat aku memilih kabur dari tanggung jawab. Saat ini aku benar ingin memperbaiki diri Mi."


" Bagus kalau kamu berpikir begitu.." Cetus seorang lelaki yang baru saja masuk kamar, dia adalah kakak pertama David, pemimpin semua perusahaan ayahnya.


" Kakak..." Segera menyambut kakaknya dengan berpelukan. Sudah sekian lama mereka tidak bertemu.


" Selamat datang kembali adik ku.." Ucapnya seraya menepuk pundak David.


" Kita bicara di ruang tengah yuk.."


Mereka semua keluar dari kamar lalu melanjutkan obrolan di meja panjang, penuh kekeluargaan.

__ADS_1


Keluarga David kembali bersatu meski Ayahnya telah tiada sebulan yang lalu.


__ADS_2