
Segera Olive menuju ruang rapat, di mana semua klien telah menunggu. Beruntung, rapat belum di mulai. Sesampainya di depan pintu, ia merapihkan pakaian lalu mengambil nafas dalam "Huh...bismillah" Perlahan ia mambuka pintu ruang rapat.
Katika ia memasuki ruangan, jantungnya berdegub kencang. Sudah hampir 6 tahun, ia tidak menghadapi orang penting. Akan tetapi, ia berpegang teguh pada pengalaman kerja di perusahaan besar. Tentunya dia akan menjalankan semua dengan sebaik mungkin."Maaf, saya terlambat." Ucap Olive seraya menarik kursi pimpinan yang harusnya di duduki suaminya.
Sebelum acara di mulai, keponakan Damar memperkanalkan diri Olive"Perkenalkan beliau adalah pimpinan baru di kantor ini. Mulai dari sekarang beliau yang akan menghendel semua urusan kantor. Beliau juga adalah istri dari tuan Damar"
Setelah selesai memperjenalkan diri, mereka semua bersiap menggelar rapat.
Olive senang dirinya si terima dengan baik.
"Sekarang mari kita mulai..." Olive menyiapkan File. Di saat ia hendak menjelaskan inti dari file tersebut, matanya terbelalak kala melihat seorang pria tengah menatapnya.
Pria itu tidak lain adalah Gilang. Pewaris tahta perusahaan Hendarman. Perusahaan Hendarman telah menyuntikkan dana paling besar di perusahaan itu. Dengan santai Gilang mengulas senyum pada Olive di depan semua orang. Meski, mereka tidak menduga bahwa senyum itu adalah senyuman ketertarikan. Para pimpinan lain juga merasa aneh, Gilang yang terkenal dengan sifat dingin dan arogan tersenyum pada Olive.
"Kak, ayo lanjut" Keponakannya berbisik sampai membuyarkan lamunan Olive.
"Maaf, mari kita mulai pembahasan pertama" Olive berusaha keras tidak memperhatikan Gilang. Sebisa mungkin ia bersikap tenang. Lemah gemulai dalam bertutur kata mambuat Gilang semakin tertarik. Seiring dengan berjalannya waktu, Gilang hanya memperhatikan kecantikan Olive, tanpa tau apa isi pembahasan tersebut.
Setelah hampir setengah jam, rapat selesai. Olive berhasil atas rapatnya. Setelah rapat selesai, ia menunggu para tamu meninggalkan ruangan. Setalah semua keluar, Olive bangkit dengan beberapa file di lengan. Sebagai tuan rumah, wajib bagi Olive memperlakukan klien bak raja.
Hari pertama kerja berjalan dengan baik. Senyumnya mengembang puas. Ketika ia hendak berbalik, tiba tiba sosok Gilang muncul di hadapannya "Mau apa kamu?"
__ADS_1
Gilang sengaja keluar paling belakang di antara para klien, setelah semua pergi ia berdiri sejenak melihat Olive masih sibuk menata File. Di situlah Gilang memutuskan untuk menghampiri Olive. Pintu ruangan sudah ia tutup sebelumnua "Maunya aku, kamu" Gilang mendekatkan wajahnya.
"Jangan macam macam atau saya teriak...." Segera Olive berjalan mundur, langkah demi langkah, membuat Gilang semakin bringas. Wibawanya jatuh di depan seorang gadis.
"Hahaha...kamu kira saya bodoh. Ruang ini kedap suara" Gilang terus melangkah ke depan, sedangkah langkah kaki Olive mundur langkah demi langkah.
"Tuan Gilang Hendarman, saya tekankan jangan mendekat" Jari telunjuk Olive menunjuk tepat di wajahnya.
Dug....
Badan Olive terpojok oleh tembok. Gilang segera mengunci dengan kedua tangan "Kenapa kamu terus menghindari saya. Kenapa pula nomor saya kamu blokir?" Gilang semakin menyudutkan Olive, mereka saling memandang.
"Apa pentingnya saya menyimpan nomor anda?"
Olive menyunggingkan senyum getir "Milik kamu? jangan mimpi!" ketus Olive.
"Apa kamu bilang?" Gilang mencengkwram dagu Olive sempai mendongak ke atas
"°Tidak ada yang tidak bisa saya miliki..."
Dengan sekuat tenaga Olive melepaskan tangan Gilang "Lepas...." Amarah Olive kembali meluap "Tolong jangan ganggu saya lagi. Kehidupan saya jauh lebih baik sekarang" Berusaha melepaskan diri dari kedua tangan kekar Gilang yang membuatnya sulit bergerak. Ia di himpit sedemikian dekat.
__ADS_1
"Kamu itu hanya boleh bahagia bersama saya bukan dengan orang lain." Tekan Gilang seraya mendekatkan wajah. Jarak wajah keduanya sangat dekat, sampai deru nafas saling bertukar arah.
"Gila, kamu..." Dengan kasar Olive mendorong wajah Gilang "Apa yang kamu harapkan dari saya. Bukankah dulu kamu menyuruhku pergi sejauh mungkin, sampai kamu tidak menemukan diriku. Sekarang, setelah saya menemukan kebahagiaan, kamu mulai mengejar saya. Kamu pikir saya ini apa?" Ucap Olive dengan berlinang air mata.
Gilang melihat penderitaan Olive dari balik matanya "Maafkan saya. Saat itu saya tidak bisa berpikir jernih." Gilang hendak menyapu air mata Olive. Namun, seketika Olive menepisnya "Jangan jelaskan apa yang tidak ingin saya dengar. Anggap saja tidak ada yang terjadi saat itu..."
Gilang berjongkok, meraih kedua tangan Olive "Tolong maafkan saya. Saya mau bertanggung jawab atas apa yang pernah saya lakukan dulu. Tolong terima saya"pinta Gilang Seraya menciun kedua tangan Olive.
Perasaan Olive semakin sakit, sekuat tenaga ia mendorong tubuh Gilang "Jalani hidup masing masing, itu jauh lebih baik. Tak perlu pikirkan masalah dulu, saya juga sudah memaafkan kamu." Olive hendak pergi namun dengan sigap Gilang memeluknya dari belakang. "Sungguh saya sangat mencintai kamu. Jangan tinggalkan saya lagi"
"Apaan sih, lepas..." Pelukan Gilang terlalu kuat, sehingga sulit baginya lepas dari pelukan tangan Gilang.
"Saya sangat mencintai kamu..." Serangan Gilang mulai menjalar di leher Olive. Tentunya Olive menggelinjang hendak melapas diri.
"Dasar mesum. Lepaskan saya..." Berkali kali Olive memukuk lengan Gilang sampai menjambak rambutnya. Tatap saja Gilang melanjutkan aksinya sampai meninggalkan tanda merah di leher Olivia.
Perlahan Olive mulai lemas, tubuhnya tidak bisa menahan serangan Gilang. Mereka pun terduduk bersama, dengan posisi Gilang di belakang Olivia. Melihat pertahanan Olive melemah, Gilang segera menyapu di sela telinga Olive. "Saya menginginkannya..." Semakin berani Gilang bermain pada Olive.
Sesaat kemudian Olive sadar bahwa dirinya tengah di permainkan Gilang. Segera ia melepaskan tangan Gilang "Stop...."
Dengan tubuh terjengkang Gilang tersenyum puas "Meski kamu menolak saya seperti apa pun, tubuh kamu berkata lain."
__ADS_1
Olive merasa sangat terhina, kemudian ia merapihkan kembali pakaiannya "Keterlaluan kamu..." Olive berlari ke arah pintu, lalu keluar meninggalkan Gilang begitu saja.