
Beberapa hari kemudian, Leo keluar dari masa perawatan.
Udara segar mulai kembali dia rasakan, kepulangannya bagaikan terbebas dari belenggu jeruji besi sel tahanan...
"Akhirnya aku bisa kembali pulang..." Ucap Leo.
Tatapan Leo tertuju pada wanita yang saat ini tengah membantunya untuk berjalan, tentunya wanita itu adalah Marisa.
hampir satu minggu Risa senantiasa menjaga Leo dengan ketulusan yang dia miliki, bahkan tidak sedikitpun Risa mengeluh.
semua itu dia lakukan karena ada keperdulian terhadap Leo, perasaan bahagia saat bersama membuatnya tidak ingin jauh dari dirinya....
keperduliannya akan membawa dia menemui sebuah rasa indah yang di sebut juga sebuah Cinta.
"Kenapa kamu hanya diam..?" Tanya Leo sembari menatap wajah redup Risa.
"Aku hanya sedih...!"
Leo nampak berpikir keras atas hal yang membuat Risa bersedih, sebelumnya Risa masih baik-baik saja.
lalu kenapa saat ini dia mengatakan bahwa dia sedang bersedih....
"Apakah kamu bersedih dengan kesembuhanku ini?."Cetus Leo dengan menghentikan langkah.
__ADS_1
"Bisa jadi begitu!" Cetus Risa tanpa perduli dengan tatapan kejam Leo.
"Kalau begitu semua yang kamu lakukan hanyalah sebuah keterpaksaan saja? astaga, aku kira kamu tulus, ternyata kamu terbebani dengan semua ini."Leo melepas tangan Risa dari tubuhnya, dia berusaha untuk melangkahkan kaki.
namun semua itu hanya membuat dia merasa semakin kesakitan.
pada akhirnya Leo terjatuh ...
luka pada kakinya belum sepenuhnya sembuh, bahkan dia di haruskan untuk duduk di kursi roda, akan tetapi Leo memilih untuk tidak menggunakan alat bantu apapun...
dia yakin bahwa dia akan segera pulih dari cidera kaki tersebut, lukanya memang tidak separah Cidera pada bagian kepalanya,
hingga dia masih bisa berdiri dan berjalan, meski tidak seperti orang berjalan pada umumnya.
Leo merasa ada sebuah arti dalam kalimat Risa, sebuah kesimpulan terberat yang membuat Leo terdiam sementara.
"Leo...." Lirih Risa dengan tatapan penuh arti.
"Risa, aku sangat berterima kasih atas semua kebaikan kamu. tapi semua perkataan kamu membuat aku merasa bagaikan kamu meminta untuk selalu bersama denganku, Apakah semua itu benar? atau aku saja yang terlalu berharap?." ucap Leo.
Risa tidak menjawab sedikitpun, dia hanya terdiam dengan melanjutkan langkah kaki untuk sampai di parkiran...
"Kamu tunggu disini, aku panggil taksi dulu..."
__ADS_1
Tak berapa lama Risa kembali.
"Aku bisa sendiri..." Leo masuk dalam mobil.
"Leo...."
"Hemmm..." Leo masih sibuk dengan sabuk pengaman.
"Bolehkah aku menginap di rumah kamu? aku ingin menjaga kamu sebelum aku kembali." Lirih Risa sembari meraih tangan Leo dengan satu permohonan.
Leo terkejut atas permintaan Risa yang membuat dirinya bagai di sambar petir, selama ini dia tidak pernah membawa wanita masuk dalam rumahnya kecuali Criztine.
namun kunjungan Criztine hanya sekedar bertamu tidak untuk bermalam disana.
Saat ini Leo serba salah, jika dia menolak permintaan Risa, maka sama saja dia mencampakkan pengorbanan Risa.
namun jika dia mengijinkan, dia takut jika nanti akan timbul Fitnah di antara mereka.
"Bukannya aku tidak setuju untuk kamu bermalam di rumahku, tapi aku tidak terbiasa membawa wanita menginap di rumah! aku takut jika akan terjadi salah faham nantinya." Jelas Leo.
"Pokoknya aku mau tinggal di rumah kamu, titik!." Ucap Risa tanpa penolakan.
Tidak tega rasanya untuk membantah semua keinginan gadis tersebut, pada akhirnya Leo mengangguk tanda mengiyakan semua kemauan Risa.
__ADS_1