HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Alisya melepas sepatu yang masih menempel di kaki suaminya. Ketika wajahnya menunduk hendak membuka sepetu tersebut, hidungnya mencium bau alkohol yang menyengat sampai ia menutup hidungnya "Ya Allah ampuni semua doaa suami hamba" Alisya tau bahwa perbuatan sang suami adakah dosa. Tapi, diatidak bisa berbuat banyak karena percuma saja Gilang tidak akan mendengarnya.


"Olivia..." Dalam ketidak sadaran Gilang masih memanggil nama wanita itu hingga membuat hati Alisya terluka.


"Astagfirullah, ya Allah" Menyentuh dada seraya mengusap perlahan. Terasa sakit dalam hatinya, seakan tak bisa bernafas lega. Air mata pun menggumpal di pelupuk mata.


"Kembalilah bersamaku sayang" Gilang mulai meacau tidak jelas. Alisya semakin terskiti, ia pun hendak pergi tapi tanpa di sengaja Alisya menyenggol meja hingga membuat gelas di atasnya terjatuh dan pecah.


"Olive, kenapa sayang?" Dalam pandangannya saat ini hanya ada wajah Olivia seorang.


"Mas, lepas...." Ketika kedua tangan Gilang melingkar di pinggang ramping Alista, secara reflek Alisya menepisnya. Maklum, baru pertama dia merasakan sentuhan dari seorag pria. Meski pria itu adalah suaminya sendiri. Hampir sebukan lebih pernikahan mereka tapi dia belum pernah sedikit pun di sentuh oleh sang suami. Bahkan seujung kuku pun belum pernah.


"Jangan pergi lagi, sayangku" Gilang semakin mengeratkan pelukannya sembari menempelkan dagu di pundak sang istri. Hembusan nafas Gilang menyapu telinga Alisya sampai membuatnya memejamkan mata.


Dia suamiku, dia berhak melakukan apa saja terhadapku. Tapi, dalam pandangannya saat ini bukan aku tapi wanita lain. Berdosakan aku jika menolak keinginan suamiku.


Kediaman Alisya membuat Gilang semakin berani, tangan kirinya mengerat di pinggang Alisya sedangkan tangan kanannya membuka resleting baju syari sang istri.


Alisya semakin memejamkan mata bersiap melakukan kewajibannya, meski itu bukan kemauan dari hati Gilang. Setelah baju tersebut lolos dari badannya, Gilang pun membalikkan badan Alisya. Kini keduanya saling berhadapan dan Gilang langsung mencium bibir istrinya dengan ganas. Hasratnya mulai meluap hingga Alisga kesulitan bernafas. Hampir lima menit mereka bercumbu dan kini Gilang membawa Alisya menuju ranjang, lalu melemparnya dengan kasar.


"Olivia kamu hanya milikku saja" Ucap Gilang seraya membuka kancing kemejanya. Satu persatu kancing kemeja terbuka dan pakaian di tubuh Gilang lolos sempurna.


Melihat tubuh suaminya membuat Alisya menutup mata, jantungnya berdetak kencang. Darah seolah mengalir dengan cepat sampai membelai seluruh badan.


Gilang segera melakukan aksinya. Sontak Alisya terkejut kala jari jemari Gilang mulai nakal di bagian sensitivenya. Sebenarnya Alisya merasa risih karena baru kali pertamanya dia di jamah oleh suaminya. Bagaimana pun Alisya harus menuruti hasrat suaminya karena menolak adakah dosa besar baginya.


Tanpa henti Gilang membisikkan kalimat cinta dan kekaguman di telinga Aliaya meski ia tau semua pujian itu bukan untuknya melainkan untuk wanita lain.


Setelah melakukan ritual kenikmatan Akhirnya keduanya terkulai lemas di atas ranjang, dengan kepala Alisya beetumpa pada lengan Gilang. Mereka saling memeluk satu sama lain. Di balik indahnya malam ini tersemat luka tak terlihat di dada. Tapi, dengan seperti inj Alisya sudah sepenuhnya menjadi layaknya seorang istri sah di mata dunia.

__ADS_1


Katika sepertiga malam, Alista terbangun lalu melakukan mandi wajib. Setelah itu ia bergegas menuju lemari, mengambil peralatan shalat. Dia pun melakukan shalat malam dengan wajah berseri. Semua doa terbaik ia tujukan pada suaminya dan hubungan rumah tangga mereka.


"Ya Allah, jika dengan semua ini mas Gilang bisa membuka hatinya untuk hamba, maka hamba ikhlas jika harus malakukan ini atas dasar kekeliruan. Bagaimana pun dia adakah suami hamba yang telah Engkau gariskan jodohnya untuk hamba. Selamatkan rumah tangga kamu dari kehancuran. Hamba hanya bisa berserah pad-MU, bukanlah pintu hati suami hamba ini. Amin" Mengusap wajahnya dengan kedua tangan yang tadinya menengada. Pancaran sinar wajah cantik Alisya memancarkan kemilau bahagia.


Selesai shalat, Alisya terduduk di tepi ranjang melihat suaminya masih tertidur pulas.


"Saya sangat mencintai kamu, mas" Lirih Alisya sembari menyentuh wajah sang suami. Belaian lembut tangan Alisya membuat Gilang berpindah posisi membelakangi Alisya.


Alisya tersenyum kemudian mengambil baju Gilang yang sengaja ia letakkan di samping ranjang. Ia segera membawanya turun ke bawah. Di seperti halam malam seperti ini seluruh ruangan nampak masih sepi.


Samar samar Alisya mendengar suara musik dari ponsel, dan suara itu mengarah ke dapur.


"Sepertinya ada orang di dapur" Alisya segera memakai cadarnya kala mendengar ada suara dari dapur.


"Mami?" Alisya terkejut kala melihat Lily sedang mencuci pakaian.


"Eh, kamu sayang. Sini biar mami bantu cucikan" Hendak meraih beberapa helai dari tangan menantunya, tapi Alisya memundurkan langah.


Melihat ucapan manis sang menantu membuatnya tersenyum bangga telah mendapatkan menantu idaman para mertua.


"Baiklah kalau begitu, makasih ya" Ketika Lily mengusap lengan Alisya, tanpa sengja ia melihat jilbab yang di kenakan Alisya basah. Tentu hal itu membuatnya tersenyum.


"Mami ke kamar dulu" Lily pun bergegas pergi.


"Mas, mas, ada berita baik" Ucap Lily sembari menghuyung badan suaminya yang masih terlelap.


"Ah, mami. apa sih..." Raka masih merasa kantuk.


"Ih...bangun dulu"

__ADS_1


Terpaksa Raka membuka mata "Hem...apa sih, senang banget" Sambil terduduk.


Raut wajah bahagia terlihat di wajah sang istri. Raka merasa senang jika istrinya kembali tersentum setelah menangis seharian penuh.


"Ada apa sayang, katakan?" Menyentuh kedua pipi Lily, meras gemas.


"Kita akan segera menimang cucu, mas"


"Cucu? maksudnya Gilang dan Alisya...."


Lily mengangguk sambil tersenyum.


"Ternyata ada baiknya juga dia mabuk."


"Ah, mas ini jangan begitu. Kalau Gilang terus mabuk bisa gila anak kita nanti. Lagi pula wanita yang di nikahi bukan wanita sembarangan. Dia itu taat agama, jadi kita harus menjaga mana baik anak kita dong" Protes Lily.


Raka tersenyum sambil memeluk istrinya "Iya, deh iya. Aku juga beruntung punya istri sebaik dan manis seperti kamu" Raka mulai bucin.


"Ih, apaan sih. Malu ah udah tua" Lilyvmelepas tangan Raka kala jemarinya menggerilya kemana mana.


"Jadi pingin deh" Raka pun menumbangkan kokohnya Lily dan mereka bergumuk dalam kenikmatan.


Usia bukan patokan bagi mereka untuk berhenti bercinta, karena yang tua juga butuh rasa. Hasrat dalam diri tidak mengenal batasan usia, tapi dorongan itu ada saat datangnya keinginan juga rasa cinta.


"Awwww..." Gilang membuka mata perlahan, melihat sekeliling kamar. "Kok saya sudah di sini" Ketika hendak menyingkap selimut, tiba tiba dia terkrjut melihat kondisi tubuhnya.


"Astaga, apa yang sudah terjadi" Segera Gilang menutup tubuh bagian bawah dengan selimut di atas ranjang. Ketika selimut di tarik terlihatlah bercak darah di spray.


"Ya ampun, bodoh banget gue" Mengacak rambutnya sendiri ketika sadar bahwa dia telah melakukan hubungan dengan Alisya.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Gilang menuju kamar mandi lalu ia mandi, di bawah kucuran air hangat Gilang menengadahkan wajah sambil memejamkan mata.


"Kenapa saya bisa berbuat kesalahan seperti ini..."


__ADS_2