
Siapa tidak kecewa mendengar anaknya berbuat salah bahkan, dalam mimpi pun mereka tidak mau melihat mau pun mendengarnya. Jiwa seorang ibu memberontak dengan kenyataan menyakitkan. Kedua orang tua telah mendidik dan mengajari bagaimana yang baik dan buruk. Membentuk putra putri mereka menjadi privadi yang baik serta bijaksana. Namun, takdir kehidupan yang berliku juga sering menemui jalan buntu memaksa mereka menjadi seorang yang salah jalan.
"Sayang..." Dimas menghampiri istrinya yang tidur telungkup dengan menangis sejadinya.
"Aku sudah gagal menjadi ibu yang baik untuknya...aku gagal." Gea menangis sesenggukan mengingat Gilang adalah anak yang telah ia didik selama bertahun tahun kini, Gilang terjrrumus dalam lembah dosa.
"Andai aku lebih bisa menjaganya pasti kejadian ini tidak akan terjadi kepada anak kita, mas...."
Dimas menyentuh pundaknya "Sebaik apa pun kita mendidik anak anak kita jika, jalan takdir mereka harus seperti ini kita hanya bisa pasrah. Tapi untuk menikahkan mereka berdua aku tidak akan sudi. Kita belum tau karakter dan keluarnya bagaimana kita bisa merestui pernikahan itu..."
__ADS_1
"Bagaimana kalau gadis itu sampai hamil? bagaimana masa depan bayi itu...Apa kamu tega membeiarkan anak kita dalam terjerat oleh dosa besar..." Dalam tangisnya masih terbesit hal yang Gea pertimbangkan. Namun, tidak ada yang bisa mengubah keputusan Dimas. Sejatinya Gilang adalah tanggung jawab Dimas sebab, Gilang adalah anak kandungnya. Gea hanya sebatas ibu tiri yang berusaha keras menjafi ibu yang terbaik untuknya. Ia mendedikasikan diri dan jiwa raganya untuk menjaga Gilang serta mencintainya penuh. Bahkan kasih sayang Gea lebih basar dari kasih sayangnya kepada Amora putri kandungnya.
"Tidak! kalau sampai dia hamil kita suruh dia gugurkan kandungannya..." Dimas beranjak menuju cendela kamar. Pandangannya tertuju jauh ke atas langit biru.
" Itu dosa besar, mas. Jika dosa itu tidak bisa di hilangkan setidaknya kita bisa bertanggung jawab atas dosa tersebut...."
"Halah....pasti gadis itu telah meracuni anak kita suapay bisa hidup enak. Jaman sekarang cari suami yang tampan kaya dan berprndidikan seperti Gilang itu sangat sulit. Pasti gadis itu telah menggodanya" Ucap Dimas dengan nada tinggi.
Dimas mengernyit "Sampai kapan pun aku tidak akan merestui mereka sekali pun Gilang menangis darah."
__ADS_1
"Apakah dulu kamu juga menyuruh Lily menggugurkan kandungannya?" Gea manatap dalam pandangan Dimas yang pada saat itu terasa panas. Gea paling tidak suka jika putra kesayangannya itu di lukai oleh siapa pun termasuk ayah kandungnya. Tapi, ia juga tidak dapat memungkiri sakit hati karena ulah Gilang pula.
Sontak saja Dimas terkejut kala ucapan Gea menusuk relung hatinya " Kenapa kamu mengungkit masa lalu ku..." Dimas mengepalkan tangan seolah ingin memukul Gea.
" Kenapa? pukul saja kalau kamu mau..." Gea mengajukan pipi kanannya dengan tatapan mata menantang "Seharusnya kamu belajar dari masa lalu kamu itu, mas. Jangan sampai anak kita terbelenggu dengan dosa dosanya, biarkan Gilang bertanggung jawab...."
"Pokoknya aku tidak akan menikahkan Gilang kecuali dengan gadis pilihan ku...."
Dimas tak ingin amarahnya menjadi jadi, ia memutuskan keluar kamar.
__ADS_1
"Kenapa harus menyamakan masa laluku...."Dimas ngedumal di sepanjang langkah kakinya1