HASRAT

HASRAT
akhir sebuah kisah


__ADS_3

Tiba saatnya Olive di makamkan.


Siang itu di bawah terik mentari Gilang berdiri tegak di depan jenazah sang istri yang sudah berada di liang lahat, ia memutuskan akan mengadzani sang istri untuk terakhir kali. Dengan nenahan kesedihan ia pun mengumandangan adzan. Semua orang yang ikut menyaksikan prosesi pemakaman ikut meneteskan air mata.


"Nggak tega sekali lihat Dokter Damar seperti itu...." Bisik salah saru warga yang ikut tekziah.


pemakaman itu juga di hadiri pihak keluarga besar Gilang. Tapi sejak pagi Gilang tidak nampak berada di sana. Entahlah mungkin Gilang terlarut dalam kesedihan sampai ia tidak bisa menyaksikan pemakaman terakhir dari wanita yang selama ini di cintainya.


"Kami turut berduka, Dok. Yang tabah semua sudah di gariskan oleh sang maha kuasa" Ucap Dimas seraya mengusap pundak pak Dokter. Damar hanya mengangguk tanpa berkata. Tatapan matanya tidak lepas dari sang istri yang perlahan tertutup tanah liat. Sekuat apa pun pribadi manusia pasti akan lemah jika sebagian hidupnya harus kembali pada sang pencipta.


"Ayo nak kita pulang, kasian sama kandungan kamu" Gea merangkul menantunya sembari membawa bayung hitam.


Sesekali Alisya melihat ke arah Damar, ia merasakan betapa sakitnya hati seorang suami di tinggal sang istri beristirahat selama lamanya. Bagaimana pun Alisya tidak nenaruh dendam terhadap Olive sedikit pun, sebab ia sadar selama ini bukan Olive yang mengejar suaminya tapi justru suaminya lah yang mengejar cinta wanuta tersebut.

__ADS_1


"Ayo, ma" Alisya pun meninggalkan pemakan usai acara selesai, di ikuti beberapa orang lainnya.


"Den mari kita pulang...." Mbok Inah ikut berjongkok di hadapan makan istri majikannya, sambil mengusap pundak Damar. "Terima semua dengan ikhlas, Den. Ini sudah jalan Tuhan...."


Damar menyeka air mata "Saya ikhlas, Mbok. Hanya saja saya masih ingin di sini sejenak. Mbok Inah pukang dulu saja...." Ucapnya seraya mengusap pusara sang istri.


Tanpa kata Mbok Inah pun pergi.


Damar berbalik badan mencari sumber suara tersebut "Kamu...." ia di kejutkan dengan datangnya Gilang bersama seorang bayi di gendongannya.


"Dam.....ini anak kamu" Menyerahkan sang bayi pada Damar.


Damar melihat bayi ditangannya sambil meneteskan air mata "Ya Allah nak di usia sekecil ini kamu harus hidup tanpa hadirnya ibu....." Menciup ujung kening sang bayi mungil yang menangis.

__ADS_1


"Dia anak kandung kamu, Dam. Saya sudah melakukan tes Dna dan hasilnya dia memang anak kalian. Selama ini saya terlalu teropsesi dengan cinta, hingga membuat saya lupa akan satu hal yaitu, Ketentuan. Tuhan menakdirkan hidup saya untuk tidak menyatu dengan Olive begitu juga dengan bayi ini. Ternyata dia benar adalan anak kamu. Maaf karena selama ini saya telah merusak kebahagiaan kamu, dan karena saya juga Olive harus...."tiba tiba saja mulutnya mungatup rapat sampai tidak bisa berkata kata. Hanyalah air mata yang mewakili perasaannya saat ini.


"Selamat jalan Olivia sunandar" Menyentuh tanah di mana Olive di makamankan saat ini.


Awalny Damar tidak terima jika kematian sang istri harus berada di tangan Gilang, Sama seperti kenahagiaan yang telah di rampas olehnya. Tapi, dengan melihat bayi dlam gendongannya itu membuat Damar sadar bahwa di balik semua musibah terletak bahagia.


"Saya akan memafkan kamu dengan satu syarat..." ucap Damar. Gilang mendongak melihat wajah Danar dari bawah "Apa itu? kalau pun saya harus masuk penjara, saya sudah siap...."


Dengan tangan menggendong bayi dan satunya memegang payung Damar berkata "Sayangi apa yang kamu miliki dan mari kita mulai kehidupan kita masing masing. Mungkin setelah ini saya akan membawa putri saya pergi dari kota ini. Di sini bmterlalu banyak kenangan bersamanya, hingga sulit bagi saya untuk kembali bangkit dari semua ini"


Akhirnya Gilang dan Damar saling memaafkan dan mereka hidup dengan tenang bersama dengan orang orang tersayang mereka.


SELESAI

__ADS_1


__ADS_2