
Tepat pukul 00:00 lampu taman di nyalakan kembali.
Gemuruh tepuk tangan mengelilingi mereka berdua, bahkan yang membuat Risa tercengang adalah banyaknya mata media yang hadir dan menyorot aksi romantis mereka...
" Ya Tuhan...." Risa nampak malu melihat semua orang menatap ke arahnya.
" Kejutan....." Datanglah dua sahabat Leo dengan membelah puluhan awak media.
Mereka lolos dengan sangat mudah, karena tentunya semua itu atas kerja sama mereka dan para awak media.
Selama ini Leo terkenal suka mengungkap perasaan di media.
Hingga timbul sebuah ide dari para sahabatnya untuk memberikan sebuah kejutan besar atas usaha Leo dan Cinta diantara mereka ( Leo dan Risa).
" Ternyata ada kalian di balik suksesnya rayuan Leo? Sungguh menyebalkan."
Karena bahagia berlebih, dan juga malu, Risa berpura-pura kesal tapi hatinya bahagia.
Sekilas tidak ada yang aneh bagi seorang wanita di perlakukan seistimewa itu, tapi bagi Risa semua itu adalah tidak wajar dalam kehidupannya.
Dari begitu banyaknya lelaki baru kali ini dia merasa bagai di puja cinta.
Segala kekurangannya mampu di tutupi dengan kesempurnaan Leo.
" Masih ada satu kejutan lagi dari kami..." Dimas menyeringai sambil menunjuk langit.
Semua melihat ke atas, terpana dengan sesuatu yang di suguhkan.
Benar-benar indah.
__ADS_1
Ada banyak bunga bermekaran di langit silih berganti, bermacam-macam warna serta dentuman keras mengiringi gebyar warna warni di langit hitam.
" Leo, aku sungguh tidak menyangka bisa sebahagia ini." Risa memeluk erat kekasihnya.
" Berjanjilah untuk selalu bersama dengan ku apa pun rintangan yang harus kita lalui." Leo meraih wajah Risa.
Menatap dengan penuh makna.
Perlahan Leo mendekatkan bibirnya hingga hampir tidak ada jarak antara bibir keduanya...
Mereka bercumbu di bawah indahnya malam di saksikan puluhan manusia yang mengelilingi mereka berdua.
" Dim, gua mau nangis..." ucap Dimas.
" Jangan nangis gitu dong, gua jadi sedih ni." Dimas dan Jimmy saling berpelukan, tanpa sadar aksi mereka menuai banyak tawa dari orang sekitar.
" Jauh, jauh sana...." Dimas mendorong tubuh Jimmy supaya tubuh mereka tidak saling bersentuhan.
Kembali pada keromantisan Leo...
" Kamu adalah duniaku." Bisik Risa.
Dia sangat malu dengan apa yang baru saja mereka perbuat.
" Kamu pun sama! Sekarang kita harus saling terbuka satu sama lain. Karena aku sudah jatuh dalam cintamu." Tatapan mata Leo meredupkan binar mata Risa.
" Sempurnakan aku dengan kelebihan mu, sehingga aku pantas bersanding dengan kamu." Ucap Risa.
" Kesempurnaan bukan milik ku, melainkan milik cinta kita." Jelas Leo sembari menyapu butiran air mata di pipi Risa.
__ADS_1
Terbawa emosi dan suasana indah malam itu membuat semua mata hampir meloloskan air mata.
" Woy, sampai kapan kalian berdiri dan saling menatap? kita para jomblo juga punya perasaan tau." Ketus Dimas.
" Jomblo? Lo aja kali." Ucap mereka serempak.
" Kenapa jadi gua yang di bully?." lirih Dimas.
" Sorry sob, gua lihat malam ini yang jomblo hanya kamu seorang....hahaha." sambung Leo dengan melempar senyum.
" Ya, deh. gua ngaku kalah." ucap Dimas.
Setelah hampir beberapa saat, mereka memutuskan untuk kembali ke tempat penginapan.
Namun sialnya Dimas dan Jimmy mendapat pesan singkat dari Revaldi.
" Bagaimana ini..." Jimmy menatap Dimas.
" Apa yang bagaimana?." sambung Leo.
Mereka sudah sampai di kamar hotel milik Leo.
Ketiga sahabat berkumpul....
" Tuan muda mau kesini."
" Revaldi?." Tanya Leo.
" Iya..."
__ADS_1
" Biarkan dia tau semua ini. Toh semua ini akan segera di ketahui olehnya..." Jelas Leo tanpa mempermasalahkan semua itu.