
"Saya peringatkan kamu untuk menjauh dari istri saya" Damar mencoba memberi peringatan pada Gilang.
Dengan menyunggingkan senyum di sudut bibirnya, Gilang mendekatkan wajah dengan badan sedikit condong ke depan "Ancaman kamu tidak akan menghentikan saya. Bukankah kamu juga tau saya tidak hanya mencintai Olive tapi saya juga menaruh benih di rahimnya. Sudah jelas kalau saya menang" Bisiknya sambil terus tersenyum puas. Melihat amarah Damar membuatnya begitu senang, sebab merasa berhasil membuat ketenangannya runtuh.
"Tau malu dong kamu(Sambil mendorong badan Damar)laki laki mandul kaya mau masih di pertahankan, padahal tidak akan pernah bisa punya keturunan" Timpal Gilang lagi.
"GILANG....."teriak Damar seketika mengejutkan orang di sekitar, semua mata menatap ke arah mereka berdua.
Damar begitu geram dengan ucapan dan tingkah lalu Gilang. Kedua tangannya mengepel erat setelah tadi mereka adu jotos, memar di wajah mereka masih menyisakan sakit. Tapi kali ini Gilang sungguh keterlaluan, kesabaran Damar mulai hilang kendali. Tanpa rasa bersalah Gilang pun terus melontarkan kata kata monohok bahkan menghina Damar tentang benihnya. Siapa tidak lepas kendali kalau kejantanannya di pertanyakan "Harusnya kamu yang malu karena mengejar cinta dari istri orang. Kamu itu tidak jauh berbeda dari tempat itu" Damar menunjuk sebuah tempat sampah besar di sisi kanan mereka.
__ADS_1
"Apa kamu bilang?" Gilang hendak melayangan tinju tapi Damar menangkisnya. Di saat yang diam mulai bertindak, orang cerdas pun di buatnya kalah. Kediaman seseorang jangan di anggap remeh, sejatinya mereka menyimpan amarah besar.
"Lalu apa bedanya kamu dengan tempat itu, sebersih apa orang mencucinya tapi karena tempat itu memeng untuk sampah, pastilah kotor sama halnya seperti kamu" Damar mendorong Gilang sampai hampir terjatuh di samping tempat sampah. Kedua laki laki tampan itu salang melayangkan tatapan penuh kemurkaan. Peretenhkaran mereka mengundang simpati dari orang sekitar, bahkan pertengkaran itu di saksikan Alisya sendiri. Selepas dari ruangan Olive, dia kembali melihat suaminya beetengkar hebat demi seorang wanita beristri. Betapa sakitnya hati Alisya saat ini, jantungnya berdetak kencang, kaki serasa kebas, dan mata tak berhenti berlinang air mata.
Setelah beberapa saat saling terdiam, Gilang pun bangkit dan kembali mendekati Damar
"Kalau begitu kamu adalah sampah yang tidak bisa di daur ulang lagi, karena kamu tidak di butuhkan. Laki laki mandul seperti kamu tempatnya itu ya tempat sampah" Bisik Gilang sambil mengulas senyum.
"Hey, apa apaan ini" Seorang laki laki turun dari mobilnya kemudian berlari ke arah mereka berdua.
__ADS_1
"Berhenti kalian....." Lantang Laki laki yang berjalan ke arah mereka. Tatapan tajam dan penampilan menawan terpancar dari laki laki itu.
"Om Re...." Segera Gilang melepaskan cengkraman di baju Damar.
"Gilang? ada apa ini, nak" Setelah mendekat dia terkejut melihat anak sahabatnya berulah seperti itu.
"Ada apa ini? kenapa kalian berkelahi" Revaldi menjadi penengah pertengkaran mereka.
"Anda tanya sendiri sama dia. Laki laki perebut istri orang saja bangganya kebangetan" Cetus Damar seraya meninggalkan mereka berdua. Awalny Gilang hendak mengejar Damar, tapi Revaldi menarik lengannya "Ikut saya...." Gilang di bawa ke mobil miliknya,mereka menuju sebuah tempat.
__ADS_1
"Om mau bawa saya kemana?" Tanya Gilang.
Revaldi masih diam tak berkata, ia fokus mengendarai mobil dengan sati tangan memegang ponsel, sepertinya sedang membalas pesan atau mengirim pesan kepada seseorang.