
Dimas pun tak ingin mengisahkan tentang masa lalu antara mereka berdua, Dia memilih untuk diam, karena perpisahan di antara mereka adalah satu pukulan berat bagi Lily.
Dimas memilih lepas darinya, untuk meyakinkan diri atas cintanya pada Alexa.
Tanpa di sadari, Dia telah menyakiti dua hati.
" Kamu tidak ingin bertanya tentang anak ku?" Demi memecah keheningan, Lily membuat pertanyaan yang membuat Dimas sedikit kebingungan.
" Maksud kamu?"
" Siapa tau kamu ingin mendengar siapa ayah dari putra ku." Dengan wajah manisnya, Lily tersenyum dengan sesekali menelan ludah kepahitan. Ada satu rahasia dalam hidupnya yang sudah lama ingin dia ungkap pada Dimas, namun sudah sekian lamanya mencari, Lily tidak bisa menemukannya.
" Memang siapa ayahnya?" Dengan wajah tidak ingin tau, Dimas segera berdiri.
Apa hubungannya dengan ku? pertanyaan macam apa itu?
" Sebenarnya, enam tahun lalu, saat kamu memutuskan untuk pergi, saat itulah aku ingin mengatakan padamu, jika aku sedang mengandung darah daging mu."
Ucapan Lily bagaikan petir di siang hari...
__ADS_1
" Apa? jangan bercanda kamu..." Sontak saja Dimas terkejut, dia pun kembali duduk.
Saat ini mereka saling berhadapan, saling menatap, saling mencari kebenaran dari tatapan mata satu sama lain.
" Aku sengaja membeli rumah tepat di sebelah kamu ini. Karena aku ingin membuat Gilang bahagia bisa bertemu dengan Ayah kandungnya. Taukah kamu, seberapa menderitanya Gilang selama ini? Setiap saat dalam hidupnya, tidak ada satu detik pun untuk tidak menanyakan Ayahnya. Dan satu hal yang menyiksaku selama ini, adalah aku tidak bisa mengatakan siapa Ayahnya, dimana tempat tinggalnya. Sampai suatu hari, aku mendengar bahwa kamu ada di kota ini. Tentu saja mencari informasi tentang kebenarannya, sehingga aku kerap kali mondar-mandir di sini untuk meyakinkan semuanya, pada akhirnya aku melihat mu dan segera aku mencari rumah di sekitar sini." Jelas Lily.
" Tapi aku tidak percaya." Dengan kasarnya, Dimas mencengkeram lengan Lily.
" Jangan bicara omong kosong di hadapan ku."
Ucapan Dimas sangat menyakiti hati Lily, hingga air mata pun tidak mampu di bendung.
" Terserah jika kamu tidak percaya padaku." Segera Lily melepaskan diri dari Dimas, lalu berlari keluar dari pekarangan rumah Dimas.
Dalam dirinya ada rasa sakit, namun dia belum yakin atas ucapan mantan kekasihnya tersebut.
" Tidak, itu semua tidak mungkin. Aku harus mencari kebenarannya" Dengan menggeleng kepala Dia pun berlari mengejar Lily.
" Lily, tunggu." Dengan cepat, Dimas mampu meraih dirinya. " Aku ingin melakukan Tes DNA."
__ADS_1
" Jika itu bisa meyakinkan kamu, maka silahkan."
Tak berapa lama kemudian Lily membawa putranya keluar menemui Dimas. Gilang merasa senang bisa bersama dengan Dimas, entah itu ikatan batin, atau hanya kedekatan biasa. " Paman, duduk."
Dimas pun duduk. Dilihatnya wajah anak polos itu...
" Gilang, bolehkan paman mengajak kamu berjalan-jalan?" Dengan meraih tangan Gilang, Dimas melebarkan senyum.
Gilang melempar pandang ke arah Lily...
" Mami..." Lirihnya, seolah dia meminta ijin.
Lily mengangguk.
" Iya, sayang. Kita ikut paman dulu ya." Dengan mengusap kepala putranya, Lily menatap mata Dimas. " Aku siap-siap dulu, baru pergi bersama."
" Oke."
Lily masuk ke dalam rumah. Sedangkan Dimas dan Gilang masih duduk di depan rumah.
__ADS_1
" Paman....memangnya kita mau kemana?" Tanya Gilang polos.
Dimas meminta Gilang duduk di pangkuannya. Ada satu perasaan hangat yang baru saja Dimas rasakan, senyuman anak itu, sama persis dengannya.