
Sebelum Revaldi tau pembicaraan mereka, segera Risa mendekati Criztine...
" Biar Aku saja jaga Criztine. Kamu bisa duduk disana temani mereka berdua..." Risa menunjuk meja khusus untuk Revaldi dan dua sahabatnya. Meja di siapkan untuk menghormati persahabatan mereka juga karena Revaldi adalah tamu istimewa hari ini.
" Iya, Mas. Biar Risa bersama ku. Lagi pula ini pesta pernikahan Dimas jadi kamu harus ada untuknya. Aku bisa jaga diri kok." Sambung Criztine sembari menepuk lengan suaminya. Perhatian Revaldi membuat Risa menelan ludah, kembali mengingat masa dimana dia pernah di posisi Criztine. Namun itu hanya ingatan sesaat bukan keinginan memiliki lagi. Karena baginya Leo jauh lebih sempurna dari Revaldi. Watak keduanya saling bertolak belakang sehingga Risa dapat menyimpulkan bahwa Leo memiliki karakter sesuai dengan kriterianya. Leo selalu bersikap lembut, ramah, penyayang. Sedangkan Revaldi memiliki sifat angkuh, kasar, cenderung tidak punya hati, itu sebelum Revaldi menemukan Criztine. Seorang wanita berhati malaikat, merubahnya menjadi seperti sekarang ini.
" Kalau begitu titip Istri dan anak Gua, Ya?" Ucap Revaldi kepada Risa.
" Oke."
Setelah beberapa saat kemudian Revaldi dan kedua sahabatnya telah duduk di meja khusus, urutan terdepan. Mereka saling bercengkrama satu dengan yang lain, sebab sudah dua bulan lebih tidak berjumpa.
" Sob, kapan nyusul?" Revaldi menepuk pundak Jimmy dan juga Leo. Kebetulan mereka berdua duduk di samping kanan dan kiri Revaldi, sehingga mudah bagi Revaldi menepuk pundak keduanya.
" Mau nunggu Gua ampe jadi kakek baru kalian nikah?"
__ADS_1
" Gua tinggal nunggu waktu aja. Kalau Jimmy masih nunggu restu dari Lo, Tuh..." Leo mengedipkan mata, memberi kode rahasia pada Revaldi.
" Apaan sih..."
Revaldi melihat wajah Jimmy sedikit gugup namun berusaha di tutupi dengan wajah sok juteknya.
" Memangnya kurang restu apa lagi coba? Selama ini Gua diem berarti sudah jelas dong, Gua memberi lampu kuning sama dia." Jelas Revaldi.
Jimmy tadinya hanya diam, setelah mendengar ucapannya segera dia memasang wajah ceria penuh senyum.
" Udah deh, nggak usah tanya lagi. Udah jelas kan? pura-pura sok nggak ngerti.." Sambung Leo sembari melempar satu batang rokok kepadanya.
" Sudah, sudah. Malu di lihat Dimas, tuh..."
Mereka berdua segera melihat Dimas yang sedari tadi menatap ke arah mereka. Dari kejauhan Dimas berucap tanpa bersuara hanya menggerakkan mulutnya dan satu tangan memberi isyarat.
__ADS_1
" Dia kenapa, gagu kali, ya?" Banyolan Leo mengundang tawa dari kedua sahabatnya. Bahkan Dimas pun ikut tertawa, karena dia tau pasti Leo menggodanya sehingga mereka berdua tertawa terbahak seperti itu.
" Sorry, Dim." Jimmy menggenggam satu botol wine lalu di angkat sedikit ke atas, memamerkan kebersamaan mereka bertiga.
Sial, mereka minum tanpa nunggu Gua...
Dimas terus menggerutu kesal, karena tidak bisa bersama dengan para sahabatnya. Meski demikian Dimas mendapat kebahagiaan berkali lipat. Pernikahan serta berkumpulnya para sahabat membuat dia tersenyum. Meski dalam hatinya pedih karena sang ibunda tidak hadir.
Ada beberapa hal sengaja di sembunyikan untuk membuat yang lainnya tidak terluka terlalu dalam, dialah Gilang, putra kandung Dimas.
Dengan tidak melibatkan ibundanya, Dimas menahan gejolak keraguan di hati Gea. Tak ingin lagi kehilangan orang terkasih. Cukup sudah penderitaan juga siksaan untuk wanita seperti Gea, Kini tinggal menunggu hari bahagia.
" Maafkan, aku Ma." Lirihnya tanpa terdengar oleh siapa pun, termasuk Gea.
Setelah acara selesai, Gea mendekati Criztine yang saat itu tengah duduk berbincang dengan Risa. " Boleh saya bicara sebentar?"
__ADS_1
Criztine menatap wajah Gea dengan melebarkan senyum. Dendam dalam hatinya menghilang seiring berjalannya waktu.