
Tiba saat dimana Riko beserta anak dan menantu berkunjung ke tempat Tasya untuk menyampaikan niat baik mereka.
"Tasya tujuan kami kemari adalah ingin menyampaikan beberapa hal yang sangat penting...." ucap Riko dengan menatap wajah sendu Tasya yang kehilangan semangat hidup.
"Katakanlah..." lirih Tasya dengan memaksakan senyum di bibir.
"Pertama, kami datang kemari untuk menyampaikan wasiat dari almarhum suami kamu. yang dimana Rikardo menyuruhku untuk menjaga kamu dan juga April. yang ke dua aku ingin meminang kamu di depan semua anak-anak kita. bersediakah kamu menerima ku untuk menjadi pendamping mu dengan sisa umur yang aku miliki ini?.." ucap Riko.
Tasya diam membisu, dia terkejut dengan lamaran yang begitu mendadak bahkan dirinya masih berduka atas kepergian sang suami.
"Mami jangan kecewakan Ayah. beliau ingin mami dan papa bersatu, mungkin tidak mudah bagi mami untuk menerima semua ini dengan waktu yang singkat, tapi amanah dari Ayah adalah yang terpenting..." sambung Revaldi.
"Jika memang ini amanah dari suami ku maka aku akan menerima lamaran kamu mas, tapi ada satu syarat yang harus kamu penuhi, apakah kamu bersedia dengan pengajuan syarat ku ini?" ucap Tasya.
"Katakan aku akan berusaha memenuhi semua keinginan kamu..." jawab Riko.
"Aku mohon maaf jika syarat ini mungkin akan membebani kamu, dan aku ingin foto pernikahan aku dan mas Rikardo ada di kamar jadi tolong jangan hilangkan semua kenangan antara aku dan dia. karna dia aku bisa jadi kuat dan bertahan sampai saat ini, karna aku tidak ingin melupakan cinta dari lelaki yang sudah berjuang demi diriku..." Air mata yang berusaha Tasya bendung akhirnya Tumpah juga.
__ADS_1
"Jika itu yang kamu minta aku akan menerima semua syarat dari kamu Sya, aku juga tidak keberatan dengan semua ini. karna aku juga sadar Rikardo sangat berharga untuk kehidupan kita." jelas Riko dengan meraih tangan Tasya.
"Mami bagaimana kalau kita berkunjung ke makam Ayah sekalian mendoakan beliau..." sambung Revaldi.
"Tapi adik mu sebentar lagi pulang sekolah, kasihan dia jika pulang tidak ada orang..." lirih Tasya dengan menyeka air mata.
"Begini saja mas biar aku yang jaga rumah kalian ke makam saja, toh aku merasa lemas dan sedikit mual..." ucap Criztine dengan mengusap perut.
"Kamu kenapa sayang? kita ke dokter ya?." Revaldi panik dengan keluhan sang istri.
"Tidak perlu mas, aku hanya butuh istirahat..." lirih Criztine dengan melebarkan senyuman manis.
"Iya pa, Criztine yakin. kalian pergi saja biar April aku yang jemput ke sekolah..." ucap Criztine.
"Kalau begitu biar kamu sama pak supir aja ya sayang, biar kita pakai mobil Ayah saja..." ucap Revaldi.
Criztine mengangguk.
__ADS_1
"Kalau begitu kami pergi dulu ya nak, maaf mami merepotkan kamu..." ucap Tasya dengan mengusap tangan Criztine.
"Criztine tidak merasa repot. malah Criztine senang bisa sedikit membantu..." jelas Criztine.
"Kalau begitu kami pergi dulu sayang, kamu hati-hati di jalan ya...emuah." Revaldi mencium kening sang istri dan tak lupa dia juga mengusap perut Criztine.
"Iya mas, hati-hati di jalan ya..." Criztine melambaikan tangan.
Mereka pun melambaikan tangan pada Criztine sebelum berangkat ke makam Rikardo.
tak perlu waktu lama mereka pun sampai di tanah makam dimana Rikardo di kebumikan....
mereka menyampaikan niat yang baik dan ingin melaksanakan amanah dari Rikardo.
Tasya menangis di atas makam suami nya yang sampai tutup usia pun Rikardo masih memikirkan kebahagiaan tentang dirinya dan anak-anak nya.
"Mas terima kasih dengan semua yang sudah kamu siap kan untuk diriku, aku yakin pasti saat ini kamu sedang bahagia di alam surga, semoga di kehidupan selanjutnya kita akan di persatukan kembali...." Lirih Tasya dengan isak tangis.
__ADS_1
Kepergian orang yang sangat berharga akan meninggalkan sebuah luka yang mendalam.
namun di kehidupan nya pernah melukis indah cinta di dalam hati mereka yang di tinggalkan, sehingga luka itu kini terbalut dengan lukisan cinta yang indah...